Mantan Ajudan Ungkap Upaya Habibie Temui Soeharto, tapi Sampai Meninggal Keduanya Tak Pernah Bertemu

Sejak menyerahkan kekuasaan kepada Habibie di Istana Negara, Jakarta, 21 Mei 1998, Soeharto tidak mau menerima anak emasnya itu.

Mantan Ajudan Ungkap Upaya Habibie Temui Soeharto, tapi Sampai Meninggal Keduanya Tak Pernah Bertemu
Wartakota/Angga Bhagya Nugraha
Mantan Ajudan Presiden RI ke-3, Mayjen Purn TB Hasanuddin, saat berkunjung ke Redaksi Warta Kota/Tribunnews Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (13/9/2019). Ia bercerita sosok almarhum Presiden RI ke-3, semasa menjadi ajudannya. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Mayor Jenderal (Mayjen) Purnawirawan Tubagus Hasanuddin, ajudan Presdien BJ Habibie selama 1,5 tahun (1998-1999), ternyata punya banyak kisah yang belum diceritakan kepada publik.

Kisah itu di antaranya ia nekat menawarkan diri menjadi 'utusan' Habibie untuk melobi mantan Presiden Soeharto.

Misi itu bertujuan agar Soeharto bersedia menemui Habibie.

Sejak menyerahkan kekuasaan kepada Habibie di Istana Negara, Jakarta, 21 Mei 1998, Soeharto tidak mau menerima anak emasnya itu.

Aiman Tercengang Mantan Ajudan Ungkap Habibie Hendak Diracun hingga Tidur di Kolong Ranjang Presiden

Dalam buku berjudul Detik-detik yang Menentukan Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, terbitan THC Mandiri, September 2006, Habibie mengungkapkan kegalauan hatinya dan merasa dilecehkan karena Sejak 21 Mei 1998 Soeharto tak lagi mau menemuinya.

Sampai keduanya meninggal, Habibie dan Soeharto tidak pernah bertemu.

Berikut petikan wawancara eksklusif Tribun Network dengan Tubagus (TB) Hasanuddin, di Jakarta, Sabtu (13/9/2019).

Ketika Anda menjadi ajudan, apakah Habibie pernah curhat karena dicuekin oleh Soeharto setelah terjadi peralihan kekuasaan?

Terkait hal itu saya pernah minta bantuan kepada pejabat untuk membantu menghubungan Pak Habibie kepada Pak Harto, tapi tidak bisa tembus. Kemudian saya bilang kepada Pak Habibie, kalau diizinkan saya yang akan menemui Pak Harto.

Saya mengenal baik para pengawal Pak Harto karena saya sebelumnya pernah menjadi ajudan Wakil Presiden Try Soetrisno. Ternyata kemudian saya dapat bertemu dengan Pak Harto di sebuah vila di kawasan Puncak, Bogor, sekira bulan Juli 1998.

Halaman
1234
Editor: fitriadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved