Rusia Blak-blakan Ingin Caplok Ukraina, Negara Bertetangga Ini Jadi Target Putin Berikutnya?
Moldova, Georgia, Estonia, Latvia, dan Lithuania Harus Siap-siap. Pada akhir Februari lalu, stasiun TV Rusia sempat membocorkan rencana besar ...
Saat Putin berbicara, televisi pemerintah kedapatan secara singkat memotong pidatonya.....(diduga soal invasi negara lainnya) di tengah kalimat dan menggantikannya dengan rekaman lagu-lagu patriotik. Setelah itu Putin kemudian kembali muncul di televisi pemerintah.
Dilansir dari Kantor Berita RIA, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, menyebut kesalahan teknis pada server adalah alasan mengapa televisi pemerintah tiba-tiba memutuskan siaran pidato Putin.
Tidak segera jelas mengapa masalah server menyebabkan gangguan yang tiba-tiba dan tidak biasa.
Putin mengatakan operasi di Ukraina diperlukan karena AS menggunakan negara itu untuk mengancam Rusia dan Rusia harus bertahan melawan "genosida" orang-orang berbahasa Rusia oleh Ukraina.
Di sisi lain, Ukraina telah mengatakan bahwa mereka sedang berjuang untuk keberadaannya dan bahwa klaim genosida Putin adalah hanya omong kosong. Barat mengatakan klaim tentang Ukraina ingin merobek Rusia adalah fiksi atau cerita rekaan.
Sebelum Putin berbicara, lagu kebangsaan Rusia yang menggetarkan, dengan kata-kata "Rusia adalah negara suci kita" menggema di tribun stadion yang digunakan dalam Piala Dunia Sepak Bola 2018 itu, bersama dengan hits pop yang lebih modern seperti "Made in the USSR".
Band Rusia favorit Putin, Lyube, menyanyikan lagu-lagu patriotik tentang perang, pengorbanan, dan kehormatan mereka yang berjuang untuk Rusia.
Puisi Pan-Slavis oleh Fyodor Tyutchev yang syairnya memperingatkan orang Rusia bahwa mereka akan selalu dianggap sebagai budak Pencerahan oleh orang Eropa, juga turut dibacakan dalam rapat besar.
200.000 orang hadir
Diberitakan Times of Israel, Polisi Moskwa mengatakan lebih dari 200.000 orang berada di dalam dan sekitar Stadion Luzhniki untuk merayakan ulang tahun ke-8 pencaplokan semenanjung crimea oleh Rusia.
Berusaha menggambarkan perang sebagai sesuatu yang adil, di dalam forum tersebut, Putin dilaporkan memparafrasekan Alkitab dengan mengatakan tentang pasukan Rusia, bahwa "Tidak ada cinta yang lebih besar daripada menyerahkan jiwa seseorang untuk teman-temannya”.
Negara-negara Bekas Uni Soviet
Uni Soviet merukapakan salah satu negara adikuasa yang menang dalam Perang Dunia II.
Sejak 1947 hingga 1991, Uni Soviet terus bergerak sebagai negara pusat dari aliansi negara komunis Blok Timur.
Namun, 69 tahun sejak terbentuk pada 1922, Uni Soviet mulai mengalami keruntuhan, yang salah satunya diakibatkan oleh merosotnya ekonomi.
Runtuhnya Uni Soviet menimbulkan dampak yang besar bagi peta politik dunia, salah satunya muncul 15 negara baru di kawasan Eropa Timur.

Proses runtuhnya Uni Soviet
Pada pertengahan 1980-an, Uni Soviet mulai mengalami kemunduran karena banyak pejabatnya yang melakukan korupsi dan kalah dari perang ideologi melawan Amerika Serikat dalam Perang Dingin (1947-1989).
Untuk memperbaiki krisis yang terjadi pada 1985, Presiden Mikhail Gorbachev menerapkan Perestroika atau restrukturisasi politik dan ekonomi.
Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengubah sistem komunisme menjadi lebih demokratis.
Ada tiga prinsip utama dalam Perestroika, yaitu Glasnost (keterbukaan politik), Democratizatsiya (demokratisasi), dan Rule of Law.
Namun, kebijakan ini dianggap menyeleweng, yang pada akhirnya justru membuat Uni Soviet semakin terpuruk.
Perestroika juga membuat negara-negara bagian yang masih dibawahi Uni Soviet ingin memerdekakan diri.
Akhirnya, pada 1991, negara-negara bagian tersebut mulai melepaskan diri dari Uni Soviet.
Uni Soviet pun secara resmi dibubarkan pada 25 Desember 1991, yang ditandai dengan mundurnya Presiden Mikhail Gorbachev.
Negara pecahan Uni Soviet
Salah satu dampak dari runtuhnya Uni Soviet adalah munculnya 15 negara merdeka di kawasan Eropa Timur dan Asia. Berikut ini 15 negara pecahan Uni Soviet.
| Negara pecahan Uni Soviet | Kemerdekaan |
Ibu kota |
| Rusia | 26 Desember 1991 | Moskow |
| Azerbaijan | 30 Agustus 1991 | Baku |
| Belarus | 25 Agustus 1991 | Minsk |
| Estonia | 20 Agustus 1991 | Tallin |
| Georgia | 9 April 1991 | Tbilisi |
| Kazakhstan | 16 Desember 1991 | Astana |
| Kirgizstan | 31 Agustus 1991 | Bishkek |
| Latvia | 5 September 1991 | Riga |
| Lituania | 6 September 1991 | Vilnius |
| Moldova | 27 Agustus 1991 | Chisinau |
| Tajikistan | 9 September 1991 | Dushanbe |
| Turkmenistan | 27 Oktober 1991 | Ashgabat |
| Armenia | 21 September 1991 | Yerevan |
| Ukraina | 4 Agustus 1991 | Kiev |
| Uzbekistan | 1 September 1991 | Tashkent |
Referensi:
-
Hough, Jerry F. (1997). Democratization and Revolution in the USSR. Washington DC: Brookings Institution Press.
(*/ kompas.com/intisari)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220424-Vladimir-Putin-okee1.jpg)