Sabtu, 18 April 2026

Diabetes

Ini Golongan Darah yang Dianggap Bisa Meningkatkan Risiko Diabetes

Satu dari setiap empat orang dengan diabetes tidak tahu bahwa mereka memiliki penyakit tersebut.

Editor: suhendri
Mahasiswa UMN
Ilustrasi Diabetes Melitus 

BANGKAPOS.COM - Nama Dr Karl Landsteiner mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang.

Dr Karl Landsteiner merupakan pemenang hadiah Nobel pada 1930 setelah mengembangkan sistem golongan darah ABO.

Sistem ABO sekarang menjadi metode paling terkenal untuk mengklasifikasikan golongan darah.

Siapa saja kiranya penting untuk dapat mengetahui golongan darah masing-masing sebagai langkah antisipasi jika suatu saat nanti perlu menerima atau memberikan darah.

Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengetahui golongan darah bisa mengingatkan orang-orang tentang jenis penyakit autoimun tertentu yang lebih mungkin dialami, seperti penyakit Hashimoto atau Rheumatoid arthritis (rematik).

Mengapa ada perbedaan golongan darah?

Dilansir dari Medical News Today, golongan darah manusia ditentukan oleh jenis protein yang ditemukan pada sel darah merah yang disebut antigen.

Tergantung pada jenis antigen yang dimiliki, golongan darah bisa diklasifikasikan sebagai:

* Golongan darah A: darah yang mengandung antigen A

* Golongan darah B: darah yang mengandung antigen B

* Golongan darah AB: darah yang mengandung antigen A dan B

* Golongan darah O: darah yang tidak mengandung antigen A atau B

Dalam pembasahan golongan darah, Anda mungkin pernah juga mendengar tentang golongan darah yang disebut sebagai "positif" atau "negatif".

Bagian golongan darah ini ditentukan berdasarkan adanya antigen lain yang disebut faktor Rhesus (Rh).

Orang dengan golongan darah positif (Rh+) memiliki antigen pada permukaan sel darah merahnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved