Sabtu, 9 Mei 2026

Tribunners

Mengubah Paradigma Pengajaran Menjadi Paradigma Pembelajaran

Hal terpenting, sebagai praktisi pendidikan, mari kita berubah, bersedia berubah, tidak ada kata terlambat

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Nilawati 

Pengajar biasa memberi tahu. Pengajar yang baik menjelaskan. Pengajar yang lebih baik mendemonstrasikan. Namun, pengajar terbaik adalah memberi inspirasi. Guru harus mendorong siswanya membangun keterampilan fisik dan mental yang harus dimiliki, dikuasai, dan diterapkan.

Namun, sejatinya guru yang berkualitas tidak hanya memiliki profesionalisme dalam mengajar, namun juga memiliki kepribadian yang utuh, kecerdasan sosial, dan kecerdasan inteligensi.

Kemampuan apa yang dibutuhkan untuk menjadi guru yang berhasil? Sebuah studi yang komprehensif dilakukan oleh Charters dan Waples untuk menemukan sebuah kualitas yang diperlukan dan dibutuhkan oleh para guru. Hasil penelitian mereka menyajikan 25 ciri guru yang berkualitas, yakni mudah beradaptasi, penampilan menarik, pengetahuan yang luas, berhati-hati, penuh pertimbangan, mampu bekerja sama, kemampuan menggantungkan diri, penuh dorongan, penilai yang baik dan bijak, antusias, mampu memengaruhi, sehat, jujur, berkarya, memiliki jiwa kepemimpinan, magnetis, rapi, memiliki pikiran yang terbuka, asli, progresif, tepat waktu, kehalusan budi bahasa, memperoleh beasiswa ketika studi, kontrol diri, dan hemat.

Tantangan dan tuntutan

Sebuah tantangan dan tuntutan saat ini ketika paradigma baru pendidikan yang harus mulai bergeser pada proses belajar (learning), berbasis pada masalah (case base), bersifat kontekstual dan tidak terbatas hanya untuk golongan tertentu sehingga pelajar dituntut untuk lebih aktif mempelajari dan mengembangkan materi pelajaran dengan mengoptimalkan sumber-sumber lain.

Perubahan tersebut tentunya menuntut guru untuk meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pribadi, kompetensi sosial, kompetensi pedagogis, kompetensi profesional dan kompetensi digital dalam hal pembelajaran. Kompetensi inti guru ini selanjutnya akan menempatkan guru pada sebuah paradigma baru dalam proses pembelajaran.

Paradigma baru ini senyatanya mengubah makna dalam mengajar dan model pembelajaran. Saat ini guru tidak lagi memosisikan diri sebagai sumber belajar yang bertugas menyampaikan informasi, akan tetapi harus berperan sebagai pengelola sumber belajar untuk dimanfaatkan siswa itu sendiri. Di dalam belajar, bukan hanya sekadar menghafal dan mengingat informasi, menghafal rumus-rumus, akan tetapi bagaimana menggunakan informasi dan pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berpikir.

Dengan demikian, siswa tidak lagi dianggap sebagai objek, akan tetapi sebagai subjek belajar yang harus mencari dan mengonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan itu tidak diberikan, akan tetapi dibangun oleh siswa.
Sejatinya tujuan pembelajaran bukan hanya untuk mengubah perilaku siswa, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset. Pembelajaran dalam paradigma baru, fokus pembelajarannya yaitu pada 'mempelajari cara belajar' (learning how to learn) dan bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran. Model pembelajaran paradigma baru mengajar saat ini harus berbasis pendekatan saintifik (5M) dan guru diberi ruang menggunakan pendekatan atau model pembelajaran lain.

Perubahan zaman dan kondisi terkini maka guru pun memiliki tanggung jawab mengembangkan kurikulum sehingga berimplikasi agar guru mampu mencari gagasan-gagasan baru, penyempurnaan praktik pengajaran dengan evaluasi pada cara mengajar yang digunakan, lalu mencari jalan keluarnya, bagaimana mengatasi kekurangan alat peraga dan buku bahan ajar yang diperlukan ataupun menyempurnakan model pembelajaraan yang sudah bagus agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Dalam perubahan paradigma baru, seorang guru harus memiliki model pembelajaran mengarah pada pendekatan tertentu terhadap instruksi yang terdiri dari tujuan, sintaks (pola urutan atau alur), lingkungan, dan sistem pengelolaan secara keseluruhannya.

Paradigma pendidikan versi UNESCO ini sangat jelas berdasarkan pada paradigma learning, tidak lagi pada teaching. Keempat paradigma pendidikan ini disebut sebagai soko guru dari manusia abad ke-21 menghadapi arus informasi dan kehidupan yang terus-menerus berubah.

Pertama, learning to think (belajar berpikir). Ini berarti pendidikan berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional sehingga learner berani menyatakan pendapat dan bersikap kritis serta memiliki semangat membaca yang tinggi. Proses belajar yang terus-menerus terjadi seumur hidup ialah belajar bagaimana berpikir.

Dengan sendirinya belajar yang hanya "membeo" tidak mempunyai tempat lagi di dalam era globalisasi. Sehubungan dengan itu maka penguasaan bahasa digital telah harus dikuasai oleh anak-anak kita karena dengan demikian dia dapat memasuki dunia tanpa batas. Dengan demikian, konsep belajar dan pembelajaran harus diubah dan membuka pintu kepada teknologi pembelajaran modern sungguh pun tetap dibutuhkan pendidikan tatap muka oleh orang tua, guru, dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya dalam rangka pembentukan akhlak manusia abad ke-21.

Kedua, learning to do (belajar berbuat). Pada abad ke-21 menuntut manusia-manusia yang bukan hanya berpikir, tetapi manusia yang berbuat. Manusia yang berbuat adalah manusia yang ingin memperbaiki kualitas kehidupannya. Dengan berbuat dia dapat menciptakan produk-produk baru dan meningkatkan mutu produk-produk tersebut. Tanpa berbuat, pemikiran atau konsep tidak mempunyai arti. Aspek yang ingin dicapai dalam visi ini adalah keterampilan seorang peserta didik menyelesaikan problem keseharian. Dengan kata lain pendidikan diarahkan pada how to solve the problem.

Ketiga, learning to live together (belajar hidup bersama). Di sini pendidikan diarahkan pada pembentukan seorang peserta didik yang berkesadaran bahwa kita ini hidup dalam sebuah dunia yang global bersama banyak manusia dari berbagai bahasa dengan latar belakang etnik, agama dan budaya. Di sinilah pendidikan akan nilai-nilai perdamaian, penghormatan HAM, pelestarian lingkungan hidup, toleransi, menjadi aspek utama yang harus menginternal dalam kesadaran learner.

Keempat, learning to be (belajar menjadi diri sendiri). Pendidikan ini menjadi sangat penting mengingat masyarakat modern saat ini tengah dilanda suatu krisis kepribadian. Orang sekarang biasanya lebih melihat diri sebagai what you have, what you wear, what you eat, what you drive, dan lain-lain.

Sumber: bangkapos
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved