Lihat Tempat Indah hingga Bangkit saat Jenazahnya Dimandikan, Inilah Kisah Kakek 3 Kali Mati Suri

Waktu itu Giri diduga meninggal oleh orang-orang sekitarnya tanpa alasan yang jelas. Saat itu, Giri mengalami mimpi yang aneh.

Lihat Tempat Indah hingga Bangkit saat Jenazahnya Dimandikan, Inilah Kisah Kakek 3 Kali Mati Suri
TribunJakarta.com/Rafdi Ghufran
Muhammad Tubagus Hasagiri (98) saat ditemui TribunJakarta.com di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, Jumat (25/5/2018) . 

Istilah Near Death Experience (NDE) atau mati suri muncul pada tahun 1975 ketika psikolog bernama Raymond Moody menggunakannya untuk menggambarkan apa yang disebut dengan ‘menengok dunia lain’.

Kini, cerita mati suri hampir bersifat klise.

Baca: Cara Mudah Memasukkan Anggota Baru ke Grup WhatsApp Tanpa Bantuan Admin

Cahaya terang, terowongan, dan emosi positif sudah menjadi hal yang biasa didengar mengenai pengalaman mati suri.

Tahapan ini pun dianggap sebagai gambaran singkat dari kehidupan setelah kematian.

Mempelajari fenomena ini begitu menarik sekaligus rumit.

Hal itu disebabkan karena sulitnya memisahkan bias budaya dari proses neurologis dan tantangan etika dalam mencatat data fisiologis pada saat kritis.

Yang lebih buruk lagi, bidang penelitian ini nyaris berkaitan dengan penelitian ‘abal-abal’ yang sering muncul.

Baca: Riko Simanjuntak Tak Ingin Sia-siakan Kepercayaan Luis Milla untuk Bela Timnas U-23 Indonesia

Sehingga, sulit untuk mengetahui di mana kinerja otak akan berakhir dan pseudosains—tipuan yang dianggap ilmiah—dimulai.

Dari keseluruhan studi mengenai mati suri, sekitar 4-15 persen penduduk dunia telah mengalami pengalaman tersebut.

Bahkan, beberapa dari mereka melaporkan bahwa ‘pengalaman di akhirat’ itu tidak harus melalui mati suri.

Menurut mereka, hal ini lebih berkaitan dengan respons neurologis terhadap stres daripada kematian itu sendiri.

Baca: Inilah Trio Penyerang Cepat Andalan Pelatih Brasil untuk Piala Dunia 2018

Sesungguhnya, ini bukanlah penelitian pertama mengenai mati suri.

Sebelumnya, sebuah studi oleh ahli saraf, Sam Parnia, menemukan tujuh kategori ingatan selama NDE.

Sedangkan dalam studi yang baru, peneliti mengungkap pengamatan spesifik yang diingat oleh para responden dan mencatat kronologi mati suri tersebut.

Penelitian ini pun dipublikasikan di Frontiers in Human Neuroscience.

Baca: Formasi Pemain Real Madrid Vs Liverpool di Final Liga Champions Bocor ke Publik

“Tujuan penelitian kami adalah untuk menyelidiki distribusi frekuensi dari keistimewaan ini, baik secara global maupun narasi, serta urutan temporalitas yang paling sering dilaporkan dari keistimewaan pengalaman yang berbeda,” kata Charlotte Martial, peneliti dari University of Liège.

Dari seluruh responden, 80 persen merasakan kedamaian, 69 persen melihat cahaya yang terang, dan 64 persen menemui ‘sosok’ lain.

Hanya 5 persen yang merasakan ‘berpikir cepat’ dan 4 persen menggambarkan apa yang disebut sebagai penglihatan prekognitif—penglihatan masa depan.

Baca: Tak Lagi Eksis, Begini Nasib Duo Yangseku-Adik Pasha Ungu setelah Menikah, Penampilannya Beda Banget

Dari segi kronologi, 22 persen responden mengaku telah mengalami pemisahan roh dari tubuh, diikuti dengan menyusuri terowongan, melihat cahaya terang, dan merasakan kedamaian.

Sepertiga dari mereka mengalami sensasi pemisahan roh dan akhirnya kembali lagi ke tubuh.

“Ini menunjukkan bahwa mati suri tampaknya diawali oleh pemisahan roh dari tubuh, dan berakhir ketika roh kembali ke dalam tubuh,” ucap Martial.

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian semacam ini.

Responden dipilih berdasarkan kemauan mereka sendiri.

Baca: Roy Kiyoshi Ramal Raffi Ahmad Bakal Jadi Duda, Ayu Ting Ting Tampakkan Ekspresi Puas Sembari Tertawa

Responden yang kurang nyaman menceritakan pengalamannya tidak dilibatkan dalam survei ini.

Selain itu, semua responden menggunakan bahasa Prancis.

Itu berarti, sulit mengetahui seberapa besar pengaruh latar belakang budaya terhadap pengalaman mereka.

Jika penelitian seperti ini direplikasi secara luas di populasi lain, hal itu dapat membantu menyoroti aspek fenomena mati suri yang biasa terjadi di sekitar kita.

“Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi perbedaan dan tingkat pengalaman responden yang berkaitan dengan harapan dan latar belakang budaya mereka. Mekanisme neurofisiologis yang mendasari pengalaman mati suri juga perlu untuk diselidiki,” jelas Martial.(Tribun Jatim/Ani Susanti)

Editor: fitriadi
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved