tribunners
Puasa : Muhasabah Kehambaan
Sebagai hamba yang baik dan tercerahkan, tentu mempunyai cara memaknai puasa dengan jernih pula.
Penulis: iklan bangkapos | Editor: M Ismunadi
Oleh: Masmuni Mahatma - Kakanwil Kemenag Propinsi Kep. Babel
SEBAGAI hamba, tugas kita taat, patuh, dan senantiasa pasrah secara obyektif kepada Allah SWT. Bahwa ada hal-hal subjektif-kreatif-inovatif-produktif yang diwujudkan dalam konteks kelangsungan sosial kehambaan di hadapan umat, adalah keniscayaan yang patut terus ditingkatkan. Sebab Allah SWT sejak awal mula telah menganugerahkan potensi-potensi terbaik pada diri tiap-tiap hamba. Terlebih sebagai manusia, nyata-nyata sedari awal dikaruniai keistimewaan dibandingkan makhluk Allah SWT yang lain, yakni akal, “magnet” eksistensial yang sedemikian ajaibnya. Dari dan atasnama “akal” itu manusia sampai dijadikan khalifah di muka bumi dan diberikan amanah untuk mengelola dinamika kesemestaan.
Ketaatan, kepatuhan, kepasrahan kepada Allah SWT, tidak boleh tanpa arah. Seyogianya mesti didasarkan dari dan untuk kesadaran hidmat serta syukur selaiknya makhluk di hadapan Sang Khalik. Bukan lepas dari spirit dan nilai-nilai ubudiyah. Apalagi terdistorsi oleh letupan egoisme, hipokritisme, hedonisme, riyak, congkak, angkuh, atau abai terhadap pelbagai perintah luhurNya. Allah SWT tidak butuh kita. Allah Mahakuasa dengan DiriNya sendiri. Ibadah kita pun tidak untuk Allah. Ibadah yang kita lakukan sejatinya dari dan untuk kita sendiri. Ketika kita rajin dan optimal beribadah, atau sebaliknya, malas dan tidak peduli sejenak pun, sungguh tidak akan pernah mempengaruhi eksistensi Allah SWT.
Taat, patuh, pasrah, merupakan fitrah (ke)hamba(an). Apalagi sangat terang bahwa tak ada satu pun potensi, prestasi, tenaga, dan kemampuan yang kita miliki murni berasal dan milik diri sendiri. Semua berkah kekuatan dan kasih sayang yang dialirkan dengan sangat gratis oleh Allah SWT dalam setiap ruang maupun waktu yang tersedia. Sekali lagi, sebagai hamba tidak ada yang kita miliki dalam kehidupan ini selain “doa” dan “nama badaniyah.” Atau, jangan-jangan doa yang kita panjatkan pun sejatinya karena getar cahaya yang Allah SWT curahkan tanpa disadari mengalir ke lubuk hati dan meresap lewat pori-pori serta desah napas kita. Ini realita ubudiyah dan makhlukiyah. Tak terbantahkan.
Memaknai Puasa
Sebagai hamba yang baik dan tercerahkan, tentu mempunyai cara memaknai puasa dengan jernih pula. Dalam Alquran Allah sudah menuliskan bahwa puasa ini diwajibkan bukan hanya sekarang, melainkan juga telah dianut umat-umat terdahulu. Umat pada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya. Tujuan luhurnya jelas, agar menjadi medium peningkatan kualitas ketakwaan (QS. Al-Baqarah : 183). Sedangkan ketakwaan, diakui atau tidak, sesungguhnya aktualisasi dari sikap syukur, internalisasi komitmen ketaatan, kepatuhan, dan kepasrahan kepadaNya tanpa batas. Kualitas kemanusiaan dan kehambaan, seperti telah dimafhumi seluruh umat manusia, menjadi rujukan atas kualitas ketakwaan jua.
Memaknai puasa hanya semata menahan haus dan lapar, tentu masih kategori puasa “badani.” Puasa kelas “ekonomi,” bukan kelas “bisnis” apalagi kelas “eksekutif.” Atau, meminjam istilah Imam al-Ghazali, mungkin itu serupa puasa biasa-biasa saja. Puasanya kalangan awam, puasa umat yang masih normatif. Belum begitu substantif. Bukan puasa khawas, bahkan belum masuk puasa khawasul khawas. Belum bisa diposisikan telah mencerminkan sisi yang sangat esensial (batini) dari pada puasa. Namun demikian, tetap hal yang positif dan maslahat dalam perspektif kehambaan. Mesti terus dikuatkan, disehatkan, dioptimalkan dan ditransformasikan.
Apalagi sebagai hamba, tugas kita hanya menjalani perintahNya untuk berpuasa sesuai dengan potensi dan kapasitas diri yang obyektif. Selebihnya, biarkan Allah SWT yang menilai dan memberkahi seluruh proses ikhtiari yang kita lakukan sebagaimana diri ini adalah hambaNya. Kita tak patut gusar, kurang baik gelisah, tidak etis kalau putus asa dan lemah harapan. Allah SWT sudah berulangkali menyerukan bahwa sekecil apa pun yang kita lakukan demi ubudiyah kepadaNya, Dia sungguh mempunyai otoritas menilai dan mengelolanya. Karena berputus asa atas kasih dan rahmat Allah SWT, hanya akan menggiring kita ke arah kekufuran.
Memaknai puasa Ramadan, minimal untuk dua jalur yang teramat luhur. Pertama, jalur kehambaan. Puasa merupakan ruang muhasabah bagi setiap hamba untuk membuktikan totalitas ketaatan, kepatuhan, dan kepasrahan. Bahwa waktu puasa hanya satu bulan, Allah SWT hendak menguji kesetiaan, loyalitas, dan kepatuhan etik keimanan tiap manusia, dimana selama sebelas bulan sebelumnya menjadi bagian evaluasiNya. Bagi yang tulus-optimal, akan mendapatkan “piala ilahiah,” yakni energi dan cahaya Lailatul QadarNya. Kedua, jalur kemanusiaan. Siapa saja menunaikan puasa dengan maksimal dari aspek lahir dan batini, ia akan meraih predikat manusia beruntung. Setiap amal yang ditunaikan dijamin dilipatgandakan sesuai otoritas Allah SWT di dunia maupun di akhirat kelak.
Hamba Terkasih
Dua jalur di atas, akan mengantarkan manusia cepat peka ber-muhasabah (introspeksi) diri untuk menuju ke taraf “’ibadurrahman.” Yakni hamba Allah terkasih, yang matang secara imani, mentalitas, moralitas, dan etika dalam kehambaan. Hamba yang mampu mengedukasi dirinya terkait hal-hal kurang pas, tidak produktif, dan jauh dari kemaslahatan di hadapan sesama lebih-lebih dalam pandangan Allah SWT. Hamba yang cermat menghindarkan diri dari berbagai tindakan yang kurang senapas dengan spiritualisasi kolektifitas berkehambaan, kebangsaan dan kenegaraan. Hamba yang tanpa kenal batas terus menjunjung tinggi komitmen simpatisme dan empatisme. Sehingga kelak menjadi poros harmonisasi religius-integralistik. Ini salah satu ciri hamba terkasih (‘ibadurrahman).
“’Ibadurrahman” adalah mereka yang senantiasa berjalan di muka bumi dengan rendah hati, menjauhi kecongkakan, kesombongan, egoisme, hipokritisme, hedonisme, dan lari dari sentimen parsialisme. Dalam bahasa yang lebih gamblang, hamba terkasih atau “’ibadurrahman” bukan saja meneduhkan, melainkan selalu memberikan hembusan potensi inspiratif sepanjang berkehidupan. Meminjam narasinya sebagian filosof dan penganut sufisme, “mereka adalah hamba-hamba yang membawakan dirinya penuh kematangan dan kerendahan hati, kedewasaan iman dan kearifan pengetahuan.” Bahkan, kata Alquran, mereka akan selalu memberikan ucapan hangat dan menyejukkan (salam) bilamana ada orang-orang bodoh menyapa dan menghinanya (QS. Al-Furqon : 63).
Dalam perspektif “’ibadurrahman” (hamba terkasih), puasa Ramadan merupakan madrasah ruhaniah, pembakaran lemak-lemak badani, duniawiyah, dan mentalitas negatif-kontradiktif kehambaan. Bulan medium muhasabah atau introspeksi kedirian sebagai makhluk sekaligus hambaNya. Sehingga ia bisa mengukur dan mampu menstabilisasi tarikan obsesi destruktif yang melingkupi dirinya, baik berkait pola pemikiran, corak dan tipologi interaksional yang terlihat kurang “menyehatkan” dan tidak “menjernihkan” dalam berkehidupan. Termasuk aktifitas-aktifitas yang mungkin terlalu kental dengan manipulasi, eksploitasi, dan hegemonisasi yang terjauhkan dari nilai rububiyah dan humanisme-religius.
Atasnama kehambaan, mari berhitung ulang selama puasa Ramadan, sejauh mana amaliah (ubudiyah) dimanifestasikan, kepedulian berbasis imani dan religiusitas ditransformasikan. Seberapa peka dan tulus memompa, mengalirkan, serta memastikan “kehangatan” bersama umat yang terkategori kurang “berada” secara ekonomi atau keterbatasan sosial lain? Ataukah masih banyak diantara perilaku sosial kita terjebak kesadaran parsialistik dan sentimentalitas oportunistik? Padahal Rasulullah Saw bersabda, “siapa saja tidak mencintai sesama sama seperti mencintai dirinya sendiri, ia tidak termasuk golongan yang beriman.” Terlebih lagi Ramadan merupakan bulan kebersamaan menuju kemenangan imani dan spiritualitas. Terus muhasabah, agar tidak keliru dalam melangkah. (*/E1)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20240804_Masmuni-Mahatma.jpg)