Breaking News:

Tribunners

Program Langit Biru, Cita-Cita Atau Realitas?

Suksesnya Program Langit Biru ini ada di tangan kita sebagai masyarakat karena kita adalah end user dari BBM

Editor: suhendri
Program Langit Biru, Cita-Cita Atau Realitas?
ISTIMEWA
Ririn Yulianingsih, S.Ds., MM - Alumni Pascasarjana Manajemen Bisnis UEU

Butuh Teknologi Mumpuni

Untuk mengganti bahan bakar ramah lingkungan diperlukan teknologi yang mumpuni, sedangkan pemerintah belum bisa memenuhi ekspektasi tersebut. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah memperketat emisi bahan bakar minyak (BBM), dari Pertamina sudah melakukan beberapa program seperti diskon pembelian pertamax melalui aplikasi My Pertamina dan melakukan berbagai promo atau cashback lainnya, milenial dan para influencer sebagai agen perubahan, mengedukasi netizen, namun juga harus ada dukungan dari berbagai kementerian lainnya seperti Kementerian ESDM.

Terjadi inkonsistensi dari pemerintah terkait implementasi Program Langit Biru sehingga YLKI menggencarkan berbagai program untuk menagih janji pemerintah dalam konsistensi dan komitmennya dalam mewujudkan Program Langit Biru. Dasrul Chaniago berujar, "Ketika emisi BBM diperketat, maka diperlukan peningkatan teknologi sehingga harus ada kesinambungan antara hulu dan hilirnya."

Regulasi mengarahkan BBM ramah lingkungan jenis A, kemudian masih ada BBM yang belum sesuai dengan regulasi. Dalam hal ini, masyarakat tak bisa disalahkan karena mereka cenderung akan memilih BBM yang lebih murah di hari ini, padahal mereka belum mempertimbangkan biaya perawatan atau maintenance mesin kendaraan mereka di kemudian hari.

Faisal Basri berpendapat bahwa semua produksi industri otomotif sudah memenuhi standar Euro Core. Tinggal konsumennya yang harus menyesuaikan diri sesuai kebijakan para regulator demi kemaslahatan bersama, demi bisa menghirup udara yang segar dan bersih.

Faisal Basri menyatakan bahwa penurunan drastis harga minyak pada April 2020 sebenarnya merupakan 'momentum emas' atau kesempatan yang potensial untuk 'membunuh' premium dan kalau bisa, sekalian juga pertalite. Tentunya, dengan sekali sosialisasi penghapusan premium dan pertalite kepada masyarakat dan berbagai pihak, diharapkan regulasi ini bisa sekali libas.

Jangan premium dahulu, lalu ribut, kemudian setelah kontroversi mereda, nanti dipantik lagi dengan isu penghapusan pertalite. Lebih baik sekaligus, dua-duanya dihapuskan berbarengan. Oleh sebab itu, diperlukan konsistensi regulator yang tegas dan berkesinambungan karena sebenarnya kesadaran rakyat akan penggunaan BBM ramah lingkungan sudah lumayan baik, yang dibuktikan dengan penggunaan pertamax bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang jumlahnya lumayan banyak. Tidak sedikit pula masyarakat yang sadar bahwa pertamax lebih bagus untuk mesin kendaraan mereka.

Tinggal bagaimana pemerintah dan para pihak terkait menyosialisasikan BBM ramah lingkungan ini agar tidak memicu keributan dan protes dari publik. Masih ingatkah publik ketika ada konversi premium ke pertalite? Tidak ada sosialisasi dan edukasi yang mumpuni dari pemerintah ke seluruh lapisan masyarakat sehingga banyak warga yang kebingungan dengan peralihan ini. Jangan sampai hal ini kembali terulang di kemudian hari.

Untuk menghapuskan premium memang agak sulit karena mayoritas penggunanya adalah masyarakat kalangan menengah ke bawah. Tetapi, kalau sudah berhasil dihilangkan, sebaiknya jangan diadakan lagi agar tidak menimbulkan keresahan publik. Karena mau bagaimanapun, pasti masyarakat akan memilih BBM yang harganya paling murah.

Persoalannya adalah ketidakkonsistenan pemerintah dalam pengadaan BBM tidak ramah lingkungan ini. Faktanya, di perkotaan sudah sedikit sekali SPBU yang menyediakan premium. Sebaiknya, jika memang mau dihilangkan, sekalian saja ditiadakan di semua SPBU sehingga yang paling rendah atau murah adalah pertalite.

Kembali lagi, mayoritas pengguna akan memilih pertalite yang memiliki harga lebih murah dibandingkan pertamax. Contohnya konversi minyak tanah ke gas 3 kg. Asal masih ada minyak tanah (yang harganya lebih rendah), maka akan susah karena masih ada pilihan lain yang harganya lebih murah. Jika sudah tidak ada pilihan lain, diharapkan habit masyarakat dapat berubah seiring ketegasan dan konsistensi para pembuat kebijakan.

Perlu adanya literasi komunikasi karena saat ini dunia ada di dalam genggaman, ada sosial media yang dapat diakses siapa saja dan di mana saja. Kenapa tidak menyentuh ranah itu untuk mengedukasi ke arah sana? Perlu diberitahukan apa urgensinya konversi pertalite ke pertamax ini. Dengan edukasi dan sosialisasi, bukan semata karena terpaksa.

Penulis yakin, semua lapisan masyarakat juga ingin menjaga lingkungan dan keseimbangan alam ini. Menurut penulis, kalau memungkinkan, label pertalite tidak perlu dihilangkan, hanya tinggal menambah RON-nya menjadi minimal 91 agar masuk ke dalam kategori BBM ramah lingkungan.

Menurut Sudar dari YLKI, perlu urgensi masyarakat dalam memahami product knowledge dari produk otomotif dan BBM. Konsumen harus lebih aktif mengajukan pertanyaan. Dan dari sisi produsen atau industri otomotif, transparansi produk juga tak boleh diabaikan. Spesifikasi BBM semestinya dideskripsikan lebih detail, misalkan harus menggunakan BBM dengan minimal RON 92.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved