Opini
Literasi Ramadan
Ramadan tentu bukan sekadar bulan ampunan dan makbulnya seluruh dzikir dan doa-doa tiap-tiap makhluk Allah SWT. Jauh di balik itu, Ramadan ...
Oleh: Masmuni Mahatma, Kakanwil Kemenag Prov. Kep. Bangka Belitung
MENYAMBUT hadirnya bulan Ramadan dengan gembira, pahalanya adalah surga. Apalagi kalau memenuhi semua hal yang menjadi napas Ramadan baik sebagai makhluk sosial yang mesti berbagi dengan sesama maupun laiknya hamba yang tunduk pasrah mengoptimalkan perintah Allah SWT. Terlebih lantaran kita diciptakan oleh Allah SWT dan diberikan keleluasan di muka bumi ini tiada lain untuk menyembah total dan mengabdi kepadaNya tanpa henti (QS. Az-Zariyat : 56). Di sini kewajiban kita selaku makhluk benar-benar dipatenkan dan dilekatkan Allah SWT. Mengabaikan ketetapan ini, berarti kita dikategorikan hendak “berkonflik” dengan Sang Khaliq.
Ramadan tentu bukan sekadar bulan ampunan dan makbulnya seluruh dzikir dan doa-doa tiap-tiap makhluk Allah SWT. Jauh di balik itu, Ramadan merupakan ruang meditatif-introspektif (muhasabah) imani. Ini momentum seluruh mahklukNya berbasis keimanan untuk lebih mudah menyelami diri, menguras kotoran-kotoran badan dan jiwa, menjernihkan spiritualitas dan melenturkan “tegangan” sosial kehambaan diantara sesama. Dari Ramadan, kita patut banyak mengedukasi diri sendiri. Dari dan untuk Ramadan pula seyogianya masing-masing individu beragama (Islam) mesti segera mencuci lumut-lumut religiusitas dan rohaniah yang sebelas bulan sebelumnya (mungkin) dirasa kurang baik direalisasikan.
Apapun perspektif imani yang dicanangkan, bulan Ramadan senantiasa menjadi harapan surqawiyah umat beriman (Islam). Meski 1 bulan dan apakah berjumlah hanya 28, 29 atau 30 hari, Ramadan akan ikut menentukan kualitas kehambaan kita hingga hari kiamat. Terutama bagi hamba-hamba salih yang nyata bersentuh jumpa dengan lailatul qadr, bulan yang secara kualitatif-esensialistik lebih baik dari seribu bulan dalam lintasan waktu manusia. Bulan yang berhias cahaya ilahiah dan lentera rabbaniyah. Bulan yang sungguh membawa miliaran bahkan triliunan kebajikan dan barokah terhadap makhluk Allah SWT yang beriman (Islam) dalam konteks sosial kehidupan duniawiyah sekaligus ukhrawiyah. Sebagian umat juga menyebutnya dengan “bulan keramat” atau “bulan jimat.”
Menghiasi Ramadan
Sedemikian agungnya bulan Ramadan, tidak ada alasan sedikit pun menyia-siakan kehadirannya. Ia harus dijemput, dirangkul, dipeluk, dan dimaksimalkan makna, nilai-nilai, spirit dan barokah serta keistimewaannya. Sekali kita lengah atau abai memaksimalkan hal-hal esensial Ramadan ini, akibatnya bisa cukup merugikan baik dalam pandangan kemanusiaan, kehambaan, maupun kekhalifahan. Bahkan bisa jadi melahirkan penyesalan tersendiri dalam diri mereka yang kurang peka dan acuh tak acuh terhadap kehadirannya. Dan kerugian ini bisa berdampak di dunia sekaligus di akhirat kelak. Kerugian yang benar-benar dapat mempengaruhi kematangan imani, kualitas ketakwaan, dan produktifitas religius di hadapan sesama.
Dalam rangka menghiasi bulan puasa seoptimal dan seindah mungkin, diperlukan gerakan literasi Ramadan yang tertata dan terarah. Literasi ini tidak semata menyangkut pengetahun tentang definisi, maksud, tujuan, orientasi, dan makna-makna Ramadan dalam konteks fikih (syariat). Tataran literatif-definitif sudah termafhumi di kalangan umat beragam Islam. Bahkan saking familiarnya, apa dan bagaimana Ramadan sebagaimana pengertian sehari-hari, sungguh telah dikenal baik oleh mayoritas umat Islam. Apalagi di era dimana media sosial seperti Face Book (FB), Twitter, Instagram (IG), Youtube, Tik Tok, seringkali menyediakan layanan mengenai pembahasan berbagai hal termasuk puasa Ramadan dengan kelebihan dan kelemahannya. Sehingga literasi Ramadan tidak sulit untuk dicerna dan dikembangkan.
Literasi Ramadan yang lebih substansial tentu akan menambah khazanah religiusitas cukup prospektif dan produktif dari dan untuk integrasi kehambaan. Bahwa Ramadan adalah bulan Alquran, sama sekali tidak bisa dibantah. Sebab pada bulan ini Alquran, Kitab Suci umat Islam diturunkan dengan seluruh rahasia, pijaran cahaya dan kedahsyatan esensial ayat-ayatnya. Dari sini secara literatif sebagian besar umat berlomba-lomba memperbanyak mengaji dan menghatamkan Alquran. Ini baik, mulia. Ini pasti pahalanya melimpah. Akan tetapi, sebagai Kitab Allah, jika berbondong-bondong belajar menuliskan ayat-ayat Alquran juga sama-sama mulianya. Karena ayat-ayat Alquran adalah ilmu sekaligus “senjata.”
Memadukan kesungguhan membaca, menghapal, dengan mengunyah makna-makna dan belajar menuliskan ayat-ayatnya juga merupakan ibadah luhur di hadapan Allah SWT. Apalagi menghiasi Ramadan dengan penulisan ayat-ayat Alquran akan menjadi “energi” dan “parfum” baru dalam interkoneksi keimanan dan ketakwaan. Wabilkhusus secara literatif, diakui atau tidak, cukup banyak umat Islam hanya bisa membaca namun masih sedikit kesulitan ketika menuliskan ayat-ayat Alquran itu sendiri. Padahal membaca dan menulis, jika bersandar pada ajaran Alquran juga merupakan perintah Allah SWT yang tidak bisa diabaikan. Ketika membaca ayat-ayat, maka lidah dan suara kita beribadah. Manakala menuliskan ayat-ayat Alquran, jemari, tangan, dan mata pun ikut menyembahNya.
Mengedukasi Lansia
Salah satu hal yang patut diwujudkan dalam rangka penguatan literatif-quranik, seperti yang hendak digerakkan Kementerian Agama Kep. Bangka Belitung waktu dekat ini adalah mengajari dan mengedukasi umat lanjut usia (Lansia) dalam penulisan ayat-ayat Alquran. Dibilang inovasi atau kreasi menghiasi Ramadan 1446 H/2025, tentu boleh dan wajar. Dianggap biasa-biasa saja juga silahkan. Tapi kalau sampai dibilang kurang bermakna, sepertinya tidak etis. Ini adalah rangkaian “ibadah” di bulan Ramadan. Ini proses pembekalan religiusitas dan imani berbasis Kitab Suci yang tidak boleh dipandang remeh. Terlebih bagi mereka yang tergolong lanjut usia (Lansia), dimana sebagian diantaranya hampir kehilangan “ghirah” belajar dan menempa diri dari dan untuk kemaslahatan quranik.
Tahap awal, peserta dari kalangan umat lanjut usia (Lansia) akan dibatasi di wilayah Kota Pangkalpinang dan sekitar dekatnya dulu. Disamping secara jarak cukup terjangkau, pendataan dan mobilisasi pun tidak terlalu sulit. Ini menjadi pertimbangan rasional-etik. Ini juga langkah taktis yang telah dicermati maslahat dan mudharatnya, positif dan negatifnya. Termasuk risiko-risiko sosial lain. Karena mendampingi Lansia tidak pernah ringan dan mudah. Selalu membutuhkan kesiapan, kesigapan, dan kesanggup-tulusan merealisasikan hal-hal administratif maupun substansialistik. Dunia Lansia, tentu saja mempunyai perbedaan dengan ruang di luar dirinya, baik secara psikologis, psikis, religius, spiritual, dan obsesionalitasnya. Di sini mesti hati-hati dan obyektif. Bukan sekadar mesti berbekal pengetahuan, melainkan juga kesabaran.
Melalui gerakan edukasi Lansia dalam tulis menulis ayat-ayat Alquran, yang akan diraih bukan semata nilai ibadah, melainkan spirit dan jihad (ber)pengetahuan. Setidaknya pengetahuan melatih jemari dan tangan beribadah melalui penulisan ayat-ayat Allah SWT. Pelan tapi pasti, umat Lansia akan menyadari bahwa selama mau dan bertekad membenahi serta membekali diri, tidak ada kata terlambat untuk mencari ilmu. Rasulullah Saw. jauh-jauh hari menyerukan bahwa kewajiban mencari ilmu harus dimulai sejak dari buaian hingga lubang kepasrahan kelak. Ini salah satu gerakan edukatif demi mengalirkan pencerahan dan kematangan meyakini serta menginternalisasi kemukjizatan Alquran. Siapa tahu kelak di Hari Pertanggungjawaban, huruf-huruf dalam ayat-ayat yang dituliskan kembali ini ikut meringankan “beban” di hadapan Allah SWT.
Dus, kalau selama ini bulan Ramadan sering disemarakkan dengan bagi-bagi takjil, buka puasa, tadarusan, menyantuni anak yatim, tarawih bersama, dan lain-lain, adalah hal yang lumrah. Harus terus dilestarikan. Akan tetapi, jika diiringi lagi dengan gerakan mengedukasi umat Lansia dalam penulisan ayat-ayat Alquran, disadari atau tidak, akan menambah khazanah literatif Ramadan dan kemukjizatan Alquran. Minimal, ikut partisipasi menyalurkan ilmu dan kematangan kecintaan terhadap Kitab Suci nan Agung. Selebihnya benar-benar telah mendistribusikan amanah Allah SWT dimana tiap-tiap diri dari kalangan umat, khususnya mereka yang tergolong Lansia, pelan tapi pasti akan menyelami bahwa huruf-huruf di dalam Alquran adalah obat (syifa) dan cahaya (al-nur) kehidupan berkehambaan. Bismillah! (*/E1)
| Dunia Kembali ke Nuklir, Indonesia Menapaki Jalan PLTN Pertama |
|
|---|
| Menuju Kedaulatan Energi: Siapa Memimpin, Siapa Menonton? |
|
|---|
| Klausula Choice of Law: Antara Kepastian Hukum dan Potensi Ketidakadilan dalam Kontrak Internasional |
|
|---|
| Indonesia Dalam Priority Watch List: Peringatan Serius Bagi Perlindungan Haki |
|
|---|
| Tambang llegal, Alam Hancur, Negara Absen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)