Breaking News:

Citizen Reporter

Masyarakat perlu menyikapi hasil survei dengan bijak

Masyarakat perlu menyikapi hasil survei dengan bijak, saya yakin pemilih di Bangka Belitung ini sudah memiliki preferensi sendiri tentang bakal calon

Penulis: iklan bangkapos | Editor: M Ismunadi
Masyarakat perlu menyikapi hasil survei dengan bijak
Ist
Syafri Hariansah Direktur Pusat Studi Hukum Tatanegara/ Dosen Hukum Tatanegara dan MPH STIH Pertiba Pangkalpinang.

Oleh: Syafri Hariansah
Direktur Pusat Studi Hukum Tatanegara/
Dosen Hukum Tatanegara dan MPH STIH Pertiba Pangkalpinang.

DALAM hemat saya, survei menjadi sebuah keniscayaan dalam kontestasi politik. lembaga dan hasil survey pasti akan bermunculan di setiap even pemilu. Jadi sebenarnya, survey itu adalah salah satu metode pengumpulan data yang tujuan utamanya untuk mengukur opini publik, namun karena kebutuhan dan alasan tertentu Survei biasanya dijadikan salah satu "alat" untuk menggiring opini publik, sehingga kemudian muncul sebuah persepsi baru (baik individu maupun kelompok/organisasi).

Masyarakat perlu menyikapi hasil survei dengan bijak, saya yakin pemilih di Bangka Belitung ini sudah memiliki preferensi sendiri tentang bakal calon. Sampai saat ini, kondisi di bangka belitung masih sangat dinamis, bakal calon pun belum ada yang secara terang terangan menyatakan kesedian untuk mencalonkan diri.

Sepanjang observasi yang pernah saya lakukan masyarakat babel menjadikan survey hanya sebagai referensi atau hanya sebatas second opinion saja, Apalagi hasil survey biasanya hanya dibicarakan oleh orang-orang tertentu saja (pengiat isu politik) dan dibicarakan di tempat tempat tertentu saja, bahkan dibeberapa kesempatan ada pro dan kontra dengan hasil survey.

Rasanya terlalu sulit untuk membuat indikator kredibilitas lembaga survey, mengingat survey ini bisa dilakukan oleh siapa saja, lembaga apa saja, bahkan kalau sekarang kita lihat pola pengumpulan datanya juga jauh dari kriteria pengumpulan data yang ideal. sebab validitas data menjadi point penting untuk mengetahui kondisi objektif.

Coba saja lihat kondisi hari ini pengumpulan data lembaga survey dilakukan dengan cara yang sederhana, misalnya wawancara via telpon, atau bahkan dengan hanya mengklik opsi tertentu via websites. lalu hasil survey dengan margin eror yang rendah dan tingkat kepercayan yang tinggi direlease dan diserbakan secara masif melalui media masa.

Berkaca pada kondisi hari ini, lembaga survey bahkan terang-terangan menawarkan jasa survey. dengan biaya yang relatif tinggi rasanya sangat sulit mengukur independensi dan kredibilitas lembaga survey.

Sepanjang pengetahuan dan pengalaman penelitian saya, ada banyak metode/teknik pengumpulan data salah salah satu yang sering digunakan lembaga survey adalah dengan menggunakan teknik probability sampling (setiap anggota populasi memiliki peluang sama dan dapat dipilih menjadi sampel). Teknik ini memiliki 6 variasi. Mulai dari simple random, systematic random, Stratified Sampling, Cluster Sampling, Multistage Sampling, dan Probability Proportional. dan ke enam variasi ini memiliki karakter yang berbeda dalam pengumpulan datanya. jumlah sampling sangat menentukan validitas hasil, artinya semakin tinggi jumlah responden maka margin eror (MoE) semakin rendah dan tingkat kepercayaan tinggi.

Point penting lainya dalam survey adalah pengolahan data hingga pada akhirnya dapat menarik sebuah kesimpulan tentang gambaran kondisi objektif.

Tentu sebagai akademisi saya berharap hasil dari lembaga survey ini menjadi salah satu refrensi yang baik bagi pemilih, sehingga tujuan utamanya tercapai dan terhindar dari adagium survey sama dengan "kebohongan ilmiah". (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved