Mengejutkan! Begini Nasib Pria Asal Pangkalpinang yang Pernah Pidato di Markas PBB
Apa kabar Muhammad Robby Saputra, alumni Universitas Al Ahzar Jakarta, jurusan teknik elektro yang pernah berpidato dalam forum PBB
Penulis: Alza Munzi | Editor: Alza Munzi
Dia baru mengetik di laptop pinjaman ketika teman-temannya tidur.
Kendala-kendala itu tidak membuat Robby putus asa, justru semakin menebal semangat perjuangannya menggapai mimpi-mimpi.
Berjualan Pempek
Satu jam sebelum berangkat ke Amerika Serikat, Robby masih sempat-sempatnya mencetak sendiri spanduk berlambang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tempat kelahirannya.
Berkat Robby, spanduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkibar di dalam Markas PBB, Amerika Serikat. Mungkin hanya Robby, satu-satunya orang Babel yang mengibarkan spanduk itu di Markas PBB dalam sejarah berdirinya provinsi ini.
Meski serba pas-pasan tak membuat Robby patah arang. Saat kuliah di Universitas Al Ahzar Jakarta, selama dua tahun dia berjualan pempek-pempek di SMPN 239 dan SDN 1 Lenteng Agung.
Dia juga bekerja paruh waktu mengajar Fisika dan Matematika di sebuah bimbel. Robby mengaku beruntung tinggal di asrama ISBA Jaya Jakarta karena tak perlu membayar sewa tempat tinggal.
Karena kebaikan dan ketekunannya pula, Robby merasa ada kejadian-kejadian tak terduga menolong dirinya.
Ketika hendak pulang dari Amerika Serikat, pihak Kemenpora membelinya tiket dua kali transit di Jerman, yang mewajibkan penumpang mengantongi visa.
Kebetulan saat di bandara, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sering memanggilnya "Orang Babel", dan ternyata panggilan itu terdengar oleh Indra Jaya (52), PNS Kedubes RI di Amerika Serikat.
"Woi jok, ka orang Bangka ok. Ade ape." Begitu sapaan Indra, warga Kampung Dalam, Pangkalpinang yang beristrikan orang dari Desa Belilik, Bangka Tengah.
Robby sempat menginap semalam di rumah Indra yang sudah 27 tahun di Amerika Serikat. Robby juga sempat mencicipi lempah kuning buatan istri Indra dan mengunyah nasi setelah sepuluh hari sebelumnya makan roti.
Indra Jaya pula yang mengganti ongkos tiket pesawat di Jerman sehingga hanya perlu satu kali transit. Jika tidak ada Indra, bukan perkara mudah mengurus persoalan tersebut di bandara sekelas Jerman.
Selama setahun ini, Robby dan puluhan mahasiswa berprestasi lainnya dibina pihak Kedubes AS untuk dididik menjadi wirausahawan. Kesempatan inilah yang akan diambil Robby setamat kuliah nanti.
"Saya ingin berwirausaha, aktif di sosial kreatif dan saya tidak bercita-cita menjadi pegawai," ujarnya.
Akhirnya, pada 2017 ini, impian pemuda Airitam yang diucapkannya bertahun-tahun lalu, sedikit demi sedikit mulai terwujud.
Menjadi seorang pengusaha adalah cita-citanya.
Semoga tercapai, Robby!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/robby_20170226_081357.jpg)