Breaking News:

Mayat Dalam Karung

Abdullah Yahya Segera Disidang, Penyidik Polres Pangkalpinang Lengkapi Berkas Pembunuhan Ayu Carla

Penyidik Polres Pangkalpinang masih melengkapi berkas Abdullah Yahya, tersangka pembunuh Ayu Carla (29).

Bangkapos.com/Yuranda
Abdullah Yahya saat dengan kondisi jalan pincang karena ada luka tembakan di kaki saat dikawal Anggota Polres Bangka ketika digelar Konferensi pers pelaku pembunuh Ayu (29) di Penginapan Dewi Resident II, Kacangpedang, Kota Pangkalpinang, Senin (23/11/2020) 

Tak hanya Ita, Novi (18) adik Ayu dan ayahnya Hasanusi (58) yang hadir di tempat rekreasi juga berlinang air mata ketika melihat Yahya.

Ita kemudian terlihat sedikit 'beringas'. Apalagi saat tersangka digiring menuju tempat rekonstruksi.

Raut wajahnya berubah memerah dengan sorotan mata tajam seakan ingin membalas sakit hati yang mereka rasakan.

Ita dan anggota keluarganya pun berusaha mendekati warga pendatang asal Kutaraya, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan itu.

Namun pengawalan ketat anggota kepolisian membuat mereka tak mampu berbuat apa-apa.

Selama rekonstruksi yangdigelar Sat Reskrim Polres Pangkalpinang, Ita tak pernah melepaskan pandangannya ke arah Yahya.

Begitu juga dengan anak perempuan Ita yang terus mendampingi sang ibu. Bahkan kedua tangannya terlihat selalu mengepal seakan ingin memukul tersangka.

Saat reka ulang berlangsung hujan sempat turun, namun tidak menyurut semangat keluarga Ayu untuk menyaksikan pelaku pembunuhan sadis itu.

Tidak setuju

Ita sempat merasa aneh saat menyaksikan satu persatu reka ulang yang diperagakan oleh pelaku.

Ia tak setuju dengan salah satu adegan yang menurutnya dikarang oleh Yahya.

"Cerita bohong, saya tidak setuju, saya tahu adik saya. Dia tidak mudah terayu lelaki yang baru dia kenal, apalagi diiming-iming nikah, karena adik saya tidak begitu," teriak Ita dengan mata berkaca-kaca.

Lanjut Ita, di adegan ke-3 saat korban menyuruh pelaku mengambil tas juga tidak benar. Kata dia, barang apapun yang dimiliki oleh adiknya tidak boleh disentuh oleh siapa pun, termasuk dirinya.

"Orangnya sangat teliti, tidak mudah memegang barangnya apalagi diletakan di motor, dan menyuruh orang lain yang mengambilnya. Kami juga tidak diperbolehkan Ayu memegang barang miliknya," ungkap Ita.

Namun, Ita menyerahkan semuaya kepada pihak kepolisiana dan pelaku dapat dihukum setimpal atas perbuatannya.

Saat adegan rekonstruksi hampir selesai, Ita, Novi dan keponakan Ayu, kembali bergegas berusaha mendekati Yahya.

Namun upaya itu gagal karena ketatnya pengawalan yang dilakukan polisi. Ita yang sempat mendekat dan berusaha memukul pelaku dapat ditahan Anggota Satreskrim Polres Pangkalpinang.

Walaupun sedikiti dibuat kerepotan, polisi akhirnya berhasil kembali membawa masuk Yahya ke dalam mobil tahanan.

Kesal gagal mendekati Yahya dan meluapkan dendam, Ita dan anggota keluarganya pun menangis histeris. Bahkan cacian dan makian serta kata-kata kasar terlontar dari mulut mereka.

Suasana pun sempat heboh dan menarik perhatian warga sekitar lokasi rekonstruksi itu.

Sekitar pukul 12.30 WIB mobil tahanan Polres Pangkalpinang yang membawa pelaku meninggalkan lokasi kembali Polres Pangkalpinang.

Adegan ke-13 Paling Mematikan

Rekonstruksi kasus pembunuhan di Penginapan Dewi Residence II, Kacangpedang yang digelar Satreskrim Polres Pangkalpinang, Kamis (28/1) dihadiri Kejaksaan Negeri Pangkalpinang, keluarga korban Ayu Carla (28) dan penasehat hukum pelaku Abdullah Yahya.

Reka ulang yang dilakukan sebanyak 48 adegan berjalan normal. Adegan dimulai perkenalan pelaku dan korban dari media sosial MiChat, hingga bertukar nomor WhatsApp dan bertemu di Penginapan Dewi Residence II, Kacangpedang.

Dipertemuan kedua, Yahya dan Ayu sempat berbincang mencari kos-kosan untuk pelaku.

Pelaku dan korban kemudian sempat jalan-jalan ke Pantai Pasir Padi. Selajutnya di sore hari mereka kembali ke penginapan tersebut.

Mereka sempat berbincang di dalam kamar penginapan, lalu terjadi cekcok yang berakhir dengan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh pelaku.

Dari seluruh adegan reka ulang pada adegan ke-13 merupakan adegan awal yang menyebabkan tewasnya Ayu.

Dilanjutkan dengan adegan ke-14 sampai ke-16, dimana Yahya menghabisi Ayu dengan membekap kepala korban pakai bantal menggunakan kedua tangannya dan menekan dada korban dengan kedua lutut, sekuat tenaga.

Di adegan 15, Ayu sempat kejang-kejang dan akhirnya menghembuskan napas terakhir di adegan ke-16.

Setelah membunuh Ayu, pelaku langsung memindahkan mayat korban ke belakang penginapan melalui jendela belakang. Selanjutnya Yahya langung mencari karung untuk membungkus jasad korban.

Lalu Yahya mencoba membawa keluar mayat Ayu dari penginapan dengan sepeda motor.

Namun saat mayat ingin diangkat ke atas motor, motor pelaku roboh. Pelaku kembali mencoba tetapi gagal lagi.

Yahya akhirnya memutuskan mengembalikan mayat tersebut ke tempat semula dengan cara menyeret mayat itu kembali.

Sebelum, memasukan mayat Ayu ke dalam karung, Yahya juga sempat menghilangkan barang bukti, berupa dokumen kependudukan milik korban dengan cara membakarnya.

Aksi itu diperagakan pelaku pada adegan ke-40. Yahya juga mengambil surat kendaraan dan motor serta handphone korban.

Pelaku kemudian pergi melarikan diri ke kampung halamannya dan meninggalkan mayat Ayu di Penginapan Dewi Residence II, Kacangpedang, Gerunggang Kota Pangkalpinang.

Setelah buron sekitar satu minggu, Yahya akhirnya berhasil ditangkap di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Kamis (19/11).
Yahya diringkus Tim Gabungan Polres Pangkalpinang, dibantu Polda Bangka Belitung dan dibackup Polda Sumsel dan Polres Ogan Komering Ilir (OKI).

KBO Satreskrim Polres Pangkalpinang, Ipda Imam Satriawan membenarkan adegan reka ulang ke-13 hingga ke-16 adalah yang menyebabkan Ayu meninggal dunia.

Pada adegan itu kepala korban dibekap dengan bantal dan dada korban ditekan dengan kedua lutut pelaku.

"Kemudian pelaku membenturkan lututnya ke dada korban dengan turun naik selama kurang lebih lima menit dan akhirnya korban pun kejang-kejang dan pelaku pun menghentikannya," kata Imam, Kamis (28/1).

Ia menjelaskan kembali kronologis pembunuhan Ayu. Dia mengatakan, sebelum pembunuhan ini terjadi, pada 9 November 2020 lalu, pelaku awalnya mencari kontak perempuan melalui aplikasi Mi-Chat dan pelaku mendapatkan satu kontak atas nama Ayu.

Kemudian, kata Imam, pelaku berkomunikasi dengan Ayu melalui aplikasi Mi-Chat dan mengaku bernama Hengki.

Selanjutnya, pelaku meminta nomor whatsapp korban yang akhirnya komunikasi pun terus berlanjut.

Dalam komunikasi itu, dikatakan Imam, pelaku sempat merayu-rayu Ayu dan mengatakan kepada korban bahwa dirinya bekerja sebagai karyawan bank.

Bahkan dalam rayuan itu, pelaku sempat mengajak korban menikah yang akhirnya membuat korban percaya atas rayuan tersebut.

"Pada 10 November 2020 ini lah, pelaku dan korban bertemu di kamar nomor 11 yang sebelumnya sudah diberitahu oleh pelaku. Saat tiba di penginapan, pelaku dan korban sempat ngobrol-ngobrol sebentar, lalu mengajak pelaku jalan-jalan ke Pantai Pasir Padi, dengan menggunakan sepeda motor korban," sebut Imam.

Sesampai di Pasir Padi, lanjut Imam, pelaku dan korban duduk di pinggiran pantai. Kemudian korban menitip tasnya karena hendak membeli kopi untuk keduanya.

Saat memegang tas korban, lanjut Imam, timbullah niat pelaku untuk mengambil handphone milik korban yang berada di dalam tas.

Hanya saja, niat tersebut belum terlaksana lantaran sudah kembali dari membeli kopi.

Setelah puas menikmati suasana Pantai Pasir Padi, pelaku mengajak korban untuk menemaninya mencari kos-kosan yang rencananya nanti akan ditempati bersama korban.

"Setelah kos-kosan ditemukan, korban akhirnya mengajak pelaku untuk pulang ke penginapan karena sudah magrib, dan pelaku mengiyakannya," terang Imam.

Sesampai di penginapan sekitar pukul 17.45 WIB, kata Imam, seperti dalam adegan pertama dan kedua, korban langsung turun dari motor dan berjalan menuju kamar nomor 11.

Sementara pelaku memarkirkan sepeda motor di lorong penginapan tepatnya disamping kamar nomor empat dan nomor lima.

Saat hendak memarkir motor, dalam adegan ketiga itu, korban sempat meminta tolong kepada pelaku untuk mengambil dan membawa tas miliknya yang tergantung di kedua spion motor.

"Korban dan pelaku pun langsung masuk ke kamar dan duduk di atas tempat tidur. Pelaku pun menyerahkan tas milik korban dengan menggunakan tangan sebelah kiri, sementara tangan kanan masih memegang HP korban," kata Imam.

Selanjutnya, saat korban hendak mengambil handphone di dalam tas, korban tidak menemukannya dan langsung menanyakan kepada pelaku.
Kemudian dijawab pelaku bahwa hanphone korban sudah diambil dan ingin dijual.

Karena handphone tidak dikembalikan oleh pelaku, kata Imam, korban langsung berteriak minta tolong sebanyak dua kali. Merasa panik atas teriakan korban, pelaku pun langsung mendekati dan mendorong tubuh korban hingga terbaring di atas tempat tidur.

Saat posisi terbaring pelaku langsung mengambil satu buah bantal warna hitam dan menghabisi nyawa korban.

"Kasus ini akan dilimpahkan ke pihak kejaksaan, akan pelaku akan dijerat 2 pasal berlapis yakni Pasal 338 KUHP dan Pasal 365 ayat 3 KUHP. Dari masing-masing pasal tersebut, tersangka dikenakan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Maka lanjutnya bila ditotalkan ancaman hukuman yang menjerat Abdullah Yahya, menjadi 30 tahun penjara," jelasnya.

Tidak ada niat

Fauzan penasehat hukum Abdullah Yahya, mengatakan berdasarkan hasil reka ulang, pelaku tidak berniat melakukan pembunuhan berencana.

"Pokok perkara dari rekonstruksi berjalan lancar. Kalau pembunuh berencana tidak masuk, berdasarkan jalannya rekonstruksi tidak ada niat pelaku melakukan pembunuhan terhadap korban," kata Fauzan, Kamis (28/1).

Fauzan berharap, penyidik Polres Pangkalpinang harus mengembangkan modus pembunuhan itu. Apakah dari segi perampokan atau pencurian dengan pemberatan atau ada latar belakang lain.

"Setelah kita lihat dari rekonstruksi itu, pelaku hanya ingin menguasai harta korban saja," ungkapnya.

Menurutnya, pembuahan terjadi karena korban histeris saat disekap sehingga pelaku panik dan membekapnya dengan bantal.

Disinggung apakah pelaku berencana memutilasi korban, Fauzan mengatakan tidak ada, hanya saja pelaku ada niat mengalihkan mayat tersebut ke tempat lain.

"Pelaku ingin mengalihkan mayat ke tempat lain. Karena kondisi korban berat saat diangkat ke motor sempat jatuh sebanyak dua kali. Sehingga pelaku langsung meletakkan korban ke tempat semula," ujarnya. ( Bangkapos.com / Yuranda)

Penulis: Yuranda
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved