Ramadhan 2020
Ramadhan di Rumah, Syari'at Sosial Distancing dan Pahalanya, Begini Kata Ustaz Yuda
Jangan sampai keegoisan kita yang tidak mau berdiam diri di rumah mendatangkan bahaya untuk orang lain, pilihannya hanya dua, kalau tidak menulari,
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: Hendra
Oleh karena itu bukanlah muslim yang taat dan lurus aqidahnya jika ia tidak mengindahkan anjuran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam di atas. Meskipun segala sesuatu sudah menjadi ketetapan Allah Azza wa Jalla, akan tetapi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah merupakan manhaj pertengahan, yang mengendepankan tawakkal kepada Allah dan meyakini setiap keputusan Allah Ta'ala sebagaimana dalam firman-Nya:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ () لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ () الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
(QS. Al-Hadid: 22).
"Kita meyakini bahwa semua yang berlaku di dunia telah Allah Ta'ala tetapkan jauh sebelum penciptaan manusia, namun ayat ini bertujuan agar kita tidak berputus asa dari Rahmat Allah tatkala ditimpa musibah, bukan sebagai ayat yang digunakan untuk meremehkan setiap ikhtiar," kata Ustaz Yuda.
"Sehingga kita tetap menyempurnakan ikhtiar dalam rangka menjalankan syari'at menjauhi diri dari penularan dengan melakukan upaya-upaya yang mungkin dilakukan yang telah dianjurkan oleh pakarnya,"lanjutnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:
فر من المجذوم فرارك من الأسد
Artinya: "Larilah engkau dari penyakit kusta (wabah penyakit menular) sebagaimana engkau lari dari singa".
(HR. Bukhari)
Dan beliau juga bersabda:
إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها
Artinya: "Jika kamu mendengar kabar penyakit thaun menyebar di sebuah tempat, maka jangan masuki tempat tersebut".
(HR. Bukhari)
Dua hadits di atas sangat jelas memerintahkan kepada kita agar menjauhi setiap potensi penyebaran virus, dengan melakukan social distancing. Kita semua sudah tahu dan mendengarkan penjelasan dari para Dokter dan tim medis yang berjibaku di garis depan melawan Covid-19, bahwa virus ini sangat mudah menyebar terlebih pada kerumunan masa yang banyak.
Permasalah lainnya adalah, virus ini perkara yang tidak nampak, sehingga kita tidak tahu siapa saja yang membawa virus tersebut pada dirinya. Bahkan terkadang didapati orang yang tidak menunjukkan gejala sama sekali ternyata menjadi pembawa virus Covid-19 di tubuhnya, atau yang dikenal dengan OTG.
Sehingga, ketika mereka yang merasa baik-baik saja namun ternyata membawa virus tersebut di dalam tubuhnya berinteraksi dengan orang lain yang ternyata memiliki riwayat penyakit bawaan atau memiliki imunitas rendah, sudah dapat dipastikan ia menjadi sebab tertularnya orang tersebut.
Jika demikian, orang tadi telah mendatangkan mudhorot bagi orang lain. Padahal dalam Islam, seseorang tidak boleh mendatangkan mudhorot (bahaya) baik bagi dirinya maupun orang lain.
Sebagaimana dijelaskan dalam qoidah fiqih:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ustaz-yuda-abdurahman.jpg)