Breaking News:

Human Interest Story

Berbagi Shift dengan Sang Kakak, Simiang 34 Tahun Tekuni Bisnis Service Jam

Di tengah era industri digital bisnis reparasi jam atau service jam masih fokus ditekuni oleh Simiang (48), warga Semabung Baru. 

Bangkapos.com/Sela Agustika
Simiang (48) jasa service jam di depan toko sepeda di kawasan pusat perbelanjaan Bangka Trade Center (BTC). 

"Kita ada 8 bersaudara, di mana 4 saudara juga terjun ke service jam. Saya disini juga bergantian dan berbagi jadwal jaganya dengan abang saya. Abang saya dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB, terus selanjutnya baru saya lagi dari puku 11.00 WIB sampai pukul 05.00 WIB," tutur Simiang.

Bahkan service jam ini menjadi satu-satunya usaha yang ditekuni bapak lima anak ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Dari service jam inilah menjadi mata pencaharian saya dari dulu untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Dimana sekarang ini untuk anak pertama dan kedua sudah tamat SMA dan sudah bekerja," kata Simiang. 

Meskipun harus berbagi waktu dengan saudaranya, ia tak pernah mempermasalah itu karena baginya rezeki sudah diatur masing-masing oleh Tuhan.

"Mau jam berapa pun kita mulai bekerja, kalau memang sudah menjadi rezeki kita pasti akan ke kita. Kalau pagi itu abang saya dapat berapa itu utuknya semua, begitupun saya seberapun saya dapat dari jam 11 sampai jam 5 ini untuk saya semua juga" ucapnya.

Simiang (48) jasa service jam di depan toko sepeda di kawasan pusat perbelanjaan Bangka Trade Center (BTC).
Simiang (48) jasa service jam di depan toko sepeda di kawasan pusat perbelanjaan Bangka Trade Center (BTC). (Bangkapos.com/Sela Agustika)

Dia mengatakan usaha service jam yang sudah 34 tahun dilakoninya pernah mendapatkan penghasilan tertinggi mulai dari Rp10.000 hingga Rp 200.000.

"Kalau pendapatan ini kita tidak menentu. Waktu dulu sehari pernah dapet penghasilan Rp10.000, di mana jumlah nominal ini sangat tinggi dan ini bisa buat makan untuk kita sekeluarga berdelapan, karena dulunya harga kebutuhan masih murah, beda dengan sekarang. Kalau sekarang ini jika sedang ramai pernah dapat lebih dari Rp 200.000 tetapi kalau sepi, terutama selama pandemi kadang cuma dapat kisaran Rp 100.00," ungkap Siaming.

Berbagai jenis jam sudah ia tangani, bahkan banyak dari pelangan yang tidak mengambil jam yang sudah ia perbaiki.

"Kalau pelanggan yang tidak ambil jam ini sudah biasa terjadi di kita dan sampai saat ini banyak jam-jam orang yang tidak diambil lagi," katanya

( Bangkapos.com / Sela Agustika )

Penulis: Sela Agustika
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved