Horizzon
Ketika Empati dan Teror Sulit Dibedakan
Jika menggunakan bahasa Bangka, setugil-tugilnya orang, saat divonis positif Covid-19 pasti syok dan takut
KITA sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Lini media sosial kita dipenuhi dengan kabar-kabar yang serba tak menyenangkan. Berita duka dari kawan-kawan dekat kita datang silih berganti dengan frekuensi yang makin sering.
Hari-hari ini, kita sering mendapat kabar di WAG tentang kawan SMA kita yang berpulang. Kita juga tahu teman main kita waktu kecil juga meninggal.
Atau mungkin bagi kita yang tengah di perantauan juga mendengar bahwa tetangga kampung kita yang usianya bisa dibilang masih muda juga dikabarkan meninggal dunia. Berita itu tentu bukan hoaks, berita tersebut nyata adanya.
Baca juga: Mengeja Tahun Pagebluk 2020
Baca juga: Dari Jurus Nasi Kucing Hingga Keranda Mayat
Seluruh berita kematian yang sampai ke telinga kita memiliki kaitan yang seragam tentang sesuatu yang patut diduga sebagai penyebabnya. Semua kematian itu terkait dengan pandemi yang sedang melanda peradaban kita.
Makin lengkap, kita juga mendengar berita tentang penuhnya rumah sakit yang dibanjiri oleh pasien Covid-19. Berita tersebut juga mendominasi portal-portal online di gadget yang ada di tangan kita.
Penerapan PPKM darurat di Jawa-Bali yang belakangan juga diperluas ke sejumlah daerah di laur Jawa juga 'memaksa' orang berdiam diri di rumah. Situasi tersebut juga memaksa kita makin akrab dengan internet dan televisi sehingga kabar-kabar tak menyenangkan tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dengan hari-hari kita.
Teror kematian dan segala kabar buruk itu benar-benar dekat dengan kita. Virus ketakutan jauh lebih cepat menyerang kita semua dibanding virus corona yang tak perlu didebat, memang ada dan nyata. Namun, sebelum virus itu dekat dengan kita, virus ketakutan ini sudah lebih dahulu menyerang kita semua.
Baca juga: Jika Pandemi Itu Nyata, Maka Cuti Bersama Akhir Tahun Harus Batal
Baca juga: Merancang Hari Kemenangan Indonesia Melawan Corona
Ini bukan yang pertama terjadi, di mana virus ketakutan menyerang peradaban kita. Kita mencoba membuka catatan di sekitar April 2020. Virus kecemasan ini melanda negeri dan peradaban kita sekitar sebulan setelah pemerintah mengonfirmasi bahwa Covid-19 benar-benar masuk ke Indonesia.
Masih ingat bagaimana kala itu aparat keamanan membubarkan kerumunan, menutup toko, dan tempat-tempat lain seolah jam malam diberlakukan?
Masih ingat kala itu jalan-jalan sepi? Semua orang memilih berdiam diri di rumah. Beberapa kampung, terutama di Jawa juga memilih me-lockdown-kan diri dengan menutup pintu masuk ke kampung mereka.
Itulah virus ketakutan atau virus kecemasan pertama kali menyerang peradaban kita. Bandingkan dengan sekarang, situasinya sama persis. Semua orang cemas dan ketakutan.
Yang berbeda hanyalah inang yang ditumpangi oleh virus. Jika dahulu keberadaan Covid-19 menjadi inang yang didomplengi virus kecemasan, kali ini berita tentang kematian menjadi inang masuknya virus kecemasan ke otak kita.
Problemnya adalah saat ini sebaran virus corona ini sudah makin meluas. Bahkan mungkin di badan kita virus itu lengket di baju, sepatu, dompet atau uang dan segala pernak-pernik kehidupan kita. Lebih ekstrem lagi, barangkali virus itu juga menempel di masker yang selalu kita kenakan.
Virus hanya mencari peluang masuk ke tubuh kita dengan sedikit kelengahan kita. Bahkan karena ukurannya yang terlalu kecil, masker yang kita kenakan juga tak efektif untuk mencegah masuknya virus.
Bahkan jika boleh jujur, kita yang tampak sehat-sehat saja ini sangat mungkin sedang terpapar Covid-19. Kita terlihat santai dan tenang seolah bebas dari paparan virus karena tak terdeteksi. Sementara itu, beberapa kawan kita banyak yang harus terkonfirmasi positif terpapar covid-19.
Pernahkah kita membayangkan, jika suatu saat meskipun kita dalam keadaan yang tampak sehat kemudian divonis positif Covid-19? Sekuat-kuatnya kita, siapa pun kita potensi mengalami depresi, down, tertekan dan takut adalah hal yang tak bisa dihindari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)