Belanda Melarang Penggunaan Waruga, Ternyata Sarkofagus dari Minahasa Kuno ini Sangat Ditakuti
Belanda Melarang Penggunaan Waruga, Ternyata Sarkofagus dari Minahasa Kuno ini Sangat Ditakuti
BANGKAPOS.COM -- Tak ada yang mengira jika 'Waruga', sejenis sarkofagus dari Minahasa, pernah membuat para penjajah dari Belanda ketakutan hingga melarangnya.
Waruga adalah sejenis sarkofagus atau makam di atas tanah yang secara tradisional digunakan oleh orang Minahasa di Sulawesi Utara ( Sulut ), Indonesia.
Pada zaman Minahasa kuno, seperti dilansir thevintagenews.com, jenazah orang yang meninggal akan dimasukkan ke dalam Waruga dengan posisi jongkok, aslinya dibungkus dengan woka, sejenis daun.
Suku Minahasa percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari utara sehingga jenazah diletakkan dalam posisi menghadap utara.
Mereka terbuat dari batu dan terdiri atau bagian atas bergerigi dan bagian bawah berbentuk kotak.
Baca juga: Harun Yahya Dihukum 1000 Tahun Penjara Setelah Terbukti Lakukan Pelecehan Seksual, Ini Jelasnya
Baca juga: Mau Tetap Cantik Tanpa Flek Hitam di Wajah? Ini Cara Menghilangkannya Secara Alami, Cukup Pakai ini
Baca juga: Wajahnya Dilukis, Anya Geraldine Unggah Momen Bersama Ariel NOAH, Ternyata Bikin Warganet Heboh
Penutup atas berbentuk mirip atap sehingga seluruh Waruga tampak seperti rumah, tradisi yang dipelihara sejak tahun 1600 M.
Makam itu beragam, tergantung profesi atau status sosial orang yang dimakamkan.
Jika ornamennya adalah manusia, itu menandakan bahwa almarhum pernah menjadi pemimpin.
Jika itu adalah sapi, maka yang meninggal adalah seorang pemburu.
Waruga terkadang digunakan untuk menyimpan lebih dari satu mayat.
Kapasitas maksimal Waruga sekitar 12 orang, biasanya dari satu keluarga.
Ada sekitar 370 Waruga di Rap-Rap (15), Airmadidi Bawah (211) dan Sawangan, Sulawesi Utara (144).
Objek wisata ini tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995 di taman purbakala waruga di Sawangan, sekitar 40 Km dari kota Manado.
Baca juga: Avsec Investigasi Terkait Dua Penumpang Sriwijaya Air SJ-182 Diduga Gunakan KTP Orang Lain
Baca juga: Mabes Polri Selidiki 2 Identitas Palsu Penumpang Sriwijaya Air SJ-182, Ini Jelasnya
Di pintu masuk situs terdapat relief dinding yang menceritakan tentang cara membuat Waruga dan cara penggunaannya.
Belanda melarang penggunaan waruga pada abad ke-19 dan Minahasa mulai membuat peti mati untuk menguburkan orang mati karena takut akan wabah penyakit (tifus dan kolera).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/waruga-sarkofagus-dari-minahasa-kuno-okee.jpg)