Begini Komentar Dewa Aji Tapakan Setelah Jalani Ritual Dikubur Hidup-hidup
Dewa Sukaryanida, seorang kerabat dari Dewa Aji Tapakan mengakui jika kerabatnya tersebut awalnya adalah sosok pria yang sangat penakut. Bahkan, ...
BANGKAPOS.COM, SEMARAPURA -- Dewa Aji Tapakan yang berperan sebagai layon dalam ritual Calonarang di Klungkung berasal dari keluarga besar Dewa Kedisan Maha Gotra Taman Bali.
Dewa Sukaryanida, seorang kerabat dari Dewa Aji Tapakan mengakui jika kerabatnya tersebut awalnya adalah sosok pria yang sangat penakut.
Bahkan, hanya untuk buang air kecil terkadang Dewa Aji Tapakan minta diantar oleh istrinya.
"Sifat dasar atau background dari Dewa Aji Tapakan sebenarnya penakut. Kami juga awalnya, tidak menyangka ia berani ngayah sebagai layon seperti ini," ujar Dewa Sukaryanida.
Pihak keluarga besar sangat bersyukur segala prosesi Calonarang Watangan Mependem di Desa Getakan Klungkung, dapat berjalan dengan lancar dan aman.
Ini merupakan kali pertama digelar Calonarang dengan bangke-bangkean yang dikubur.
Sementara itu tidak banyak hal yang diungkapkan Dewa Aji Tapakan pasca ritual sakral tersebut.
Pria berusia 55 tahun ini tidak memberikan pernyataan gamblang, saat ditanya apakah selanjutnya akan kembali ngayah dan melakoni peran sebagai layon di tahun berikutnya.
Ia hanya tersenyum sembari berucap jika dirinya saat ngayah selalu didasari dengan tulus ikhlas.
"Jika kehendak Ida Sesuhunan, saya siap ngayah dengan ikhlas," jelasnya.
Dewa Aji Tapakan sebelum menjalani prosesi penguburan, Kamis (13/10/2016) malam.
Sebelumnya, Dewa Aji Tapakan (55) yang menjadi layon atau watangan (bangke matah) mulai menjalani prosesi seda (meninggal) dan dimandikan layaknya jenazah.
Suasana mistis semakin terasa saat memasuki pukul 23.00 Wita, Kamis (13/10/2016). Sejumlah krama Banjar Adat Getakan kembali kerauhan.
Kamis (13/10/2016) atau Wraspati Umanis Pahang menjadi hari yang istimewa bagi warga Banjar Adat Getakan, Banjarangkan, Klungkung, Bali.
Saat itu, Banjar Adat Getakan menggelar pertunjukan Calonarang Watangan Mependem atau bangke hidup dikubur di setra.
Sejak pagi hari, krama Banjar Adat Getakan sudah mempersiapkan berbagai sarana upakara untuk menunjang ritual sakral tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/dewa-aji-tapakan-tribun-balieka-mita-suputra_20161013_172618.jpg)