Gara-gara Posting Soal Lingkungan, Aktivis Fordas Diminta Angkat Kaki dari Belitung Timur
Anggota Fordas Belitung Timur bernama Yudi Amsoni didatangi oleh ratusan penambang timah di kediamannya di Desa Sukamandi, Damar.
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Anggota Fordas Belitung Timur bernama Yudi Amsoni didatangi oleh ratusan penambang timah di kediamannya di Desa Sukamandi, Damar, Kamis (6/1/2022).
Yudi yang juga dikenal sebagai aktivis lingkungan itu diminta agar tidak mengusik jalannya operasional tambang timah mereka yang diduga ilegal.
Dalam video yang beredar di media sosial, Yudi menulis sepucuk surat pernyataan atas arahan salah satu penambang. Dalam surat itu tertulis bahwa dia tidak akan lagi memposting status di facebooknya tentang kegiatan tambang timah ilegal di DAS Manggar.
Di paragraf kedua tertulis bahwa dia harus meninggalkan Pulau Belitung karena masyarakat tidak ingin lagi kehadirannya karena mereka nilai mengganggu keamanan dan ketertiban. Terakhir surat itu ditandatangani di atas materai 6000.
Baca juga: Walau Cuma 19 Detik Video Kenangan Gisel dan Wijin di Atas Kasur Ini Ternyata Masih Banjir Like
Baca juga: Potret Luna Maya Ketika Mengangkang Saat di New York, Warganet Salah Fokus ke Bagian Ini
Baca juga: Pose Maria Vania dengan Busana Terbuka di Dekat Pohon, Sampai Ada yang Ngaku Pusing
Dikonfirmasi atas hal tersebut, Yudi membenarkan bahwa dia didatangi oleh segerombolan penambang. Dia menceritakan awalnya dia memang vokal terhadap isu lingkungan apalagi menyangkut DAS Manggar.
"Saya sering posting soal tambang ilegal di DAS Manggar. Di sana saya juga ada tag kapolda, kapolres, dan bupati. Ternyata diberi atensi oleh Kapolda dengan pernyataan yang terbit di salah satu koran," kata Yudi saat dihubungi posbelitung.co, Kamis.
Dari sana, lanjutnya, kepolisian menertibkan tambang ilegal dengan sistem rajuk yang beroperasi dalam beberapa hari terakhir. Yudi menilai aksi tadi pagi di rumahnya sebagai tindakan intimidasi. Namun dia tidak sepenuhnya menyalahkan penambang itu karena dia percaya bahwa mereka hanyalah korban provokasi beberapa oknum tidak bertanggungjawab.
"Saya kan cuma posting dan itu juga demi kepentingan lingkungan dan masyarakat banyak. Saat ini dia saya sudah meminta bantuan hukum kepada LBH KUBI atas kejadian tadi pagi," ujar warga Banten itu.
Terkait surat pernyataan yang dia tulis dalam video, dia menegaskan bahwa itu bukan surat pernyataannya karena dia hanya mengikuti arahan dari para penambang.
"Semua diksi di surat itu atas perintah mereka karena saat menulis itu saya dalam keadaan diintimidasi," kata Yudi.
Terpisah, Ketua Fordas Beltim sekaligus Anggota DPRD Beltim Koko Haryanto mengatakan prihatin dengan kejadian yang menimpa anggotanya. Menurutnya tak pantas kejadian tersebut yang notabene melawan hukum terjadi di negara hukum.
Berkaitan dengan masalah penambangan di DAS, menurutnya ini bukan perkara baru di Beltim karena ada aturan bagaimana dan di mana melakukan pertambangan. Masalah ini pernah juga di bawa ke DPRD dan sampai saat ini permintaan terkait menunjukkan batas-batas mana yang dimaksud DAS yang memang dilarang untuk ditambang belum tersedia.
"Jangan timahnya diambil, tapi ketika bermasalah semua tak mau tanggungjawab. Beberapa waktu kami juga melakukan monitoring bersama LH Beltim dan Bupati Beltim juga sudah menyampaikan hasil pelaporan pemantauan tersebut ke pemerintah pusat dalam hal ini kementerian KLHK," sebutnya.
"Inilah yg kami wanti wanti, akan terjadi konflik masyarakat dengan masyarakat. Ketika ini terjadi pembiaran untuk menyelesaikannya," katanya.
Dia berharap kejadian ini tidak terjadi lagi Dudukkan masalah ini ke pokok persoalannya, karena kalau mengarah kepada soal lain, masalahnya tidak akan selesai.
Baca juga: Ketua Forum DAS Babel Geram Atas Intimidasi yang Dilakukan Penambang di Beltim
Baca juga: Temukan Tas, Seorang Nenek di Pangkalpinang Ditangkap Polisi