100 Hari Serangan Rusia, Ini Potret Kehancuran Ukraina Hadapi Konflik Terburuk Eropa
Dalam beberapa dekade belakang, invansi yang dilakukan Rusia ke Ukraina bisa dibilang konflik terburuk di Eropa, ini rangkumannya setelah 100 hari.
Penulis: Nur Ramadhaningtyas | Editor: Teddy Malaka
Saat perang dimulai, militer Ukraina memiliki sekitar 30.000 tentara yang dikerahkan di wilayah Donbas yang langsung diserang oleh Kremlin rezim Rusia.
Ukraina juga terhambat oleh kerusakan dan penipisan artileri warisan Soviet, kata Mykhailo Zhirokhov, penulis buku tentang artileri Ukraina.
Barel yang dimiliki menembak dengan kurang akurat.
Sementara itu, para pejabat Amerika memperkirakan bahwa kekuatan tempur militer Rusia secara keseluruhan telah berkurang sekitar 20 persen.
Pada akhir Maret, NATO memperkirakan bahwa 7.000 hingga 15.000 tentara Rusia telah tewas.
Ketua Dewan Federasi atau Majelis Tinggi Parlemen Rusia, Valentina Matviyenko, menyatakan Rusia terbuka untuk menandatangani perjanjian yang akan mengarah pada perdamaian.
Matviyenko berkata demikian pada Selasa (31/5/2022), dalam pertemuan dengan Presiden Mozambik Filipe Nyusi.
"Kami terbuka untuk pembicaraan. Saya benar-benar setuju dengan posisi Anda bahwa solusi diplomatik dan damai diperlukan.
Tetapi, kemauan untuk itu diperlukan di kedua belah pihak.
Kami tegaskan kembali bahwa kami siap untuk pembicaraan, untuk menandatangani perjanjian yang akan menghentikan sipil berada di Ukraina dan mengarah pada perdamaian,” ungkap dia, dikutip dari Kantor Berita Rusia, TASS.
(Bangkapos.com/Nur Ramadhaningtyas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220405-presiden-ukraina-volodymyr-zelensky.jpg)