Kamis, 7 Mei 2026

Mitos Buaya Bangka dan Pantangan yang Tak Boleh Dianggap Sepele! Sang Predator Kini Ganas di Laut

Meski kisah kemunculan buaya, cukup sering terdengar, namun sang predator tidak sampai menggigit manusia.

Tayang:
Penulis: Alza Munzi | Editor: Alza Munzi
IST/Remi Anggota Satpol PP Pemkab Bangka
Seekor buaya ditangkap warga Dusun Buhir Desa Berbura dan Kampung Baru (Desa Pangkalniur), di air Ngelandut Desa Bernai Kecamatan Riausilip, Rabu (3/5/2017). 

Di aliran Sungai Baturusa ada kepercayaan masyarakat sejak dulu sungai itu dikuasai buaya gaib bernama Raden Kuning dan Raden Hitam.

Terlepas dari rusaknya alam dan semakin berkurangnya mangsa buaya sehingga memilih memangsa manusia.

Sebagian masyarakat Bangka percaya buaya tidak akan mengganggu manusia kecuali melanggar pantangan yang ada, salah satunya disebut kepunan.

Untuk kepunan ini secara umum adalah orang yang ditawari sesuatu makanan atau minuman tetapi menolak mencicipinya.

Ada kepercayaan setiap ditawari makanan dan minuman terutama minuman kopi sangat pantang untuk menolaknya. 

Apalagi orang yang bersangkutan akan berangkat ke hutan atau ke sungai.

Untuk penawar pantangan ini setidaknya orang yang ditawari mencolek dengan ujung jari makanan yang ditawarkan atau dalam bahasa Bangka disebut Malet.

Baca: Tak Hanya Ngaku Intim dengan Wali Kota Kendari, Destiara Juga Pernah Kirim Ini untuk Ahok

Berikut makanan dan minuman sangat pantang ditolak dalam mitos kepunan dan malet masyarakat Bangka:

1. Kopi, terutama kopi hitam.

2. Nasi, bisa meliputi nasi bubur, nasi goreng dan semacamnya.

3. Makanan yang terbuat dari beras ketan dan berbagai hasil pertanian yang dihasilkan sendiri.

4. Pantang menyebut ayam goreng saat berada di sungai.

Korban buaya

1. Awal Juli lalu, warga Kecamatan Gantung Belitung Timur, Anto (30) menderita luka-luka.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved