Virus Corona di Bangka Belitung
Kisah Para Perawat di Belitung Rawat Pasien Diduga Terjangkit Covid-19: Mereka Harus Di-support
Tiga orang perawat di RSUD H Marsidi Judono Kabupaten Belitung, yaitu Juliana (31), Yeyen Sridamayanti (34), Kiki Srihandayani (32) berbagi cerita...
Penulis: Disa Aryandi | Editor: Dedy Qurniawan
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Resiko tertinggi pada penanganan pasien virus corona berada di tenaga medis, para perawat dan dokter.
Bagaimana kisah perawat yang setiap hari berada di ruang isolasi dan berinteraksi dengan pasien-pasien, baik pasien dalam pengawasan suspect maupun menghadapi pasien yang positif terjangkit virus corona?
Tiga orang perawat di RSUD H Marsidi Judono Kabupaten Belitung, yaitu Juliana (31), Yeyen Sridamayanti (34), Kiki Srihandayani (32) sempat menceritakan tentang kisah mereka selama menangani para pasien.
Perempuan-perempuan yang sudah berkeluarga itu setiap saat berada di ruang isolasi.
Baik itu berada di ruang isolasi A, maupun ruang isolasi B RSUD H Marsidi Judono Belitung.
Mereka berada diruangan isolasi ini, minimal selama 4 jam dan harus menggunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap.
"Ya kami setiap 4 jam berada diruangan isolasi, setiap 4 jam kami bergantian. Ya ada was-was juga, tapi karena tugas dan sejak awal kami sudah disumpah siap bertugas dimana pun, ya jadi kami terima saja tugas ini, dan itu memang sudah tugas kami," jelas Juliana kepada Posbelitung.co, disambut cerita lainnya dari Yeyen dan Kiki, Sabtu (4/4/2020).
Sejak awal bertugas, ketiga perawat ini memang ditempatkan di ruang Isolasi.
Namun, saat itu ruang isolasi tidak pernah ada pasien yang diduga terjangkit Covid-19.
Ruang isolasi hanya digunakan untuk pasien TBC (tuberkulosis) dan pasien dengan penangan khusus.
"Yang namanya manusia pasti ada rasa ketakutan dan khawatir, apalagi ini virus yang dengan cepat sekali berpindah (ke tubuh manusia). Tapi karena sudah terbiasa, jadi rasa takut itu, semakin ke sini, semakin biasa, hanya saja, kami terkadang kepikiran dengan keluarga di rumah," ungkap Juliana.
Rasa cemas hilang lantaran mereka menggunakan APD saat masuk ke ruang isolasi.
Karena mengenakan APD, Mereka merasa aman saat berada di ruang isolasi tersebut.
"Jadi aman, justru kami takutnya orang yang di luar tidak menggunakan APD. Kami menggunakan APD itu selama 4 jam dan tidak bisa ngapa-ngapain itu," ucapnya.
Diakuinya, menggunakan APD tersebut cukup sulit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/n-perawat-yang-bertugas-di-ruang-isolasi-rsud-marsidi-judono.jpg)