horizzon
Apa Kabar GeNose?
GeNose menjadi satu-satunya alat deteksi virus yang paling cepat hingga saat ini
Perlakuan tidak adil bangsa ini terhadap karya anak negeri tak hanya dialami oleh GeNose. Setali tiga uang, nasib ini juga dialami oleh vaksin nusantara yang tengah dikembangkan oleh dr Terawan, mantan Menteri Kesehatan yang lengser di era pandemi.
Yang berbeda, GeNose sempat lahir menjadi produk dan gagal eksis lantaran regulasi pemerintah lebih memilih Rapit Antigen dan PCR produk luar negeri dibanding produk anak bangsa. Sementara Vaksin Nusantara justru sudah ‘dipersulit’ saat vaksin yang diklaim juga lebih praktis, efektif dan murah ini masih dalam tahap uji klinis.
Nasib GeNose dan Vaksin Nusantara ini pada akhirnya menyisakan pertanyaan besar di tengah banyaknya ‘kelucuan’ kebijakan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19.
Patut diduga, produk anak negeri ini tersingkir di tanah kelahirannya sendiri lantaran bangsa ini memang belum memiliki kepercayaan diri. Meski sudah merdeka secara fisik, bisa jadi mental bangsa ini memang masih terjajah sehingga masih mengagungkan produk asing dan tidak pernah bangga dengan karya anak bangsa.
Kita berharap, dugaan tersebut salah, sebab dugaan tersebut tentu melukai martabat bangsa ini. Untuk itu kita mencoba menganalisa penyebab lain, semisal unsur ekonomi yang ada di belakang GeNose dan Vaksin Nusantara yang barangkali tidak berpihak pada para pengambil kebijakan di era pandemi ini.
Bisa jadi, GeNose dan Vaksin Nusantara tak memperoleh dukungan regulasi lantaran mengimpor Antigen atau PCR dan vaksin dari Tingkok jauh lebih mudah memperoleh fee pengadaan dibanding memanfaatkan karya anak bangsa.
Kalaupun sebenarnya sama-sama memberikan peluang, mungkin cincai dengan orang asing pemilik lisensi vaksin dan alat tes lebih sedikit peluang untuk terbongkar.
Analisa kedua ini juga bisa kurang tepat. Namun yang tersisa tinggal satu alasan yang jelas-jelas tidak rasional. Alasan terakhir adalah soal akurasi dan juga efektivitas.
Soal vaksin, jika vaksin nusantara dipertanyakan efektivitasnya? Bukankah vaksin-vaksin impor yang saat ini digunakan juga rendah tingkat efektivitasnya? Bahkan dalam beberapa kasus, vaksin-vaksin impor tersebut juga menimbulkan fatalitas setelah digunakan.
Sama halnya dengan alat deteksi Covid-19. Jika GeNose yang jelas-jelas produk anak bangsa, kebanggaan kita semua dipersoalkan akurasinya, apakah Antigen dan PCR bisa menjamin lebih valid?
Terakhir, keputusan pemerintah memberikan batasan harga termahal dari PCR dan Antigen beberapa waktu lalu, sesungguhnya tak lebih dari menambah kelucuan belaka. Pemerintah tahu persis berapa HPP dari Antigen dan PCR masuk di Indonesia.
Untuk itu jika mereka bisa membuat kebijakan menurunkan herga, kenapa kebijakan tersebut diambil sangat-sangat terlambat. Bahkan kebijakan itu justru membuka mata kita semua bahwa PCR di negara lain, tarifnya bisa sangat-sangat murah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ibnu-taufik-jr.jpg)