Horizzon
Mengeja Tahun Pagebluk 2020
Kisah awal covid-19 semakin lengkap dengan langkah progresif China membangun rumah sakit super besar hanya alam 10 hari.
Penegasan bahwa Covid-19 tidak terdeteksi di Indonesia kembali disampaikan pemerintah melalui Menteri Kesehatan Terawan pada 11 Februari. Menjawab keraguan dunia internasional, Terawan juga menantang Universitas Harvard untuk membuktikan bahwa Covid-19 sudah masuk ke Indonesia.
Sehari berikutnya, yaitu 12 Februari, Indonesia masih percaya diri bahwa Covid-19 belum masuk Indonesia. Bahkan Presiden Jokowi masih kontak telepon dengan Xi Jinping dan menyatakan Indonesia akan membantu China melawan korona.
Pada 17 Februari kita kembali ingat dengan jurus nasi kucing Budi Karya Sumadi yang bikin kebal terhadap korona. Bersamaan dengan itu, Menteri Kesehatan Terawan juga menyebutkan bahwa kekuatan doa menjadi kunci bagaimana RI bebas dari Covid-19.
Masih soal kelakar terhadap Covid-19, pada 24 Februari, Kepala BKPM Bahlil di depan Hary Tanoe mengatakan bahwa corona tak masuk Indonesia karena izinnya susah.
Situasi berubah pada 1 Maret 2020. Saat itu dengan ‘lancang’ Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut ada 115 kasus Covid-19 di Jakarta. Namun lagi-lagi, pernyataan Anies ini dibantah oleh Menteri Terawan dengan menyebut bahwa pernyataan Anies salah alias keliru. Terawan memastikan semua pasien yang dimaksud Anies adalah negatif.
Fase ini menjadi fase menarik. Di tanggal yang sama, Fahira Idris, anggota DPR RI juga dilaporkan sejumlah pihak ke polisi karena mengunggah informasi terkait pasien Covid-19 di akun Twitter-nya. Fahira Idris juga di-bully akun-akun buzzer yang menyebut mencari panggung dan menciptakan kepanikan.
Namun, polemik ini langsung berakhir sehari berikutnya. Pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi merilis keberadaan dua pasien Covid-19 dan menyebut Indonesia sudah siap. Sehari berikutnya, 3 Maret 2020, Menkopolhukam Mahfud MD meminta agar kepala daerah tak menjadikan
Covid-19 sebagai panggung politik.
Usai mengakui keberadaan dua pasien Covid-19, pada 3 Maret 2020, Presiden Jokowi sebagai kepala negara meminta masyarakat tetap waspada, tetap tenang, dan beraktivitas seperti biasa. Jokowi juga menyampaikan bahwa gejala Covid-19 mirip seperti flu biasa.
Pada 5 Maret, publik kembali ditenangkan oleh Mahfud MD yang menyebutkan bahwa korban meninggal akibat flu biasa jauh lebih banyak dibanding Covid-19.
Fase serius
Situasi menjadi serius sejak pemerintah mengumumkan bahwa Covid-19 sebagai bencana nasional. Ini terjadi tercatat pada 14 Maret 2020 saat data menyebut angka terkonfirmasi positif di posisi 69 orang positif dan empat orang meninggal dunia dikaitkan dengan Covid-19.
Pertengahan April-Mei adalah fase paling menakutkan bagi bangsa ini. Angka terus bertambah,
sementara kita seperti tak berdaya menangani wabah. Gojekan-gojekan dari tokoh publik kita saat itu seperti momok menakutkan. Usai itu, kita ingat betul muncul edaran agar masjid-masjid untuk sementara ditutup.
Kebijakan itu muncul setelah wacana lockdown menjadi perdebatan publik. Akhirnya pada 6 April 2020, Jakarta menerapkan kebijakan PSBB setelah diteken oleh Menteri Kesehatan. Situasi mencekam kala itu bersamaan dengan razia masker oleh aparat keamanan. Saat itulah titik paling krusial Covid-19 di negeri ini.
Kampung-kampung di Jawa menutup diri dari orang luar, termasuk warganya sendiri yang menjadi perantau yang akan pulang juga dilarang. Kondisi makin mengenaskan saat penerbangan ditutup menjelang libur Idulfitri sekaligus pembatalan cuti bersama Idulfitri.
Penutupan penerbangan domestik inilah yang tampaknya paling nyata dampaknya terhadap lesunya perekonomian. Penutupan penerbangan domestik itu didasarkan pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020, di mana pemerintah menutup sementara penerbangan domestik di Indonesia, efektif mulai Sabtu 25 April 2020 hingga 31 Mei 2020.
Panjang sekali fase menakutkan yang kita alami hingga pada suatu masa, lahirlah apa yang kit aingat sebagai era new normal, era yang diatas sudah disebutkan bahwa frasa tersebut rupanya gagal menjadi top of mind kita semua.
Kita hanya ingat, era new normal lahir berbarengan dengan lahirnya kebijakan rapid test sebagai dokumen perjalanan. Sejak era itulah, yang terjadi tanpa kita sadari adalah angka yang terus melonjak.
Namun saat itu namun publik yang lama 'terpenjara' selama era PSBB seakan sudah kelelahan. Publik menjadi makin abai dan muncul ketidakpercayaan terkait dengan pandemi ini.
Suasana publik saat ini seperti potret awal sikap pejabat kita yang membuat corona sebagai bahan mainan dengan celoteh-celoteh lucu. Publik seakan sedang mempraktikkan lelucon nasi kucing ala Budi Karya Sumadi lah, entah joke izin masuk ala Bahlil.
Kita melihat, di penghujung 2020 ini, pemerintah menaikkan eskalasi penanganan covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat. Memperketat dokumen perjalanan, melakukan razia protokol kesehatan dan langkah lainnya.
Yang pasti kita semua sudah lelah betul melewati tiga bulan (baca satu tahun) ini hanya bicara soal Covid-19. Kita ingin tema baru, harapan baru, peruntungan baru di tahun baru 2021 mendatang.
Apakah kita sudah menemukan jawabannya dari semuanya? Jika jawabannya adalah vaksin, maka biarlah mereka yang paham meneruskan alfabet dari tulisan ini.
Kita hanya tahu, saat tak ada lagi harapan, satu-satunya tempat untuk bersandar adalah kepada Sang Pemilik Semesta. Dan kita tahu betul bagaimana caranya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)