Formalin, Pengawet Mayat Sejak Zaman Firaun yang Bisa Bikin Orang Sehat Cepat Jadi Mayat
Riwayat formaldehida mulai menjadi runyam ketika ia dipakai sebagai pengawet bahan makanan karena harganya murah.
Popularitasnya semakin menanjak ketika para ahli anatomi mengetahui manfaat CH2O sebagai pengawet mayat dengan cara disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri.
Penemuan ini sekaligus memudarkan pamor minyak tetumbuhan, garam merkuri, dan arsenik yang biasa dipakai sebagai pengawet mayat sejak zaman Firaun.
Senyawa itu pun lazim dipakai untuk mengawetkan jenazah serdadu yang gugur di pertempuran.
Tujuannya agar jasadnya tetap utuh ketika dibawa pulang ke tempat asalnya.
Citra formaldehida lalu berubah total pada 1910 ketika ilmuwan Belgia, Leo H. Baekeland, berhasil membuat plastik sintetis dengan bahan baku formaldehida dan fenol.
Bahan plastik yang kuat ini ia patenkan dengan nama Bakelite. Selama tiga dasawarsa, Bakelite merajai industri barang-barang berbahan plastik.
Sejak penemuan itu, para industriawan berlomba-lomba membuat plastik jenis baru berbahan dasar CH2O.
Salah satunya yang terkenal adalah plastik sintetis yang terbuat dari formaldehid dan melamin, yang ditemukan sekitar tahun 1930-an.
Baca: Polisi Temukan 5 Fakta Meninggalnya Eril Dardak Adik Bupati Emil Dardak
Karena sifatnya yang tahan panas dan tampilannya yang mirip porselen, bahan ini banyak dipakai untuk membuat alat-alat rumah tangga.
Penemuan demi penemuan semakin melengkapi manfaatnya buat umat manusia.
Hingga saat ini formaldehida dipakai di hampir semua barang keperluan sehari-hari, mulai dari plastik, kaca, lem, cat, pupuk, penyamak kulit, pengawet kayu, pengawet vaksin, obat penyakit kulit, film kamera, pewarna, hingga pasta gigi.
Riwayat formaldehida mulai menjadi runyam ketika ia dipakai sebagai pengawet bahan makanan karena harganya murah.
Di Indonesia bahan pengawet jenazah ini sering dijumpai di dalam tahu, ikan, mi basah, dan daging.
Baca: Tuduh TNI-Polri Pakai Bom Udara, KKB Egianus Kogeya Merengek Minta PBB Kirim Pasukan ke Papua
Karena sifatnya yang toksik, semua organisasi kesehatan di dunia melarang pemakaian formaldehida dalam produk makanan.
Para dokter yakin, paparan formalin dalam jangka panjang bukan hanya tidak mengawetkan manusia, tapi juga bisa mempercepat proses manusia menjadi mayat. (Dari pelbagai sumber/Emshol, seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Februari 2006)
Artikel ini telah dimuat di intisari.grid.id berjudul Formalin: Pengawet Mayat yang Jika ‘Salah Tempat’ Malah Mempercepat Manusia Jadi Mayat