Minggu, 3 Mei 2026

Virus Corona

Baru Terungkap WHO, Penerima Vaksin Covid-19 Pfizer dan Moderna Punya Efek Samping Sangat Langka

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan regulator di Eropa menemukan hubungan potensial antara vaksin mRNA, yaitu Pfizer dan Moderna

Tayang:
Editor: M Zulkodri
Fresh Daily
Ilustrasi vaksin virus corona. 

BANGKAPOS.COM---Baru-baru ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan penerima vaksin Covid-19 Pfizer dan Moderna punya efek samping yang sangat langka.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan regulator di Eropa menemukan hubungan potensial antara vaksin mRNA, yaitu Pfizer dan Moderna, dengan kondisi peradangan jantung seperti miokarditis dan perikarditis, CGTN Eupore melaporkan.

European Medicines Agency (EMA) mengatakan, efek samping itu terjadi pada "kasus yang sangat jarang".

Kondisi itu lebih sering terjadi pada pria dan anak laki-laki di bawah 30 tahun.

Kebanyakan, radang terjadi setelah dosis kedua vaksin diberikan.

Gejala radang jantung setelah vaksinasi meliputi sesak napas, detak jantung tidak teratur, dan nyeri dada.

Analisis dari badan keamanan obat-obatan Eropa menemukan, dari 117 juta dosis Pfizer yang diberikan di UE, Islandia, Norwegia, dan Liechtenstein, terdapat 145 kasus miokarditis dan 138 kasus perikarditis.

Sementara itu, dalam vaksin mRNA lainnya, Moderna, ada 19 kasus miokarditis dan 19 kasus perikarditis dari 20 juta dosis yang diberikan.

WHO mengatakan bahwa meskipun kondisi tersebut dapat menyebabkan penyakit serius, kondisi tersebut seringkali ringan dan merespon dengan baik terhadap pengobatan konservatif.

Ilustrasi vaksin Covid-19 Moderna.
Ilustrasi vaksin Covid-19 Moderna. (Joseph Prezioso / AFP)

Namun dalam lima kasus, orang yang mengalami kondisi jantung ini akhirnya meninggal.

EMA mengatakan, para pasien itu berusia lanjut atau memiliki kondisi kesehatan bawaan.

Kesimpulan dari regulator Eropa ini mengonfirmasi temuan AS bulan lalu.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) sebelumnya menyimpulkan, peradangan jantung setelah dosis kedua Pfizer lebih tinggi dari yang diprediksi di kalangan pria muda.

EMA tidak menemukan hubungan potensial yang sama antara peradangan jantung dengan vaksin COVID-19 lainnya, seperti AstraZeneca atau Johnson & Johnson, yang cara pembuatannya menggunakan metode berbeda.

Namun EMA menyarankan, orang dengan riwayat kelainan darah langka seperti sindrom kebocoran kapiler tidak boleh diberikan suntikan Johnson & Johnson.

Ilustrasi demam setelah vaksin Covid-19
Ilustrasi demam setelah vaksin Covid-19 (Freepik dan Star2.com)
Sumber: Suar.id
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved