Konflik Rusia vs Ukraina Diprediksi Berdampak pada Kenaikan Harga Pupuk, Gandum dan BBM
Harga gandum, pupuk dan minyak juga perlu diwaspadai pemerintah dari konflik dua negara di benua biru tersebut
Penulis: Ardhina Trisila Sakti CC | Editor: Ardhina Trisila Sakti
BANGKAPOS.COM -Dampak perang Rusia dengan Ukraina diprediksi membawa efek ke negara lain di dunia, termasuk ke Indonesia.
Harga gandum, pupuk dan minyak juga perlu diwaspadai pemerintah dari konflik dua negara di benua biru tersebut.
Konflik antara keduanya, terutama setelah sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat ke Rusia, akan mengakibatkan terganggunya suplai bahan makanan dan energi. Hal ini akan memperparah tren inflasi global kedepannya.
Baca juga: Buya Yahya Marah dapat Pertanyaan Jamaah Perempuan, Soal Suami Tersinggung Diberi Mertua Rumah
Baca juga: Pasukan Rusia Mendadak Ciut Tak Berani Lanjutkan Perang Usai Diusir dari Mykolaiv, Ada Apa?
Baca juga: Sejarah Seakan Terulang Kembali, Orang Yahudi di Ukraina Jadi Pengungsi Lagi, Israel Lakukan Ini
Harga Gandum dan Pupuk
Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Krisna Gupta, mengatakan pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga pupuk dan gandum di dalam negeri akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Invasi Rusia ke negara dengan ibukota Kiev tersebut dikhawatirkan mengganggu ketersediaan beberapa komoditas pangan penting dan komoditas lain yang harganya fluktuatif di pasar internasional.
“Konflik ini akan berpengaruh besar pada harga pangan di Indonesia dan Indonesia harus segera mencari sumber gandum dan pupuk baru secepatnya untuk membatasi kenaikan harga pangan,” kata Krisna Gupta, kemarin.
Data dari UN Comtrade menunjukkan, pada tahun 2020, Ukraina memasok sekitar 23,51 persen gandum Indonesia. Tidak hanya Ukraina, Rusia pun memiliki hubungan perdagangan pangan yang cukup erat dengan Indonesia.
Sebanyak 15,75 persen pupuk impor Indonesia datang dari Rusia. Di samping itu, kedua negara merupakan sumber dari 7,38 persen produk baja impor Indonesia. Sementara itu, Rusia membeli sekitar 5 persen produk minyak nabati dari Indonesia.
Baca juga: Buntut Warga Rusia Tanda Tangani Petisi Anti Perang Terhadap Ukraina, Keesokan Harinya Dipecat
Baca juga: Angelina Sondakh Syok Lihat Penampilan Zahwa Massaid di Amerika: Kalau Mami ke Situ Dihilangin
Baca juga: Penyebar Foto Jenazah Artis Thailand Tangmo Nida Diancam Denda Rp 2,2 Juta
Dilansir Kompas.com, Jumat (4/3/2022), Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman, memberikan keterangan.
Ia belum bisa memberikan kesimpulan lantaran pihak produsen masih menunggu perkembangan dari konflik tersebut.
Kenaikan harga produk olahan gandum juga masih belum bisa diprediksi dan membutuhkan pembahasan lebih lanjut.
"Informasi masih minim. Karena sekarang produsen masih wait and see," tutur Adhi, Jumat (4/3/2022).
"Industri produk jadi memang tidak bisa naik turun harga terlalu sering. Karena perubahan harga biasa harus runding dengan peritel."
"Baru setelah itu, berlaku harga baru."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220305-volodymyr-zelensky-dan-putin.jpg)