Rabu, 13 Mei 2026

Ramadhan

2030 Akan Ada 2 Kali Ramadan dan 2 Kali Idul Fitri, Ini Penjelasan Lapan dan LIPI

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan kali ini saja terjadi, tapi sudah beberapa kali dialami umat muslim.

Tayang:
Editor: fitriadi
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Masyarakat saat melaksanakan salat Tarawih berjamaah perdana di Masjid Jamik Pangkalpinang, Bangka Belitung, Sabtu (2/4/2022) malam. Para jamaah tampak khusyuk melaksanakan ibadah keagamaan di bulan Ramadan. 

BANGKAPOS.COM - Umat muslim di dunia akan mengalami Ramadan dan Idul Fitri dua kali dalam satu tahun.

Momen ini akan terjadi pada tahun 2030 mendatang atau 8 tahun lagi dari sekarang.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan kali ini saja terjadi, tapi sudah beberapa kali dialami umat muslim.

Biasanya, Ramadan dan Idul Fitri  hanya setahun sekali. Namun karena Ramadan dan Idul Fitri mengikuti peredaran bulan atau kalender Hijriah, sehingga tanggal dari dua momen tersebut akan selalu berubah jika mengikuti kalender masehi atau peredaran matahari.

Bahkan di tahun 2030 nanti, umat muslim akan merayakan bulan Ramadhan dan Idul Fitri sebanyak dua kali.

Baca juga: Proses Nuzulul Quran di Bulan Ramadan, Diturunkan dari Lauhul Mahfuz Ke Baitul Izzah Hingga Ke Bumi

Dilansir dari laman resmi Lapan.go.id, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) beberapa waktu lalu memaparkan, pada 2030 nanti akan ada tiga momen besar keagamaan bagi umat Islam, yakni dua kali bulan suci Ramadan, dua kali hari raya Idul Fitri, serta satu kali Idul Adha.

Fenomena langka ini terakhir kali terjadi pada tahun 2000. Artinya, peristiwa ini bukan pertama kalinya.

Peneliti Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan, peristiwa langka dua kali Ramadan dan Idul Fitri di tahun yang sama masih akan terjadi di masa depan.

“Hal itu berulang sekitar 33 tahun, karena kalender Hijriah dan kalender Masehi ada selisih 10,9 hari," jelas Thomas Djamaluddin.

Meski ini kejadian langka yang jarang terjadi, fenomena ini biasa dan memang sudah seharusnya terjadi seperti itu.

“Ini hal yang biasa, tidak ada yang istimewa,” ujar Thomas Djamaluddin.

Untuk diketahui, dalam kalender Islam mengacu pada peredaran bulan atau disebut kalender Hijriah yang secara konsisten memiliki 11 hari lebih pendek dibanding kalender Masehi yang mengacu pada peredaran matahari.

Inilah kenapa setiap tahunnya bulan Ramadan dan Idul Fitri selalu maju 10 hingga 11 hari dari tahun sebelumnya.

Sebagai contoh, Idul Fitri 2020 terjadi pada 23 Mei dan Idul Fitri 2019 terjadi pada 3 Juni.

Penjelasan LIPI

Peneliti Pusat Sains dan Antariksa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonenesia (LIPI), Andi Pangerang membenarkan bahwa pada tahun 2030 akan mengalami dua kali bulan Ramadan.

"Di tahun 2030 nanti fase bulan baru awal Ramadan-nya tanggal 4 Januari pukul 09.49.23 WIB (1451 H) dan 25 Desember 00.32.04 WIB (1452 H), sehingga 1 Ramadan 1451 H jatuh pada 5 Januari 2030 dan 1 Ramadan 1452 H jatuh pada 26 Desember 2030," jelas Andi dikutip dari Kompas. com, Senin (3/5/2021).

Baca juga: INILAH Doa Mustajab Malam Lailatul Qadar Beserta Artinya, Termasuk Doa Memohon Ampun dan Pertolongan

Andi menyebut, peristiwa serupa juga pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, misalnya pada tahun 1997 dan 1965.

Pada 1997, 1 Ramadan 1417 H jatuh pada 11 Januari dan 1 Ramadan 1418 jatuh pada 31 Desember.

Siklus 32-33 tahun sekali

Jika melihat pola kejadiannya yakni di tahun 1965, 1997, dan 2030 maka pada 32 atau 33 tahun tahun sekali, Ramadan memang akan jatuh 2 kali dalam setahun Masehi.

"Seperti kita tahu, rata-rata periode sinodis Bulan (Bulan segaris dengan Matahari) setiap 29,53 hari sekali. Berarti 1 tahun Hijriah rata-rata 354,37 hari. Jika 1 tahun Masehi rata-rata 365,24 hari (jadi) selisihnya hampir 11 hari," jelas Andi.

"365,24 ÷ 11 = 33 tahun sekali, terkadang 33 terkadang 32," lanjutnya.

Baca juga: Inilah 8 Manfaat Puasa Ramadan Untuk Kesehatan Tubuh, Diajarkan Agama dan Terbukti Secara Ilmiah

Andi menjelaskan mengapa untuk menentukan jatuhnya bulan baru di tahun Hijriah diperlukan perhitungan khusus, sementara pada tahun Masehi tidak demikian.

"Ya karena berbasis ketampakan Bulan dan ketidakteraturan gerak Bulan, maka perlu dihitung dan dikonfirmasi dengan pengamatan," pungkas dia. ***

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved