Antrean BBM di SPBU Bangka Belitung

Warga Bangka Mengeluh Susah Isi BBM karena Banyak Pengerit

Hasan warga Sungailiat ini sering mengeluhkan susahnya mengisi BBM di SPBU yang banyak antrean pengerit

Warga Bangka Mengeluh Susah Isi BBM karena Banyak Pengerit
Bangkapos/Riki Pratama
Kondisi padatnya antrean Kendaraan yang sedang mengisi BBM di SPBU Kenanga, foto diambil, Senin (11/11/2019) 

BANGKAPOS.COM--Hasan warga Sungailiat ini sering mengeluhkan susahnya mengisi BBM di SPBU yang banyak antrean pengerit. Ia mengaku, pernah tidak jadi mengisi BBM jenis premium karena antrean panjang dan padatnya pengendara saat.

"Banyak kendaraan yang mengantre di SPBU membuat saya malas mengisi di situ, selain susah jalan, karena padatnya pengendara pengerit juga lamanya antrean, sehingga saya tidak jadi mengisi, dan mencari tempat lain yang lebih sepi," ujar Hasan yang tiap harinya mengendari kendaraan roda dua untuk pergi bekerja ini, kepada wartawan, Selasa (12/11/2019).

Kapolda Bangka Belitung Perintahkan Tindak Pengerit BBM Subsidi

Ia mengaku sangat terganggu dan mengharapkan adanya aturan dan sanksi yang tegas terhadap pengerit  karena sudah mengganggu ketertiban umum dan pengendara lainnya yang ingin mengisi di SPBU.

"Ya kita mengharapkan di tertibkan lah, sehingga kita masyarakat enak bila ingin membeli bensin di SPBU, kita sudah datang dari jauh-jauh, ingin membeli di SPBU ya harapnya bisa murah dan dapatnya banyak ketimbang eceran, tetapi tau nya ramai, kan kecewa," tukasnya.

SPBU di Bangka Belitung Dikuasai Pengerit, Suherman: Sudah Mengganggu Ketertiban Umum

Dengan kondisi tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bangka, Hendra Yunus, ikut berkomentar, ia mengatakan ada beberapa kemungkinan penyebab banyaknya antrian pengerit di SPBU yang ada di Sungailiat.

"Terkadang ada juga keluhan masyarakat terkait antrean panjang di SPBU akan tetapi karena sudah merupakan pemandangan yang hampir tiap hari dan spanjang tahun, sehingga mungkin masyarakat juga sudah bosen mengeluh, karena di benak masyarakat mungkin karena kita daerah tambang sehingga masyarakat juga perlu BBM solar untuk aktivitas kerja merek di pertambangan,"ungkapnya.

Akan tetapi, sambung Hendra, kebiasaan buruk berupa antrian panjang di SPBU ini perlu di tata dan ditertibkan dengan baik, agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lainnya, dan rawan penyalahgunaan BBM subsidi tidak lagi tepat sasaran

"Upaya tetap dilakukan dan pihak terkait juga sudah sering melakukan penertiban ssehingga antrian panjnag tidak terjadi, tetapi hal itu tdk bertahan lama dan muncul lagi, kami rasa selama masih ada disfaritas harga yang cukup signifikan, maka antrian panjang akan tetap terlihat," lanjutnya.

Penambahan Kuota BBM Bukan dari Pertamina, Wicaksono: Itu Urusan Pemerintah Kasih atau Tidak

Ia menambahkan, anggota DPRD dari komisi III sudah pernah menyampaikn ke BPH Migas pada bulan Januari yang lalu, pada waktu itu ada tmbhan kuota BBM untuk Kabupaten Bangka tahun 2018 sebesar 44.882 Kiloliter (KL) dengan realisasi 44.858 Kiloliter ( 99,55 persen ) dan tahun 2019 dinaikan menjadi 46.461 Kiloliter.

"Namun memang kita daerah tambang sehingga memerlukan banyak BBM seperti solar, sehinga karena adanya disfaritas harga yang signifikan muncul keinginan masy dan pihak-pihak yang ingin memanfaatkan selisih harga sehingga margin untuk menambah income, apalagi lapangan kerja sekarang sulit sehingga disfaritas harga antara BBM subsidi dan non subsidi menjadi pemicu pendapatan baru bagi masyarakat, "ungkapnya.

BREAKING NEWS: Antrean BBM di SPBU Mengular, Enam Jam BBM Sudah Ludes Terjual

Hendra menambahkan, secara aturan ini tidak diperbolehkan, ini merupakan dilema bagi pemerintah, di satu sisi Pemerintah belum bisa menyediakn lapangan kerja yang luas, disisi lain masyarakat masih butuh penghasilan.

"Akan tetapi kalau menyalahi aturan tetap harus ada tindakn sehingga distribusi BBM tepat sasaran," tegasnya. (Bangkapos/Riki Pratama)

Penulis: Riki Pratama
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved