Breaking News:

Tribunners

Program Langit Biru, Cita-Cita Atau Realitas?

Suksesnya Program Langit Biru ini ada di tangan kita sebagai masyarakat karena kita adalah end user dari BBM

Editor: suhendri
Program Langit Biru, Cita-Cita Atau Realitas?
ISTIMEWA
Ririn Yulianingsih, S.Ds., MM - Alumni Pascasarjana Manajemen Bisnis UEU

PADA Kamis 18 Maret 2021, diadakan talkshow dan diskusi publik episode ke-4 secara virtual melalui aplikasi zoom dengan tema yang sama, yaitu "Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru". Diskusi publik ini merupakan program khusus Kantor Berita Radio (KBR) yang dipersembahkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Webinar edukatif ini memiliki banyak narasumber keren dan inspiratif seperti Faisal Basri selaku pengamat ekonomi, Dasrul Chaniago selaku Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tulus Abadi selaku ketua pengurus harian YLKI, Deny Djukardi sebagai PSO Fuel Retail Marketing Manager PT Pertamina, para influencer, Bappeda, Dinas Kesehatan, Lingkungan Hidup, Perhubungan, PUPR, Kebudayaan dan Pariwisata, Perindustrian dan Perdagangan, ESDM, Kapolres, blogger, rekan-rekan jurnalis serta mahasiswa dari Kota Makassar, Jayapura, Manokwari, Mataram, Kabupaten Bangka Tengah, dan Kabupaten Mempawah.

Pernah enggak sih pembaca mendengar tentang Program Langit Biru? Masih banyak lo yang belum tahu tentang program lingkungan ini karena memang edukasinya yang masih belum maksimal. Penulis sendiri baru aware tentang isu ini setelah mengikuti webinar edukatif ini.

Program Langit Biru pertama kali dicanangkan pada tahun 1996 oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.15 Tahun 1996 (KEP-15/MENLH/4/1996) dan sudah diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Intinya, program ini bertujuan untuk membuat langit kita menjadi biru, dengan cara mengendalikan dan mencegah pencemaran udara, serta mewujudkan perilaku sadar lingkungan. Salah satunya dengan menggunakan BBM (bahan bakar minyak) ramah lingkungan. Biar langit kita tidak butek alias polutan, terutama di wilayah perkotaan.

Sebelumnya, penulis ingin memberi sedikit insight. Belum lama ini, warga Indonesia terutama Jakarta, digemparkan dengan munculnya penampakan Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak yang terletak di Jawa Barat, yang terlihat jelas dari Jakarta sehingga menghebohkan laman sosial media kita. Padahal, pada pertengahan 2019, data dan fakta menunjukkan bahwa polusi di Jakarta telah mencapai ambang batas bahaya yaitu 180 micron. Namun, sekarang sudah turun sepertiganya. Kan keren banget ya kalau pemandangan langka ini dapat terus kita saksikan, plus langit biru nan bersih yang juga akan meningkatkan kualitas oksigen yang kita hirup. Tentunya kita akan hidup lebih sehat dan bahagia.

Banyak netizen yang beranggapan bahwa fenomena menarik ini adalah implikasi dari adanya pandemi Covid-19. Di mana pembatasan aktivitas sosial atau social and physical distancing, imbauan #dirumahaja, WFH, belajar dari rumah, menjadi penyebab minimnya aktivitas di luar rumah sehingga udara kita menjadi lebih bersih dan sejuk. Hal tersebut enggak salah kok. Ada sebab dan akibat yang berkorelasi dengan harmonis.

Tetapi, kalian tahu enggak kalau kendaraan bermotor berkontribusi sebanyak 70 persen terhadap pencemaran udara? Bukan rahasia lagi kalau salah satu penyebab polusi udara adalah asap kendaraan. Ya begitulah, dari kendaraan kita, kendaraanmu, dan kendaraanku.

Setelah dapat pencerahan dari diskusi publik ini, penulis ingin berbagi sedikit ilmu kepada para pembaca. Berbicara kendaraan, tentunya tidak terlepas dari bahan bakar. Ternyata, ketika kita memakai BBM dengan emisi yang lebih baik, maka lingkungan kita juga akan lebih bersih dan segar.

Seperti yang kita ketahui, BBM di Indonesia ada banyak jenisnya dan memiliki nilai oktan yang berbeda pula. Nilai oktan atau Research Octane Number (RON) merujuk pada seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan. Dengan bensin yang sesuai, maka pembakaran yang terjadi di ruang mesin akan lebih sempurna sehingga berpengaruh terhadap keawetan komponen.

Bahan bakar minyak yang ramah lingkungan memiliki minimal RON 91. Dikutip dari website resmi Kementerian ESDM (https://migas.esdm.go.id/), terkait BBM ramah lingkungan, telah diterbitkan Peraturan Menteri LHK No. P.20 Tahun 2017, di mana sesuai Permen LHK tersebut, kendaraan bermotor yang sedang diproduksi wajib memenuhi baku mutu emisi gas buang paling lambat pada Oktober 2018 untuk kendaraan berbahan bakar bensin, dengan spesifikasi BBM yang dipersyaratkan yaitu nilai RON minimal 91 dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm.

Selanjutnya, pada April 2021 untuk kendaraan berbahan bakar solar. Spesifikasi BBM yang dipersyaratkan yaitu nilai cetane number minimal 51 dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm.

Nah, di Indonesia sendiri, khususnya di Pertamina, premium mempunyai RON 88, pertalite RON 90, pertamax RON 92, dan pertamax turbo mempunyai RON 98. Selain itu, Shell mempunyai Super dengan RON 92 dan V-Power dengan RON 95. Dan Total menjual BBM dengan RON 92 dan 95. Jadi, sebenarnya premium dan pertalite termasuk ke dalam golongan BBM yang tidak ramah lingkungan. Indonesia sendiri merupakan satu dari tujuh negara yang masih menggunakan premium.

Menurut Tulus Abadi, premium dan pertalite saat ini merupakan BBM yang tidak sesuai standar Euro atau European Emission. Pertalite memiliki RON 90, tinggal di-upgrade satu tingkat ke angka 91 untuk memenuhi standar Euro. Pada saat ini Indonesia masih menggunakan Euro II, berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 141/2003 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru sejak 2007. Tetapi masih banyak kendaraan pribadi atau umum yang masih menggunakan standar emisi Euro 1. Pada 1 Agustus 2013 Pemerintah RI mulai menerapkan Euro III pada kendaraan bermotor roda dua. Sepeda motor harus menggunakan BBM standar Euro 3 dengan oktan 91 dan tanpa timbal. Tetapi sampai saat ini, pelaksanaan kebijakan masih belum efektif. (Sumber: gaikindo.or.id)

Dilansir dari otomotif.kompas.com, penerapan standar emisi sudah selayaknya diikuti dengan peningkatan kualitas BBM. Contohnya Euro I, mengharuskan mesin minum bensin tanpa timbal. Euro II untuk mobil diesel harus menggunakan solar dengan kadar sulfur di bawah 500 ppm. Makin tinggi standarnya makin butuh bensin berkualitas. Itulah alasan mengapa di Indonesia masih ada tarik ulur antara kebutuhan mesin ramah lingkungan dengan ketersediaan bahan bakar berkualitas sehingga draf penerapan standar emisi Euro IV yang dirancang sejak 2012, baru terlaksana awal tahun 2018. Saat ini, Pertamina sudah menyatakan siap mendukung aturan emisi standar Euro IV. Agar penerapan standar emisi ini lebih maksimal, minimal mobil menenggak bensin RON 92.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved