Dialog Ruang Tengah Bangka Pos
Wawancara Eksklusif: BPJ Pastikan Lada Bangka Belitung Masih yang Terbaik
Lada dan Timah selama ini merupakan komoditas andalan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kebetulan, dua komoditas andalan ini sama-sama terpuruk.
Lada vietnam mengalami pertumbuhan luar biasa dan mereka sudah menggunakan teknologi untuk membuat lada putih. Sementara kita masih menggunakan cara-cara manual yang ironisnya, kondisi alam kita sudah tidak memungkinkan memaksimalkan pengolahan secara manual ini bisa sebagus dulu.
Terkait produksi apakah kita juga kalah dengan Vietnam?
Inilah satu poin yang juga perlu menjadi perhatian kita dan harus diluruskan. Selama ini kita percaya pada data yang akurasinya patut dipertanyakan. Jumlah produksi kita di atas kertas jauh melebihi kenyataannya. Inilah satu bagian yang menurut saya perlu diluruskan, dievaluasi sehingga kita bisa membuat kebijakan yang benar.
Apalagi data tersebut tentu akan mempengaruhi sentimen pasar terkait hukum suplay and demand. Data yang salah ini bisa berakibat fatal.
Berapa jumlah produksi kita sebenanrnya?
IPC atau International Pepper Community mengatakan, produksi lada di Indonesia baik lada putih maupun hitam pertahun adalah 78 ribu ton. Dari data tersebut 40 ribu ton itu lada putih yang mayoritas diproduksi Bangka Belitung.
Data ini yang saya maksudkan perlu diluruskan. Saya yakin kita tidak pernah memproduksi lada sebesar itu. Nah disitulah Pemprov Bangka Belitung harus mulai mengoreksi hal sederhana ini. Sebab dari data yang muncul itu juga menjadi pegangan bagi IPC yang menyebut bahwa lada dunia mengalami oversuplay sebesar 25 ribu ton.
Menurut anda, apakah peran Pemprov sudah signifikan?
Dalam sebuah kesempatan pernah berbicara dengan gubernur terkait Lada, mulai dari luasan lahan yang disebut mencapai 28 ribu hektar. Kemudian jumlah produksi per hektar dan juga produksinya.
Langkah konkret Pemprov Babel?
Sampai hari tidak ada upaya maksimal dari pihak terkait mengatasi permasalahan di lapangan, seperti pucuk kuning, yang merupakan penyakit dari tanaman lada, dan harus dicarikan obatnya.
Saya melihat pemerintah hanya fokus pada pembagian bibit saja, tetapi mengatasi permasalahan pucuk kuning, mengatasi permasalah pupuk subsidi ini belum dilakukan.
Soal kebijakan Resi Gudang?
Belum maksimal dan memang perlu ada pembenahan terkait kebijakan ini.
Bagaimana buyer internasional menilai lada kita?
Ini lagi-lagi soal bagaimana menempatkan kembali posisi tawar kita di pasar dunia. Selama ini buyer selalu menarasikan negatif lada kita, termasuk mengklaim dan menilai lada kita mengandung bakteri, warnanya jelek dan sebagainya. Sebagai pembeli tentu tujuannya hanya satu, yaitu menjatuhkan harga. Hal yang sama juga dilakukan buyer terhadap Lada Vietnam tentunya. Jadi pembeli memang maunya untung dengan harga murah.
Nah dari sinilah maka menjadi sesuatu yang urgent bagi kita untuk melakukan pendataan ulang terkait produksi lada kita. Pemprov bisa mengawali ini jika memang benar-benar suport untuk membuat harga lada kembali bergairah. (cici nasya nita)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/bpj-di-ruang-tengah-bapos.jpg)