Sabtu, 2 Mei 2026

Pendaki Bukit Maras Hilang

Akhirnya Ditemukan, Pendaki Bukit Maras Tersesat di Air Terjun dan Berusaha Cari Perkampungan

Pendaki Bukit Maras yang hilang, Hermansyah Putra akhirnya ditemukan hari ini Senin (7/9/2020)

Tayang:
Ist/ Basarnas Babel
M Hermansyah Putra korban yang hilang di Gunung Maras ditemukan Tim SAR Gabungan saat mendaki Gunung Maras, Riausilip, Bangka, Senin (7/9/2020) 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pendaki Bukit Maras yang hilang, Hermansyah Putra akhirnya ditemukan hari ini Senin (7/9/2020).

Pencarian terhadap Hermansyah telah dilakukan oleh Tim SAR Gabungan. Ia ditemukan selamat di titik 25 KM.

Diketahui Hermansyah mendaki setelah sholat dzuhur, setelah mendaki tidak lama sampai di air terjun pertama korban ketinggalan oleh ketiga rekannya Sarefi, Satria, dan Rusban.

Hermansyah mengaku salah mengambil jalur hingga tersesat jauh dari tempat tujuan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas B Pangkalpinang (Basarnas Babel) Fazzli mengatakan pencarian terhadap korban hilang terbagi tiga tim.

Sebelum melakukan pencarian Tim SAR Gabungan berkordinasi dengan warga setempat instansi terkait dan pemangku adat daerah di sana, sekitar pukul 06.00 WIB.

Profil Bukit Maras Tempat Hilangnya Pendaki Hermansyah Putra, Pesonanya Memang Sulit Ditolak

Juru Kunci Bukit Maras Bangka Sebut Hari Terburuk Mendaki dan Pantangan, Tersesat Bila Dilanggar

Curhat Paula Verhoeven Ditinggal ART yang Baru Sebulan Kerja, Istri Baim Wong: Kita Kurang Apa?

Tim SAR Gabungan memulai pencari dengan, Tim satu melakukan teknik confinement mode yakni teknik pencarian secara cepat.

Kemudian Tim kedua melakukan pencarian dengan teknik detection mode yaitu pencarian penyapuan secara pararel berdasarkan tanda atau ceceran barang.

"Tidak lama pencarian yang dilakukan korban akhirnya ditemukan oleh tim tiga di jalur setapak menuju puncak bukit lain. Pada ketinggian 400 mdpl, korban sedang berusaha untuk mencari jalan menuruni Bukit Maras menuju ke perkampungan terdekat," ujar Fazzli

Dengan ditemukannya korban tersebut Operasi SAR terhadap Hermansyah ditutup dan para Tim yang tergabung di Tim SAR Gabungan di kembalikan ke satuannya masing - masing.

"Banyak-banyak terima kasih atas bantuan para potensi SAR yang ikut dalam Operasi SAR ini," ucapnya.

Sakit Hati Hubungan Asmara Tak Direstui, Seorang Pria Nekat Bakar Rumah Kekasihnya

Kronologis Seorang Pendaki Hilang di Gunung Maras, Ketiga Teman Tak Tahu Keberadaannya

Satu Pendaki Tersesat

Sebelumnya diberitakan bangkapos.com seorang pendaki hilang diduga tersesat di Bukit Maras, Desa Berbura, Kecamatan Riausilip, Kabupaten Bangka, kemarin Minggu (6/9/2020) pukul 10.00 WIB.

Pendaki yang diketahui bernama M Hermansyah Putra (35) warga Palembang yang berdomisili di Perum Mutia Indah, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah.

Tiga teman korban yang diminta keterangan oleh warga Setempat, Minggu (6/9/2020) malam.
Tiga teman korban yang diminta keterangan oleh warga Setempat, Minggu (6/9/2020) malam. (istimewa)

Kepala Pencarian dan Pertolongan Kelas B Pangkalpinang (Basarnas Babel) Fazzli mengatakan Informasi tersebut didapat dari Camat Bakam, Kabupaten Bangka Imran yang menyebutkan satu dari empat pendaki Bukit Maras hilang.

"Benar ada orang yang hilang diduga tersesat di Bukit Maras, saat ini sudah dibentuk tim gabungan (timgab) untuk melakukan pencarian, terhadap korban tersebut," ujar Fazzli, Minggu (6/9/2020.

M Hermansyah Putra bersama ketiga temannya Sarefi, Satria, dan Rusban mulai mendaki ke Bukit Maras, Minggu (6/9/2020) pukul 10.00 WIB hingga 15.00 WIB.

Sebelum mencapai puncak tepatnya di pos kedua, ketiga temannya memutuskan untuk kembali ke bawah, sedangkan Hermansyah melanjutkan pendakian ke Puncak Bukit Maras.

Hingga pukul 17.35 WIB, Hermansyah belum juga turun ke bawah dan akhirnya warga sekitar memutuskan untuk menyusulnya.

Namun hingga pukul 20.45 WIB warga tidak menemukan korban yang diduga tersesat itu.

"Kami membuka Operasi SAR Gabungan yang melibatkan satu Tim Rescue Pangkapinang, Polsek Dalil, Aparat Desa Dalil dan Masyarakat Setempat, mencari korban di ketinggian 663 mdpl," ucapnya.

Tim gabungan sudah diberangkatkan ke tempat kejadian untuk melaksanakan pencarian korban tersebut," sambungnya.

Kata Juru Kunci

Juru kunci Bukit Maras, Damino bercerita tentang pantangan dan hari pendakian terburuk menjelajah puncak tertinggi di Pulau Bangka ini.

Dalam berita berjudul "Menjelajahi Bukit Maras, Kapan Waktu Baik Mendaki Hingga Pantangan Pengunjung yang Harus Dipatuhi" yang terbit di bangkapos.com pada Minggu (27/10/2019) .

Damino mengatakan kebanyakan pendaki yang ingin mendaki ke Bukit Maras selalu datang setiap Sabtu malam Minggu. Dia berasumsi bahwa waktu tersebut adalah santai bagi mereka.

Sebetulnya menurut Damino, waktu yang paling baik untuk mendaki bukit ini hari Kamis malam Jumat, bukan hari Sabtu malam Minggu.

"Kalau saya boleh sarankan hari Kamis malam Jumat itu paling baik mendaki Bukit Maras, biasanya saya sering malam itu, kalau Sabtu malam Minggu itu kurang baik untuk mendaki," terang Damino.

Pendaki menuju Bukit Maras, Desa Berbura Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, Sabtu (4/7/2020)
Pendaki menuju Bukit Maras, Desa Berbura Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, Sabtu (4/7/2020) (bangkapos.com/Yuranda)

Damino mengatakan bagi pendaki pemula jarak tempuh Bukit Maras sekitar tiga jam paling cepat, dari kaki hingga puncak bukit.

Namun dirinya dan anak-anaknya butuh waktu satu sampai satu setengah jam sampai puncaknya.

Biasanya kekuatan fisik yang menjadi faktor utamanya, karena jalan yang dilalui saat mendaki hampir semuanya tanjakan dengan bebatuan dan beberapa pohon tumbang.

"Anak saya ada tiga satu kelas dua SMA, itu mereka paling cepat ketika mendaki sekitar satu jam sampai puncak, kalau saya satu jam setengah mungkin karena umur juga kalau saya," katanya.

Namun para pendaki harus menjaga sikapnya saat mendaki, karena ada larangan adat dan umum saat datang ketempat ini.

Larangan umum seperti tidak membuang sampah sembarangan, merusak hingga menebang pohon, minum minuman keras dan membawa senjata tajam.

Sedangkan larangan adat di antaranya bersiul, tidak membawa makanan tertentu seperti telur hewan, pisang, bersiul, bermain gitar sambil menggendong panci dan bagi perempuan sebaiknya tidak mendaki saat haid.

"Pantangan ini wajib dipatuhi karena ada dendanya, kalau pantangan umum itu seperti membuang sampah sembarangan. Kalau sampah sebaiknya dibawa lagi saat turun, sedangkan pantangan adat ini biasanya lebih ke pribadi, seperti kerasukan, kehilangan atau menambah teman, nyasar dan sebagainya," terang Damino.

Menurut Damino, ketika musim kemarau pengunjung yang mendaki ke Bukit Maras cenderung sepi. Hal itu dikarenakan sulitnya mendapatkan air sedangkan sumber air yang ada biasanya mengering.

"Kalau hari-hari normal atau musim penghujanlah biasanya penuh pendakian, puluhan hingga ratusan orang apalagi saat liburan, tapi berbeda dengan musim kemarau yang agak sepi," ungkapnya.

Tempat ini akan sangat menarik jika dikunjungi musim penghujan, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang hijau sekaligus air terjun dengan bebatuan khas berlokasi di pos satu.

Pengunjung yang mendaki ke bukit ini tidak dipungut biaya asalkan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan, jika berkenan mereka bisa memberikan seikhlasnya.

Mitos Barang Pantangan

Bagi pengunjung yang ingin mendaki ke Bukit Maras Desa Berbura, Kabupaten Bangka harus mematuhi larangan atau pantangan untuk mendaki.

Apa saja pantangannya? Menurut Kepala unit pengurus wisata Bukit Maras Damino, pendaki dilarang membawa tiga jenis pisang.

Seperti pisang raja, pisang emas dan pisang rejang. Kemudian tidak boleh membawa minuman alkohol, telur asin, ketan atau barang sesajen lainnya.

"Kalau tidak mematuhi larangan tersebut mereka akan diikuti dan kerasukan," ujar Damino, Minggu (5/7/2020) di lokasi pintu masuk Bukit Maras Desa Berbura Kecamatan Riausilip.

Sementara itu bagi wanita yang sedang datang bulan diperkenankan naik jika memakai gelang resam yang sudah mereka persiapkan.

"Kami stop tinggal disini kalau ada yang membawa barang larangan adat sering terjadi kerasukan, tertawa sendiri dan menangis. Dan juga kalau wanita datang bulan yang pengen naik kami sediakan gelang resam karena wanita datang bulan sangat rentan," ungkapnya.

Selain pendaki lokal, Bukit Maras ini juga kerap dikunjungi oleh wisudawan atau pendaki internasional.

Seperti dari india, Yunani, dan Jepang, mereka ke sini dengan tujuan meneliti kupu-kupu dan melakukan penelitian lainnya.

"Ada juga pendaki dari luar negeri pernah kesini dari India, Yunani dan Jepang yang sempat meneliti kupu-kupu," katanya.

Sementara itu para pendaki dari luar Pulau Bangka juga kerap datang untuk sekedar mendaki Bukit ini, seperti dari daerah lain paling banyak dari Jawa Tengah dan Bekasi.

"Kami juga menyediakan pemandu untuk menunjukan arah mereka, kadang kami juga menawarkan barang bawaan mereka sampai ke atas," tutupnya.

 (bangkapoa.com/Yuranda/Muhammad Noordin)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved