Pendaki Bukit Maras Hilang
Juru Kunci Bukit Maras Bangka Sebut Hari Terburuk Mendaki dan Pantangan, Tersesat Bila Dilanggar
Juru kunci Bukit Maras, Damino bercerita tentang pantangan dan hari pendakian terburuk menjelajah puncak tertinggi di Pulau Bangka ini.
Penulis: Ardhina Trisila Sakti CC | Editor: Ardhina Trisila Sakti
BANGKAPOS.COM -- Juru kunci Bukit Maras, Damino bercerita tentang pantangan dan hari pendakian terburuk menjelajah puncak tertinggi di Pulau Bangka ini.
Dalam berita berjudul "Menjelajahi Bukit Maras, Kapan Waktu Baik Mendaki Hingga Pantangan Pengunjung yang Harus Dipatuhi" yang terbit di bangkapos.com pada Minggu (27/10/2019) .
Damino mengatakan kebanyakan pendaki yang ingin mendaki ke Bukit Maras selalu datang setiap Sabtu malam Minggu. Dia berasumsi bahwa waktu tersebut adalah santai bagi mereka.
Sebetulnya menurut Damino, waktu yang paling baik untuk mendaki bukit ini hari Kamis malam Jumat, bukan hari Sabtu malam Minggu.
"Kalau saya boleh sarankan hari Kamis malam Jumat itu paling baik mendaki Bukit Maras, biasanya saya sering malam itu, kalau Sabtu malam Minggu itu kurang baik untuk mendaki," terang Damino..
• Curhat Paula Verhoeven Ditinggal ART yang Baru Sebulan Kerja, Istri Baim Wong: Kita Kurang Apa?
• Sakit Hati Hubungan Asmara Tak Direstui, Seorang Pria Nekat Bakar Rumah Kekasihnya
• Simak Ramalan Zodiak Hari Ini 7 September 2020: Scorpio Terusik Pikiran Negatif, Virgo Murah Rezeki
Damino mengatakan bagi pendaki pemula jarak tempuh Bukit Maras sekitar tiga jam paling cepat, dari kaki hingga puncak bukit.
Namun dirinya dan anak-anaknya butuh waktu satu sampai satu setengah jam sampai puncaknya.
Biasanya kekuatan fisik yang menjadi faktor utamanya, karena jalan yang dilalui saat mendaki hampir semuanya tanjakan dengan bebatuan dan beberapa pohon tumbang.
"Anak saya ada tiga satu kelas dua SMA, itu mereka paling cepat ketika mendaki sekitar satu jam sampai puncak, kalau saya satu jam setengah mungkin karena umur juga kalau saya," katanya.
Namun para pendaki harus menjaga sikapnya saat mendaki, karena ada larangan adat dan umum saat datang ketempat ini.
Larangan umum seperti tidak membuang sampah sembarangan, merusak hingga menebang pohon, minum minuman keras dan membawa senjata tajam.
Sedangkan larangan adat di antaranya bersiul, tidak membawa makanan tertentu seperti telur hewan, pisang, bersiul, bermain gitar sambil menggendong panci dan bagi perempuan sebaiknya tidak mendaki saat haid.
"Pantangan ini wajib dipatuhi karena ada dendanya, kalau pantangan umum itu seperti membuang sampah sembarangan. Kalau sampah sebaiknya dibawa lagi saat turun, sedangkan pantangan adat ini biasanya lebih ke pribadi, seperti kerasukan, kehilangan atau menambah teman, nyasar dan sebagainya," terang Damino.
Menurut Damino, ketika musim kemarau pengunjung yang mendaki ke Bukit Maras cenderung sepi. Hal itu dikarenakan sulitnya mendapatkan air sedangkan sumber air yang ada biasanya mengering.
"Kalau hari-hari normal atau musim penghujanlah biasanya penuh pendakian, puluhan hingga ratusan orang apalagi saat liburan, tapi berbeda dengan musim kemarau yang agak sepi," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/air-terjun-3_20160111_210122.jpg)