Jumat, 15 Mei 2026

Ramadan 2020

Masjid Lautze, Saksi Bisu Ribuan Warga Tionghoa Jadi Mualaf

Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze 87-89, Sawah Besar, Jakarta Pusat menjadi saksi ribuan warga Tionghoa jadi mualaf.

Tayang:
Editor: fitriadi
Tribunnews.com/Jeprima
Suasana Masjid Lautze yang terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2020). Masjid Lautze tidak hanya unik karena memiliki arsitektur khas bangunan Tionghoa, tetapi juga karena terdapat beberapa potong ayat Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia. 

Sosok Oei, merupakan tokoh nasional yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama dengan Soekarno dan Buya Hamka. Meski memiliki paham yang berbeda, kata Ali, ketiganya tetap berteman. Jika Buya Hamka dan Abdul Karim Masyumi, sementara Soekarno adalah Nasakom. "Politik berbeda tapi tetap berteman," tutur Ali Karim.

Ali menceritakan persahabatan ketiganya erat ketika Soekarno dibuang ke Bengkulu. Bahkan Soekarno pernah bekerja di perusahaan meubel milik Oei.

"Sampai dia yang mengawinkan Soekarno dan Fatmawati," tuturnya. Sampai Soekarno menjadi presiden, mereka tetap bersahabat. Bahkan Oei kerap dipanggil ke Istana Merdeka.

"Bapak saya selalu dipanggil ke Istana. Makan siang di Istana, ngobrol soal negara. Dia ditawarkan oleh Soekarno macam-macam tapi tidak mau," ujarnya. 

Ditelepon BJ Habibie

Tak ada kubah di Masjid Lautze. Bangunan masjid berwarna mentereng: merah, kuning, hijau. Mengingatkan kita bak kelenteng. Dari bangunan rumah toko ini, pusat syiar Islam di kalangan masyarakat etnis Tionghoa Jakarta berkumandang.

Masjid Lautze berlokasi di Jalan Lautze 87-89, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Lokasinya di antara rumah toko dan gudang. Dari depan bangunan terdapat kanopi mirip atap kelenteng. Papan putih terpajang dengan tulisan Yayasan Haji Karim Oei.

Luas lahan masjid hanya sekira 100 meter. Ruko itu berdiri dengan pemandangan kabel-kabel listri yang menjulur di depannya. Masjid terdiri dari empat lantai: lantai satu dan dua tempat ibadah, lantai tiga ruang sekretariat, dan lantai empat sebagai ruang serbaguna.

Dekorasi masjid bernuansa tionghoa. Dinding tempat salat berwarna kuning dan putih dihiasi kaligrafi percampuran seni Arab dan Tionghoa di dekat mimbar masjid. Kaligrafi Shu Fa itu menonjol di kertas putih.

Sebelum pandemi corona atau covid-19, kita akan melihat ratusan warga Tionghoa khusyuk salat berjemaah. Mereka yang salat di Masjid Lautze, kebanyakan adalah warga Tionghoa yang menjadi mualaf atau memeluk agama Islam.

Masjid Lautze memiliki sejarah panjang. Ketua Yayasan Haji Karim Oei, H Ali Karim Oei (65 tahun) mengatakan masjid dibangun pada 1993. Dua tahun setelah Yayasan Haji Karim Oei didirikan.

"Awalnya ruko yang disewa untuk tempat ibadah. Juga sebagai tempat berdakwah agar etnis Tionghoa mengenal Islam," ujar Ali kepada Tribun Network.

Dekorasi, kata Ali, sengaja dengan nuansa kelenteng. Karena dengan begitu, warga etnis Tionghoa pun mau datang untuk sekadar mencari ilmu."Dekor nuansa Cina supaya orang Cina itu mau datang dan begitu datang dia merasa di rumah sendiri," imbuh Ali.

Bangun Masjid Ngutang, Diresmikan Habibie
Di depan masjid terpampang papan bahwa masjid diresmikan oleh Presiden Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Ada cerita dibalik itu. Menurut Ali, mereka sempat tak sanggup membayar uang bunga ke bank.

Pengurus Masjid Lautze Ali Karim saat ditemui di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2020). Masjid Lautze tidak hanya unik karena memiliki arsitektur khas bangunan Tionghoa, tetapi juga karena terdapat beberapa potong ayat Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)
Pengurus Masjid Lautze Ali Karim saat ditemui di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2020). Masjid Lautze tidak hanya unik karena memiliki arsitektur khas bangunan Tionghoa, tetapi juga karena terdapat beberapa potong ayat Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA) 

Kala itu, ia menulis surat ke Presiden Kedua Indonesia Soeharto."Akhirnya saya tulis surat ke Pak Harto ceritakan tujuan kita masalah pembauran, masalah ini," ujar Ali Karim.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved