Advetorial

Melestarikan Budaya dan Adat Istiadat di Desa Ranggi Asam

PESTA adat sunatan massal kembali diselenggarakan di Desa Ranggi Asam, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat

Melestarikan Budaya dan Adat Istiadat di Desa Ranggi Asam
ist/Melestarikan Budaya dan Adat Istiadat di Desa Ranggi Asam
PESTA adat sunatan massal kembali diselenggarakan di Desa Ranggi Asam, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat. Proses pesta adat sunatan massal ke-149 bertema “Mari Lestarikan Budaya Sunatan Massal dengan Kebersamaan Kita Satukan Tekad dengan Gerakan Semangat Persatuan Gotong Royong Kampoeng Ranggi” ini berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu (6/7) dan puncaknya pada Minggu (7/7) 

BANGKAPOS.COM-- PESTA adat sunatan massal kembali diselenggarakan di Desa Ranggi Asam, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat. Proses pesta adat sunatan massal ke-149 bertema “Mari Lestarikan Budaya Sunatan Massal dengan Kebersamaan Kita Satukan Tekad dengan Gerakan Semangat Persatuan Gotong Royong Kampoeng Ranggi” ini berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu (6/7/2019) dan puncaknya pada Minggu (7/7/2019).

Hadir pula pada kesempatan tersebut Kepala Biro Kesra Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Asyraf Surya­din, Ketua DPRD Bangka Barat Samsir, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat Suwito, Kepala Dinas Sosial dan Pemdes Bangka Barat Suradi, Kasi PPD Kecamatan Jebus Ahmad Supriyanto, Kapolsek Jebus AKP M Saleh, Sekcam Parit Tiga Zulian Habson, Danramil diwakili Babinsa Samsul, dan perwakilan desa dari Kecamatan Jebus.

Tradisi yang diselenggarakan sejak tahun 1700-an tersebut saat ini sudah menjadi agenda rutin di Desa Ranggi Asam. Hidangan wajib yang selalu menjadi kekhasan dalam perayaan khitanan massal ini yaitu dodol ketan, lepet ketan, dan wajik ketan. Pada proses pembuatan makanan tersebut tidak luput dari filosofi yaitu merekatkan semangat persaudaraan.

Kepala Desa Ranggi Asam, Nur’in, mengatakan, sunatan massal merupakan salah satu agenda rutin di desanya. Ke­giatan ini juga untuk melestarikan budaya dan adat istiadat di Desa Ranggi Asam.

“Kita mengharapkan ke depan kegiatan ini akan terus dilaksanakan dan ditingkatkan. Kita ingin agar pesta adat sunatan massal yang ke-149 ini dapat menjadi agenda pariwisata di Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Dan kita juga berharap dari kegiatan ini dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke daerah kita,” kata Nur’in.

Selain sunatan massal, acara tersebut juga diisi deng­an penampilan kesenian dan kebudayaan khas Desa Ranggi Asam, yakni kesenian gendang panjang dan tarian galau remaja yang dibawakan oleh personel Sanggar Tari Air Mepanggong Desa Ranggi Asam.

Nur’in menambahkan, sunatan massal bisa menjadi andalan wisata desa. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, agenda wisata sunatan massal Desa Ranggi Asam diharapkan pula dapat menjadi kebanggan dan berskala nasional.

“Desa Ranggi Asam ini memiliki banyak kebuda­yaan. Ini dapat menjadi daya pikat wisatawan lokal maupun luar untuk berkunjung. Namun, butuh dukungan penuh dari seluruh masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dan Peme­rintah Provinsi Bangka Belitung,” tutur Nur’in.

Dalam rangkaian acara sunatan massal tersebut juga ditampilkan kerajinan tangan, seperti tas kecil yang oleh masyarakat Desa Ranggi Asam disebut ketidang. Tas kecil ini digunakan oleh ahli waris dari peserta khitanan massal yang juga si ahli waris tersebut membawa payung lilin.

Menurut keterangan Nur’in, ketidang memiliki makna tersendiri yaitu diharapkan agar saat dewasa nanti, anak-anak yang menjadi peserta khitanan massal tersebut menjadi rajin dan mampu menafkahi keluarganya. Kemudian, pembungkus lepat yang menggunakan daun manau juga memiliki makna, yakni untuk membuat anak yang menjadi peserta khitanan massal tersebut menjadi lelaki seutuhnya. Adapun lepatnya untuk melekatkan dan menguatkan keimanan si anak.

Ada juga kopiah yang dihias untuk digunakan peserta. Selain untuk mene­duhkan, kopiah tersebut juga diyakini menambah keimanan dan sebagai ciri khas rumpun Melayu di Desa Ranggi Asam.

“Dengan dilaksanakannya tradisi adat dan budaya ini, semoga senantiasa dapat menjadi tolok ukur berkehidupan yang baik dalam segi religius dan bersosial masyarakatnya, serta silaturahmi yang dapat terus terjalin dengan baik,” kata Nur’in. (advertorial/can/shi)

Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved