Sriwijaya Air Jatuh
Penampakan Dasar Laut, Diduga Puing Pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang Jatuh & Hancur Berkeping-keping
Penampakan Dasar Laut, Diduga Puing Pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang Jatuh & Hancur Berkeping-keping
Menjelang akhir 2005, Sriwijaya Air telah mengoperasikan 14 unit pesawat Boeing 737-200. Chandra Lie pun mengumumkan akan mendatangkan 10 unit Boeing 737-300 dan B737-400. Sriwijaya Air pun akan terbang dengan pesawat yang setipe dengan Garuda Indonesia. Sriwijaya Air mulai menantang Garuda, meski Chandra Lie selalu merendah bila ada yang mencoba menyandingkannya dengan Garuda.
Rencana untuk mendatangkan Boeing dengan tipe yang lebih baru itu juga sejalan dengan rencana Sriwijaya Air untuk ekspansi hingga regional. Sriwijaya Air berekspansi ke Penang dan Singapura, yang dulunya menjadi bagian dari wilayah imperium Sriwijaya.
Tahun 2010, Sriwijaya Air telah mengoperasikan 27 unit pesawat dengan mengangkut 7,12 juta orang. Sriwijaya Air menguasai 11,8 persen pasar penerbangan domestik Indonesia dibawah Lion Air, Garuda Indonesia, dan Batavia Air. Dua tahun kemudian, Sriwijaya Air menyalip Batavia Air sehingga menempati posisi ketiga.
Pada tahun 2010 itu, kabar-kabar positif terdengar dari Sriwijaya Air. Bulan Oktober 2010, Sriwijaya Air menandatangani kontrak pengadaan 20 unit Boeing 737-800 NG, yang juga digunakan Garuda Indonesia.
Sriwijaya Air menguasai 11,8 persen pasar penerbangan domestik Indonesia dibawah Lion Air, Garuda Indonesia, dan Batavia Air.
Selang beberapa minggu, Sriwijaya Air menandatangani kontrak pengadaan 20 unit Embraer dari Brazil. Pesawat Embraer ini setipe dengan Bombardier yang didatangkan oleh Garuda.
"Penambahan 20 unit pesawat baru pada Sriwijaya Air ini juga merupakan jawaban atas tawaran menarik yang dilontarkan Direktorat Angkutan Udara Kementerian Perhubungan untuk ambil bagian dalam penyediaan 4.000 kursi ke Australia pada tahun 2011," kata Direktur Utama Sriwijaya Air Chandra Lie, Jumat (12/11/2010) kepada Kompas.
Meski bersaing, Sriwijaya Air kemudian mempercayakan pemeliharaan dan perbaikan pesawatnya di Garuda Maintenance Facilities atau GMF AeroAsia. Sebelumnya, Sriwijaya Air merawat semua pesawat jenis Boeing 737 di Singapore International Airlines Engineering Company (SIAEC) dan Malaysia Airlines (MAS). Tahun 2011, giliran Sriwijaya Air ekspansi ke Indonesia timur yang ditandai dengan pembukaan penerbangan rute Makassar-Sorong-Manokwari, Senin (4/7/2011).
Awal tahun 2012, Sriwijaya Air telah terbang ke Manokwari dan Sorong di Papua. Kemudian, terbang menuju Ambon, Kupang, Ternate, dan Manado. Pertengahan 2012, seiring kehadiran Boeing 737-800 NG, Sriwijaya Air juga terbang menuju Biak dan Jayapura.
Sriwijaya Air pun mulai menghadirkan kelas bisnis di armada B737-800 NG mereka. Kompas menghadiri peluncuran kelas bisnis itu Selasa (15/5/2012), di Hanggar II Garuda Maintenance Facilities (GMF) AeroAsia di Cengkareng, Banten.
Sebelum kehadiran B737-800 NG, pada hari Senin (9/4/2012) malam, Sriwijaya Air juga menerima Boeing 737-500 yang pertama. Walau sebagian dari B737-500 Sriwijaya Air kemudian dialihkan kepada NAM Air, anak perusahaan Sriwijaya Air.
Tahun 2016, Sriwijaya Air makin tak terbendung. Chandra Lie menargetkan tahun itu sebagai tahun pertumbuhan. Armada Sriwijaya Air telah diperkuat dengan 47 unit pesawat. ”Saat ini harga avtur sedang rendah, membuat biaya operasional kami tak terlalu besar. Apalagi pesawat yang dimiliki adalah pesawat milik sehingga tidak ada beban cicilan kredit,” ujar Chandra, Selasa (28/6/2016).
Untuk mendorong pertumbuhan, Chandra memberikan modal rugi untuk membuka rute-rute baru yang belum pernah diterbangi maskapai lain. ”Tentu ada perhitungan bisnis sampai berapa jauh bisa merugi untuk rute baru. Kalau pasarnya belum terbentuk, pasti rugi,” katanya.
Sriwijaya Air juga telah menerbangan rute ke China. Yang dibidik Sriwijaya Air adalah wisatawan China yang membanjiri dunia termasuk ke Indonesia. ”Kami sudah mempunyai pengalaman internasional dengan mengangkut turis Tiongkok. Sekarang kami ingin terbang ke Jeddah,” kata Direktur Komersial Sriwijaya Air Toto Nursatyo.
Untuk dapat memenuhi ambisi mendatangkan 15 unit pesawat per tahun, Sriwijaya Air sempat menargetkan penawaran umum perdana saham atau IPO pada Maret 2017.