Kekurangan Pemeran Pria, Produser 'Film Panas' Incar Para Pria dari 2 Negara Ini
Karena itu, satu perusahaan produksi film panas rela terbang ke negara tetangga Indonesia ini demi merekrut
Tiga orang ditangkap atas kasus itu dan asosiasi perfilman di Jepang meminta maaf. Namun, perusahaan hanya diwajibkan membayar ganti rugi sebesar 240 ribu yen atau sekitar Rp 300 juta.
Sebuah investigasi yang dilakukan AFP di Jepang menyebutkan bahwa banyak artis yang tertipu oleh para agency.
Industri film porno di Jepang sangat rapi, bekerja seperti intelijen.
Mereka memburu sejumlah perempuan muda yang mengalami masalah di seluruh daerah: umumnya masalah keuangan.
Para kaki-tangan agen tersebut kemudian memperkenalkan diri dan mengajak waniota itu makan- makan serta membelikan sejumlah barang.
Bila memiliki utang, utangnya pun dilunasi.
Setelah itu, bisa diduga, perempuan tersebut masuk perangkap para agen.
Wanita lain yang diwawancarai AFP juga mengaku tertipu karena sebuah agen berjanji untuk membantunya menjadi penyanyi.
Awalnya memang ditampilkan di sebuah pub kecil, kemudian terikat kontrak yang menjebaknya untuk pekerjaan.
"Saya tidak punya pilihan," kata wanita berusia 26 tahun ini, "Ketika saya lakukan, itu benar-benar sakit. Tapi tim produksi tidak akan berhenti sekalipun."
Sebuah LSM di Jepang, Lighthouse, sangat aktif mendesak pemerintah untuk menghentikan praktik-praktik agensi yang menjurus pada perdagangan manusia itu.
Mereka mengatakan, lebih dari 60 aktris mencoba melarikan diri bisnis ini pada paruh pertama 2016, jauh di atas tahun-tahun sebelumnya.
"Kami pikir, ini hanyalah puncak gunung es," kata juru bicara Lighthouse, Aiki Segawa.
"Banyak korban merasa bersalah (karena kontrak yang ditandatanganinya). Kebanyakan wanita muda usia 18 hingga 25.
Mereka hanya sedikit pengetahuan tentang hukum dan sulit untuk membuktikan di pengadilan."
Sebuah organisasi hak asasi Jepang menyebutkan, seorang wanita sampai melakukan operasi plastik berulang kali untuk lari dari masa lalunya.
Sebuah LSM berencana untuk menyewa pengacara agar distribusi film yang diperankannya tidak diedarkan lagi. Namun, sebelum itu terwujud, perempuan ini gantung diri.
Mariko Kawana, mantan bintang porno yang kini menjalani hidupnya sebagai penulis novel, ikut aktif untuk melindungi hak-hak pekerja di industri ini.
Ia bergabung dengan sejumlah aktivis hak asasi agar pemerintah menerapkan aturan yang lebih tegas terhadap transparansi kontrak.
Termasuk di antaranya, setiap kontrak harus melibatkan pengacara, agar hak-hak aktris tidak diabaikan. (Tribunstyle/tribunbatam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/video-porno_20161006_071109.jpg)