Senin, 25 Mei 2026

Horizzon

Angka dan Ketakutan yang Membekukan Logika

Angka-angka statistik tersebut seakan menghipnotis kita semua bahwa Covid-19 adalah sesuatu yang harus mendapat prioritas

Tayang:
Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

Namun lagi-lagi, belum utuh kekuatan untuk mendiskusikan puzzle kecil dari fakta di lapangan ini, langsung muncul sintesis -- untung sudah divaksin sehingga mereka yang sakit tidak berakibat pada kematian.

Ruang diskusi dan nalar berpikir kita sepertinya dikebiri pada sebuah dogma yang harus selalu benar. Dan ironisnya, produksi angka-angka itu juga sudah merampas sisi kemanusiaan kita. Angka-angka itu telah menciptakan ketakutan yang amat sehingga makin mengerdilkan akal sehat kita.

Ketakutan yang melanda kita semua makin membuat akal sehat kita seolah beku. Diakui atau tidak, alasan ketakutan ini pun telah mampu menciptakan jarak umat dengan Tuhannya.

Daya nalar kita seperti dibuat benar-benar mati dan menerima Covid-19 dari A sampai Z. Pernahkah kita menggugat apakah vaksin benar-benar efektif mengatasi pandemi ini? Oke, barangkali kalimat ini lebih layak dilontarkan oleh virolog atau orang yang expert di bidangnya.

Tetapi bukankah kita juga diberi doktrin bahwa virus ini terus bermutasi? Sementara kita juga tahu bahwa vaksin ini diteliti dari varian awal dari virus ini muncul. Boleh dong orang awam bertanya, memang vaksin ini efektif? Toh buktinya, banyak yang sudah divaksin namun tetap kena?

Sejak awal kita tahu bahwa kasus ini didominasi oleh orang yang tidak memunculkan gejala atau gejala ringan. Artinya, populasi kita secara umum bisa bertahan dari virus yang konon berasal dari Wuhan China ini. Tetapi kenapa, regulasi dan kebijakan untuk mengatasi ini seolah dibuat general.

Saat akal sehat kita diberi keleluasaan untuk mendominasi perilaku, maka bukankah sebaiknya antisipasi terhadap virus ini hanya kepada mereka yang berisiko? Sementara untuk populasi secara umum patut kita abaikan?

Artinya jika secara umum penyakit ini tidak menimbulkan efek yang mengkhawatirkan, dan hanya berbahaya untuk mereka yang punya penyakit bawaan, maka kebijakan yang muncul akan lebih efektif untuk mereka yang berisiko tinggi.

Sayangnya, lagi-lagi tak ada ruang diskusi soal ini. Akal sehat kita sudah dibekukan dengan angka-angka statistik dan virus ketakutan yang dikirim sejak awal sebelum virus aslinya datang.

Virus ini ada. Sebagian besar yang terpapar virus ini biasa saja, sebagian dari itu menimbulkan gejala ringan. Namun ada beberapa kasus dengan persentase kecil berakibat pada kematian.

Itulah faktanya, virus ini ada dan tak perlu diperdebatkan. Tetapi memperdebatkan soal cara menghadapinya adalah sebuah langkah yang harus dilakukan, agar tak lagi ada kematian sia-sia di peradaban kita. Jika akal sehat kita kembali menjadi pengendali dari peradaban ini, maka akan lebih banyak yang bisa diselamatkan dibanding saat ketakutan yang berkuasa atas kita semua. (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved