Horizzon
Mengeja Tahun Pagebluk 2020
Kisah awal covid-19 semakin lengkap dengan langkah progresif China membangun rumah sakit super besar hanya alam 10 hari.
Langkah bombastis China melakukan isolasi terhadap Kota Wuhan yang disebut menjadi sumber virus ini pada 23 Januari 2020 melengkapi awal mula kisah covid-19. Kota tersebut dinyatakan tertutup, baik melalui darat maupun udara. Sehari berikutnya, Huanggang dan Ezhou, kota-kota yang berdekatan dengan Wuhan juga dikarantina, disusul dengan beberapa kota lain di China.
Saat China melakukan langkah progresif terkait Covid-19, Reuters juga melaporkan adanya virus serupa yang ditemukan di Jepang dan Korea Selatan. Berselang sehari, virus serupa terdeteksi di AS dan Taiwan yang bersumber dari wisatawan yang baru pulang dari Wuhan.
Tanggal 24 Januari, Reuters mencatat ada 13 negara yang mengonfirmasi adanya virus serupa dengan yang ditemukan di Wuhan, China.
Kisah awal covid di Cina semakin lengkap dengan langkah progresif pembangunan rumah sakit super besar dan super cepat yang dilakukan pada akhir Januari 2020. Rumah sakit yang kelar dibangun dalam 10 hari ini memiliki luas 25.000 meter persegi dan dilengkapi 1.000 tempat tidur.
Mau tidak mau, langkah China ini telah memaksa mata dunia melihat bahwa China sedang menghadapi masalah serius dengan covid-19. Dan ini adalah virus, sehingga apa yang dihadapi China bisa dihadapi negara manapun. Suka tidak suka, mau tidak mau, semua mata dunia melihat ke China, dan Wuhan serta Covid-19 di awal kisah ini dimulai.
Sementara itu saat China sedang sibuk jibaku melawan virus, Indonesia masih woles dan merasa virus ini masih jauh. Fase Januari hingga Februari, covid-19 masih menjadi bahan candaan di Indonesia, bahkan oleh pejabat publik kita.
Masih ingatkah kita dengan tokoh yang menyebut Indonesia kebal karena rutin makan nasi kucing? Atau kita juga masih mencatat Wapres Ma'ruf Amin mengatakan bahwa kekuatan doa kunut membuat Covid-19 tak akan masuk Indonesia.
Percaya diri Indonesaia bahwa covid-19 masih jauh juga terpotret pada 26 Februari 2020, dimana pemerintah kita menggelontorkan dana Rp 72 miliar untuk influencer dan diskon tiket pesawat mendongkrak sektor pariwisata.
Penggelontoran dana sebesar Rp 72 miliar ini tentu sangat aneh jika disandingkan dengan kebijakan saat ini, yaitu kebijakan rapid test antigen bagi siapa pun yang akan bepergian dengan tiket pesawat. Tetapi agar kita jernih dalam berpikir, puzzle ini perlu menjadi catatan yang diberi garis bawah untuk perjalanan 2020.
Mayat tak terurus
China tengah berperang, Indonesia promo pariwisata, sementara di fase yang sama, di belahan Amerika Latin, tepatnya Kota Guayaquil, Ekuador justru kelimpungan dengan pandemi Covid-19. Masih bisa kita buka di perpustakaan online, bagaimana berita sangat-sangat mengerikan muncul dari Ekuador.
Kala itu Ekuador melaporkan kewalahan menghadapi Covid-19. Ini ditunjukkan dengan puluhan dan bahkan ratusan mayat tak tertangani karena banyaknya orang meninggal dan dihubungkan dengan kasus Covid-19. Kengerian lantaran ribuan mayat tak tertangani di Ekuador ini terus terjadi hingga April 2020.
April 2020, giliran kengerian akibat Covid-19 ini tersiar dari Brooklyn, Amerika Serikat. Saat itu polisi menemukan puluhan mayat membusuk yang tersimpan di truk karena tidak dibekukan. Setidaknya 40 hingga 60 jenazah ditemukan bertumpuk di truk box U-Haul di pusat pelayanan jenazah.
Masuk Indonesia
Kasus pertama virus corona di Indonesia diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Maret. Akan tetapi, para peneliti tidak sepakat. Menurut mereka, kasus Covid-19 di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak Januari.
Rekam jejak Covid-19 menarik jika kita mulai pada 27 Januari 2020, di mana Presiden Jokowi memastikan Covid-19 tidak terdeteksi di Indonesia.
Ribka Tjiptaning pada 3 Februari 2020 juga sempat bercanda dalam sebuah rapat di DPR. Saat itu, Ribka Tjiptaning bercanda dengan menyebut bahwa korona adalah akronim dari komunitas rondo memesona.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)