Bangka Pos Hari Ini
Cuaca Ekstrem di Bangka Belitung, BMKG Keluarkan Peringatan Dini untuk Tiga Hari
BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem untuk wilayah Bangka Belitung pada 11-13 Juli 2021.
Erma mengatakan, hujan yang masih sering terjadi di wilayah barat Indonesia (Jawa dan Sumatra) sejak awal bulan Juni terjadi karena pengaruh dinamika laut-atmosfer yang terjadi di Samudra Hindia.
Dinamika ini ditunjukkan dari pembentukan pusat tekanan rendah berupa pusaran angin yang dinamakan dengan vorteks di selatan ekuator dekat pesisir barat Sumatera dan Jawa.
Pembentukan vorteks di Samudra Hindia yang sangat intensif sejak awal Juni diprediksi bertahan sepanjang periode musim kemarau.
Akibatnya, berpotensi menimbulkan anomali musim kemarau yang cenderung basah sepanjang bulan Juli-Oktober pada tahun ini, yang ditandai dengan masih akan sering terjadi hujan.
Selain pengaruh dinamika atmosfer dan pembentukan vorteks, curah hujan yang masih sering terjadi di musim kemarau kali ini juga diperkuat dengan prediksi pembentukan Dipole Mode negatif di Samudra Hindia yang berpotensi menimbulkan fase basah di barat Indonesia.
Dipole Mode sendiri ditandai dengan penghangatan suhu permukaan laut di Samudra Hindia dekat Sumatra, sedangkan sebaliknya di wilayah dekat Afrika mengalami pendinginan suhu permukaan laut.
Ketiga pengaruh di atas, kata Erma, mengakibatkan pemusatan aktivitas awan dan hujan terjadi di Samudra Hindia barat Sumatra sehingga berdampak pada pembentukan hujan yang berkepanjangan selama musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
Faktor pengaruh musim kemarau basah berikutnya adalah penghangatan suhu muka laut.
Penghangatan suhu permukaan laut di Samudra Hindia barat Sumatra ini juga merupakan bagian dari feedback response terhadap kondisi di Samudra Pasifik yang mengalami La Nina namun makin melemah dan cenderung menuju kondisi netral.
Meski demikian, Diple Mode negatif diprediksi hanya berlangsung secara singkat, yaitu dua bulan (Juli-Agustus) sehingga belum memenuhi kriteria Dipole Mode yang secara ilmiah harus terjadi minimal tiga bulan berturut-turut.
“Meskipun demikian, eksistensi vorteks dan penghangatan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia diprediksi akan terus berlangsung hingga Oktober,” ujar Erma.
Gabungan vorteks dan anomali suhu permukaan laut lokal ini merupakan faktor pembangkit yang menyebabkan anomali musim kemarau cenderung basah pada tahun ini, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan dan timur laut, seperti wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi, dan Halmahera. (Bangka Pos/ynr/Kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/kurniaji123.jpg)