Horizzon
Mengeja Tahun Pagebluk 2020
Kisah awal covid-19 semakin lengkap dengan langkah progresif China membangun rumah sakit super besar hanya alam 10 hari.
Rindu sekolah
Jangan lupa. Kita juga masih punya pekerjaan rumah yang lupa kita tuntaskan. Ingat, anak-anak kita mulai lupa cara memakai seragam sekolah. Anak-anak kita juga mulai lupa bagaimana menyapa hormat guru setiap pagi dan siang.
Nyaris setahun kita tak melihat anak-anak pulang sekolah dengan mata berbinar lantaran tuntas kepenatan mereka menimba ilmu. Atau kita juga tak lagi ingat bagaimana kita tersenyum melihat anak-anak kita menangis atau mengadu sepulang sekolah lantaran berkelahi dengan kawannya.
Kita hanya paham, awalnya anak-anak senang diliburkan, kemudian mereka memasuki masa jenuh di rumah, lalu mereka merasa rindu kembali ke sekolah. Pada kurun waktu nyaris setahun ini, ada fase di mana anak-anak kita benar-benar sangat-sangat ingin kembali ke sekolah, Mereka rindu dengan tawa, peluh, keceriaan, dan semuanya di sekolah.
Namun lagi-lagi, kita masih bisa membangun narasi di balik sikap frustasi. Kita bisa menghibur diri dan mengatakan bahwa, saat inilah kita paham bahwa pendidikan adalah tanggung jawab orangtua. Sungguh, sebuah narasi yang jika kita boleh jujur adalah sebuah narasi yang garing.
Egois juga ketika kita tidak menulis bagaimana sebagian dari kita benar-benar terpuruk lantaran kehilangan sumber penghasilan akibat pagebluk ini. Jika kita mau peduli, mafri kita hitung beberapa kawan atau tetangga kita yang tiba-tiba berstatus sebagai pengangguran akibat pandemi ini.
Sadarkan kita, bahwa posisi kita tak lebih baik dari mereka yang saat ini kurang beruntung. Jika saat ini kita masih punya pekerjaan, bisa jadi besok pagi kita juga pengangguran lantaran perusahaan kita gagal melewati pendemi berkepanjangan ini.
Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang kebetulan berstatus sebagai aparat negara, baik sipil atau militer. Setali tiga uang, jika pandemi ini tak kunjung usai, negara bisa juga kolaps. Ingat, pemasukan terbesar negara ini adalah pajak. Jika ekonomi lesu, rakyat tak mampu bayar pajak, negara bangkrut adalah konsekuensinya.
***
PENGHUJUNG tahun ini tepat satu tahun sebuah virus kecil tak kasatmata yang mengubah peradaban kita dikabarkan terdeteksi di Wuhan.
Virus ini bermula dari sebuah kasus yang ditemukan di China pada 8 Desember 2019. Namun secara resmi, virus ini dilaporkan ke WHO pada 31 Desember 2019 dan itulah kenapa virus ini kemudian memiliki nama Covid-19.
Sekali lagi, kita perlu merefleksi perjalanan kita selama tiga bulan sepanjang 2020 ini. Kita ingat betul, magnitude dari virus yang ditemukan di Wuhan, China ini langsung membuat kehebohan di seluruh planet bumi. Bahkan jika ada peradaban lain di luar bumi, mungkin peradaban itu juga ikut heboh dengan kehadiran Covid-19 ini.
Standing dari kabar munculnya virus di Wuhan ini sungguh sangat meyakinkan. Terdeteksi pertama pada Desember 2019, pada 20 Januari 2020 jumlah penderita di Wuhan sudah tercatat sebanyak 278 kasus. Jumlahnya terus meningkat menjadi 326 pada 21 Januari 2020.
Tanggal 22 Januari, tercatat 547, lalu 639 kasus di 23 Januari dan terus bertambah menjadi 916 pada 24 Januari 2020. Jumlah ini terus meningkat tak terkendali hingga pada akhirnya tercatat sebanyak 80,4 juta orang terkonfirmasi positif pada 27 Desember 2020.
Begitu juga angka kematian yang terus melonjak. Catatan kematian yang dikaitkan dengan covid-19 ini pertama kali dituliskan sebesar 80 kematian saat kasus berada di angka 2.737 kasus positif. Dan kita tahu, angka kematian ini pada 27 Desember 2020 telah berubah menjadi 1,76 juta kematian secara global serta 20.994 kematian d Indonesia.
Selain angka yang terus bertambah, magnitute covid-19 ini juga tak lepas dari sikap progresif yang diklakukan China dalam mengatasi covid-19 di babak awal kisah yang sedang kita mainkan bersama ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)