Begini Komentar Dewa Aji Tapakan Setelah Jalani Ritual Dikubur Hidup-hidup
Dewa Sukaryanida, seorang kerabat dari Dewa Aji Tapakan mengakui jika kerabatnya tersebut awalnya adalah sosok pria yang sangat penakut. Bahkan, ...
Meskipun akan dikubur, tidak tampak raut ketakutan atau kekhawatiran dari wajahnya.
"Beliau (Dewa Aji Tapakan) sudah siap jasmani dan rohani untuk ngayah. Kita serahkan semuanya pada Ida Sesuhunan, karena beliaulah yang berkehendak," ujar Dewa Sukaryanida, kerabat dari Dewa Aji Tapakan.
Tepat pukul 18.50 Wita, prosesi di setra tersebut selesai.
Petapakan Ratu Mas Bukit Jati, Ratu Mas Dalem Lingsir, Ratu Mas Klungkung, dan Petapakan Barong Ket kembali memargi menuju Balai Banjar Adat Getakan.
Pementasan Calonarang mependem dimulai pukul 20.00 Wita.
Penonton pun membeludak. Calonarang Watangan Mependem di Banjar Adat Getakan ini benar-benar mampu menarik perhatian masyarakat Bali.
Buktinya, penonton yang hadir bukan hanya dari Klungkung tapi hampir seluruh Bali.
Seperti Ketut Wiryanata bersama istrinya, Ni Luh Warti.
Layon Dewa Aji Tapakan diarak menuju Setra Getakan, Kamis (13/10/2016).
Warga Penebel Tabanan ini rela jauh-jauh datang ke Desa Getakan untuk membayar rasa penasaran mereka menonton Calonarang dengan layon mependem.
"Saya dan istri saya sudah dari jam lima sore sampai ke Getakan. Kami memang senang menonton Calonarang. Calonarang di sini unik. Baru pertama kalinya kami tahu ada Calonarang dengan layonnya dikubur, jadi kami luangkan waktu untuk nonton," ujar Wiryanata yang mengaku datang ke Klungkung dengan mengendarai sepeda motor.
Ada beberapa warga dari Karangasem dan Bangli yang juga datang untuk menonton.
"Penasaran saja, pingin nonton. Benar atau tidak dikubur," ujar Wayan Rimpen, warga Tembuku Bangli.
Sekitar pukul 23.00, Dewa Aji Tapakan pun melalui proses ngebah atau istilahnya seda di Pura Pusat Sari, yang letaknya di utara Banjar Adat Getakan.
Setelah prosesi ngebah, layon diarak ke catus pata Banjar Adat Getakan, lalu dilanjutkan dengan prosesi mesiram atau memandikan jenazah di perempatan Getakan.
Setelah mesiram, layon disemayamkan di Bale Dangin dilanjutkan dengan diberi sesajenan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/dewa-aji-tapakan-tribun-balieka-mita-suputra_20161013_172618.jpg)