Mahasiswa UNMUH Babel Kader PMII Mengaku Diintimidasi, Rektor Membantah dan Beri Klarifikasi Ini
Rektor Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Bangka Belitung, Fadillah Sabri membantah dan memberikan klarifikasi kabar intimidasi kepada mahasiswa.
Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: M Ismunadi
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Rektor Universitas Muhammadiyah (UNMUH) Bangka Belitung, Fadillah Sabri membantah dan memberikan klarifikasi kabar intimidasi kepada mahasiswa.
Pasalnya dalam berita rilis yang diterima bangkapos.com, ada sekira 10 kader Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bangka Tengah yang diintimidasi dalam bentuk ancaman pencabutan beasiswa dan DO (dikeluarkan).
Dengan rincian 2 kader pernah dipanggil pihak rektorat UNMUH pada tanggal 7 September 2021, dan 8 kader dipanggil pihak mahasiswa terdiri dari Presma dan Ketua PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pangkalpinang pada tanggal 9 September 2021.
"Saya luruskan, terkait mahasiswa aktivis PMII akan dikeluarkan atau apa, itu jelas berita sepihak, hanya mengambil chat antar pembina Al-Islam Kemuhammadiyahan. Siapa yang mau cabut beasiswa? Siapa yang mau memecat (mengeluarkan)?, maka jangan mudah diprovokasi,"ujar Fadillah kepada awak media, Kamis (23/9/2021).
Dia menyayangkan berita yang beredar tanpa konfirmasi kepada pihak UNMUH Bangka Belitung.
Bahkan ditegaskannya, para mahasiswa ini kini masih dalam status aktif menjadi mahasiswa.
"Saya menjamin 1000 persen, jika anak itu layak mendapat beasiswa, tidak akan dicabut, ada tiga beasiswa dari luar dengan ketentuan yang ada, mereka mahasiswa muhammadiya iya, tetapi tidak wajib masuk IMM. Namun berbeda kalau beasiswa taawun, itu murni dari muhammadiyah, kami akan cek (dari mahasiswa tersebut) adakah yang beasiswa taawun, memang sudah ada perjanjian dan dijadikan kader," jelas Fadillah.
Baca juga: Kabar Terkini Tukul Arwana, Putra Sulung Kabarkan Kondisi Ayahnya: Masih Dalam Perawatan Dokter
Baca juga: Penertiban Tambang Timah Ilegal di Desa Belo Laut, Penambang Kabur, 13 Mesin Disita
Kronologi yang terjadi atas kekisruhan ini diceritakanya, itu berawal dari pembinaan yang dilakukan oleh Lembaga Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
"Singkat cerita, ada kegiatan Baitul Arqam dan integrasi leadership, untuk anak BEM dan DPM, sebelum pelantikan diadakan pembinaan, agar memiliki misi keislaman dan kemuhammadiyahan, katanya 8 orang itu ada di situ, kita belum tahu, dilantik dan diambil sumpah, lalu dalam perjalanan ada anak-anak itu juga ternyata aktivis PMII," katanya.
Sesuai aturan kampus UNMUH untuk menjadi pengurus BEM dan DPM itu mahasiswa terikat sebagai kader perserikatan.
Diakuinya, tanpa diketahui ternyata para mahasiswa tersebut juga merupakan kader PMII.
"Para pembina merasa tertamparkan, dengan bukti yang ada, dipanggil lah mereka, sebenarnya itu pembinaan, pilihan dan pengarahan, kalau mau jadi pengurus BEM memang harus IMM," katanya.
Dia menyebutkan hanya ada tiga organisasi intra kampus yang bisa beraktivitas, satu diantaranya IMM.
"Ada sistematikan pengkaderan, wajar dong kampus UNMUH, ibarat ini kebun bertanam tanaman punya kita, kalau yang lain ingin berkebun, silahkan di kebun sendiri.
Silahkan saja mau masuk organisasi kemahasiswaan apapun asal ekstra kampus, silahkan saja. Hargailah rumah tangga orang masing-masing, kita akan menghargai siapa pun, " katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210923_rektor-unmuh-babel-fadillah-sabri.jpg)