Senin, 13 April 2026

Ramadan 2020

Masjid Lautze, Saksi Bisu Ribuan Warga Tionghoa Jadi Mualaf

Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze 87-89, Sawah Besar, Jakarta Pusat menjadi saksi ribuan warga Tionghoa jadi mualaf.

Editor: fitriadi
Tribunnews.com/Jeprima
Suasana Masjid Lautze yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2020). Masjid Lautze tidak hanya unik karena memiliki arsitektur khas bangunan Tionghoa, tetapi juga karena terdapat beberapa potong ayat Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Masjid Lautze menyisakan sejarah panjang.

Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze 87-89, Sawah Besar, Jakarta Pusat menjadi saksi ribuan warga Tionghoa jadi mualaf.

Masjid ini didirikan di daerah pecinan.

Pendirinya Abdul Karim Oei Tjeng Hien merupakan sahabat dekat Presiden Pertama Indonesia Soekarno dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama Buya Hamka.

Abdul Karim Oei adalah pendiri organisasi warga etnis Tionghoa Indonesia Islam yang disebut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Masjid Lautze didirikan oleh Yayasan Haji Karim Oei, yang kini diketuai oleh anak bungsu Abdul Karim Oei, yakni Ali Karim Oei (65 tahun).

"Beliau (Abdul Karim) orang Indonesia etnis Tionghoa. Tahun 1930an masuk Islam jadi mualaf," kata Ali kepada Tribun.

Masjid Berusia 1.200 Tahun Ini Ditemukan di Tengah Gurun Israel

Di masjid ini warga etnis Tionghoa dibantu dan dibimbing jika akan memeluk atau memahami agama Islam, belajar Salat, dan membaca Al Quran.

"Di sini juga sebagai pusat informasi, sekaligus menjadi tempat pembelajaran tentang Islam bagi warga etnis Tionghoa," tutur Ali.

Semangat Abdul Karim Oei memperkenalkan Islam kepada warga etnis Tionghoa ini yang kemudian diteruskan. Sejak 1997-2019 Masjid Lautze telah memberikan pelayanan kepada masyarakat yang ingin memeluk agama Islam. Bahkan hingga kini jumlahnya sudah 1.531 orang, yang mayoritas dari etnis Tionghoa.

"Kita bikin Masjid Lautze kita kasih lihat banyak juga Islam itu yang bawa orang Tionghoa. Karena kita mendakwah untuk orang-orang tionghoa. Sudah ribuan kita mengislamkan," katanya.

Ali mengatakan Islam itu Rahmatan Lil Alamin, rahmat untuk semesta alam. Tak membedekan suku. "Karena itu kita dakwah di lingkungan Tionghoa," sambungnya.

Suasana Masjid Lautze yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2020). Masjid Lautze tidak hanya unik karena memiliki arsitektur khas bangunan Tionghoa, tetapi juga karena terdapat beberapa potong ayat Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)
Suasana Masjid Lautze yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2020). Masjid Lautze tidak hanya unik karena memiliki arsitektur khas bangunan Tionghoa, tetapi juga karena terdapat beberapa potong ayat Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA) 

Di lantai 3 Masjid Lautze, tepatnya di ruang sekretariat terpampang foto Abdul Karim bersama Buya Hamka dan Soekarno. Bertiga mengenakan jas dalam foto hitam putih tersebut.

Jika diperhatikan dari dekat, sosok Buya Hamka terlihat mengenakan sarung dengan setelan jas yang terlihat kebesaran atau tidak sesuai dengan proporsional badan.

"Bung Karno sesi foto syaratnya harus pakai jas. Terpaksa (Buya Hamka) minjem baju dan jasnya kedodoran bawahnya sarung. Ini foto resmi di studio," kata Ali seraya memperlihatkan foto tersebut.

Sebelum Meninggal, Didi Kempot Banyak Mendekatkan Diri Pada Agama, Bangun Masjid dan Ingin Umrah

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved