advertorial
“Pentingnya” Sebuah Pengakuan Sosial
Oleh: Muhamad Nurdin, M.S.I Beberapa waktu lalu Rosua dan temannya mengikuti lomba lari 10
Tayang:
Penulis: Iklan Bangkapos |
Oleh: Muhamad Nurdin, M.S.I
BEBERAPA waktu lalu Rosua dan temannya mengikuti lomba lari 10 kilometer yang diadakan oleh pemerintah lokal. Mereka cukup antusias mengikuti lomba ini, meskipun pada dasarnya bukan seorang olahragawan atau yang sering berolahraga.
Beberapa hari sebelum lomba, mereka juga mengabarkan informasi tentang lomba yang diikuti ke berbagai pihak dengan harapan banyak yang ikut.
Tak lupa mereka membeli peralatan untuk mendukung aktivitasnya seperti sepatu, baju dan lain sebagainya. Mereka juga mendatangi tempat pijat refleksi malam sebelum perlombaan guna meyegarkan tubuh.
Tiba waktunya hari yang ditunggu-tunggu, mereka mengaku antusias dan tidak bisa tidur menunggu kegiatan. Pagi-pagi, sekitar pukul 05.00 WIB, mereka langsung menuju titik kumpul peserta.
Dinginnya waktu subuh bukan penghalang bagi mereka meskipun harus menempuh jarak sekitar 10 kolometer dari tempat tinggal mereka dengan mengunakan sepeda motor.
Setelah tiba di lokasi perkumpulan peserta, ternyata sudah riuh dipenuhi ratusan peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari remaja hingga orang-orang dewasa.
Cukup sulit mengenali satu persatu peserta karena lampu penerangan tidak menjangkau titik-titik kumpul peserta, tetapi semangat mereka untuk mengikuti lomba lari tidak bisa diabaikan.
Menurut panitia lomba, kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Tetapi beberapa tahun lalu mereka tiadakan karena pandemi covid 19.
Mereka menilai antusias peserta setiap tahunnya terus meningkat, baik itu dari jumlah peserta hingga hadiah yang ditawarkan.
Tahun 2022 menjadi titik balik kegiatan ini setelah pandemi covid-19 dengan tujuan menjaring atlit-atlit yang kompeten dibidangnya dan mengajak masyarakat berolahraga.
Alhasil ribuan peserta mendaftar dalam lomba ini yang terbagi dalam kategori pelajar, umum hingga TNI juga Polri.
Panitiapun menyiapkan sekitar 600 medali untuk peserta dan hadiah uang tunai untuk pelari tercepat.
“Saya tidak dapat medali apalagi juara tidak apa-apa, yang penting ikut memeriahkan dan dapat sehatnya” kata Rosua menyebutkan
“Apakah semuanya sudah siap” kata panitia menyerukan
“Siap” jawab peserta dengan riuh dan kompak
“Kita berdoa dalam hati masing-masing sebelum dimulai,” kata panitia
“lima, empat, tiga, dua satu, go,” sambil mengangkat bendera seorang pejabat pemerintah setempat membuka lomba lari sekitar pukul 06.00 WIB.
Tidak sampai pukul 07.00 WIB beberapa peserta sudah sampai digaris finish dan mereka disambut antusias panitia dengan berfoto dan mengalungkan medali.
Di perjalanan, Rosua dan temannya terpisah karena kelelahan dan ritme lari yang terus melemah.
Iapun harus puas dengan sampai garis finish tanpa membawa medali. Sedangkan temannya cukup beruntung bisa membawa medali meskipun tidak juara.
Usai lari sambil istirahat, keduanyapun berkisah tentang pencapaian yang dicapai dalam lomba tersebut.
Mereka hanya tidak percaya bisa sampai digaris finish dengan jarak lari 10 kilometer, apalagi baru pertama kali mengikuti perlombaan.
“Ternyata kita sampai juga ya finish, dan masih banyak orang-orang dibelakang kita larinya,” ungkap Rosua sambil menarik nafas dengan keringat bercucuran
Setelah istirahat mengumpulkan tenaga, mereka melanjutkan perjalanan menuju parkir kendaran untuk pulang ke rumah.
Dalam perjalananpun mereka tak henti berkisah sambil sesekali mentertawai apa yang mereka lakukan.
Tiba waktunya Rosua mengutarakan ingin meminjam medali dari temannya karena ingin memberi kejutan ke teman-teman di tempat ia bekerja.
Alasanya sederhanya, ia ingin membuktikan ke teman-temannya bahwa dirinya mendapatkan medali dari lomba tersebut dan teman-temannya akan mentraktir dari apa yang telah dicapainya.
Hingga beberapa pekan, medali itu tidak dikembalikan ke pemiliknya dan Rosua tidak berbicara apapun mengenai hal tersebut.
Pernah sesekali temannya bertanya tentang medali yang dipinjamkannya, jawabannya selalu sama.
“Saya lupa, ingatkan saya ya, nanti saya akan mengembalikannya,” sebut Firman
Perasaan Ingin Diakui
Ternyata hampir setiap orang ingin keberadaanya diakui oleh orang lain. Misalnya dalam media sosial orang-orang cendrung senang berbagi kegiatan, aktivitasnya atau bahkan cerita hidupnya.
Secara tidak langsung hal demikian membuktikan seseorang ingin diperhatikan kehidupannya.
Keinginan agar diakui tersebut ternyata tidak hanya berlaku bagi seseorang, tetapi juga kelompok, etnis, organisasi bahkan sebuah bangsa.
Sedemikian penting pengakuan orang lain, sehingga setiap orang harus berjuang agar dirinya dianggap ada dan diakui.
Pada tataran pribadi misalnya untuk mendapat pengakuan dan dihormati, maka seseorang berusaha untuk meraih sesuatu yang dihargai dan dianggap bernilai tinggi.
Selain itu, orang juga menganggap bahwa jabatan, keturunan, kedekatan dengan penguasa, harta melimpah dan hubungan dengan pihak-pihak tertentu dianggap akan melahirkan pengakuan dan penhormatan maka orang tidak segan mengejar sumber penghormatan tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari penhormatan dan pengakuan menjadi hal yang amat penting bagi kebanyakan orang, kelompok bahkan suatu bangsa.
Cukup mudah mendengar atau mengetahui betapa seseorang merasa tersinggung dan kemudian marah, hanya disebabkan oleh sesuatu yang sederhana.
Misalnya dalam suatu pertemuan, seseorang tidak diberi tempat duduk sebagaimana mestinya.
Selain itu menyebut juga menempatkan seseorang dalam pertemuan tidak boleh keliru.
Itulah sebabnya, dalam ceramah atau pidato, pembicara sebelum memulai ceramahnya menyebut nama-nama orang yang dianggap penting, lengkap dengan jabatannya masing-masing, sekalipun dengan cara itu hingga memerlukan waktu yang sangat panjang.
Tidak hanya hal demikian, terkait dengan cara agar diakui dan juga dihormati, seseorang sengaja mengenakan pakaian, simbol-simbol, baik berkaitan dengan jabatan, pangkat, penghargaan, dan lainnya.
Semua itu maksud sebenarnya adalah sederhana, agar keberadaan dirinya merasa diakui dan dihormati.
Dalam pergaulan antar sesama, pengakuan dan penghormatan ternyata menjadi sesuatu yang amat penting, sehingga tidak boleh diabaikan begitu saja.
Seseorang yang merasa diakui, cendrung lebih semangat dan kepercayaan dirinya tumbuh.
Sebaliknya orang yang selalu dicela, dimarahi, dianggap melakukan banyak kesalahan dan kekurangan, maka selain yang bersangkutan akan marah, juga semangat dan kepercayaan dirinya akan hilang bahkan bermental minder atau rendah diri.
Pengakuan Sosial Dianggap Berdampak Positif
Pengakuan sosial adalah teori psikologis yang memprediksi guna merujuk pada kinerja yang baik dari tugas seseorang atau karakteristik positif, akan meningkatkan kinerja mereka dalam suatu kelompok. Ini juga akan meningkatkan harga diri, motivasi dan komitmen pada kelompoknya.
Di beberapa kesempatan, teori pengakuan sosial telah diuji dalam berbagai skenario dan berbagai disiplin ilmu, terutama psikologi sosial dan organisasi.
Saat ini, pengakuan sosial dianggap salah satu kunci mendasar untuk mencapai kinerja yang lebih besar dalam perusahaan, karena itu dianggap penting dalam bidang-bidang seperti manajemen bakat atau pelatihan bisnis.
Pengakuan menurut para peneliti terbagi dua, yakni pengakuan oleh perbedaan dan pengakuan oleh kepatuhan.
Dari kedua pengakuan tersebut, pengakuan untuk konformitas adalah yang paling mendasar dan yang paling dieksplorasi oleh ilmu sosial.
Menurut psikologi evolusi, kebutuhan ini berasal dari masa gua-gua, ketika nenek moyang manusia tidak dapat bertahan hidup dalam kesendirian dan membutuhkan suku mereka untuk berkembang.
Oleh karena itu, para pria prasejarah yang tidak merasakan kebutuhan untuk pengakuan oleh konformitas tidak bertahan, dan tidak meninggalkan keturunan.
Saat ini pengakuan sosial telah dikaitkan dengan banyak elemen positif, dan diketahui memiliki banyak implikasi bermanfaat bagi kesehatan mental dan fisik.
Mungkin efek paling menarik yang dimiliki pengakuan sosial adalah mood menjadi lebih baik.
Berkat pelepasan neurotransmiter di otak, perasaan diterima dan dipuji atas pencapaian yang didapatkan oleh orang lain meningkatkan kebahagiaan dan harga diri.
Dalam kehidupan pribadi, pengakuan sosial memainkan peran penting. Studi menunjukkan bahwa orang yang memiliki lebih banyak pengakuan sepanjang hidup mereka menunjukkan kebahagiaan yang lebih besar secara umum, menikmati kesehatan yang lebih baik, dan bahkan mungkin menjadi lebih berumur panjang.
Cara Mendapat Pengakuan dengan Elegan Agar Tidak Menumpulkan Potensi Diri
Pada hakikatnya hampir setiap manusia membutuhkan pengakuan diri atau butuh diakui oleh orang lain.
Sama halnya dengan Rosua yang ikut lomba lari 10 kilometer tanpa ada persiapan fisik yang memadai dan meminjamkan medali dengan temannya untuk mendapatkan pujian atau bahkan dapat bayaran dari teman-teman sekantornya.
Pada awalnya alasan yang disampaikannya hanya untuk bersenang-senang, tetapi bagi Sebagian orang hal demikian bisa mencelakakan diri sendiri bahkan membuang-buang waktu untuk hal yang produktif.
Dalam agama Islam sebetulnya telah dijelaskan bagaimana setiap mahluk ciptaannya memiliki potensi diri masing-masing.
Hal tersebut dijelaskan dalam (QS. At-Tin), ayat 4 yang artinya, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,”.
Dari ayat ini sebetulnya, setiap individu perlu berusaha untuk membangun potensi diri secara bertahap sesuai dengan karakter agar tujuan hidup dapat tercapai.
Satu di antara strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi diri adalah membangun visi hidup.
Menurut Senge seperti yang ditulis oleh Riski Farani, visi personal datang dari dalam diri seseorang. Beberapa orang mungkin memiliki tujuan hidup tetapi tidak ada visi dalam tujuan hidup tersebut.
Mereka terlalu terfokus pada keinginan agar semua masalah dalam dunia ini segera selesai, misalnya “kita ingin lingkungan bersih”, “kita ingin tingkat kriminalitas menurun” atau “kita ingin sistem pendidikan membaik” tetapi mereka tidak fokus ke cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Kadang mereka hanya fokus pada menghilangkan masalah, bukan menyelesaikan masalah.
Pembangungan visi sejak awal dapat membantu untuk berkomitmen pada usaha yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan.
Dampak positif dari memiliki visi hidup adalah seorang individu memiliki semangat untuk tidak mudah menyerah. Mereka juga menjadi individu yang lebih berkomitmen, berinisiatif, cepat belajar, bertanggungjawab dan memandang kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar.
Membangun visi personal memang tidak mudah, terdapat banyak faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam mengembangkan diri, yaitu: rasa percaya diri, literasi terkait tujuan yang akan dicapai, dukungan keluarga dan lingkungan, akses yang luas untuk mencari informasi, keterampilan untuk mengatur strategi mencapai tujuan dan bekerjasama dalam tim.
Deretan faktor ini menunjukkan bahwa proses pengembangan potensi diri merupakan sebuah proses yang panjang.
Visi merupakan langkah awalnya saja, namun di balik visi hidup, terdapat serangkaian proses lagi yang perlu kita jalani.
Agar dapat memaksimalkan visi diri dalam mengembangkan potensi, kita perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut, pertama, awali langkah kita dengan proses refleksi diri agar kita dapat merenungi makna dan tujuan hidup kita sebagai manusia.
Kedua, kenali kekuatan dan kelemahan diri kita agar kita mudah menyusun strategi untuk mencapai tujuan sesuai dengan karakter diri kita.
Ketiga, bangun prinsip diri agar kita tidak mudah goyah dengan bermacam-macam faktor internal dan ekternal yang mungkin menghambat langkah kita.
Keempat, fokus pada pengembangan diri yang sudah kita susun untuk masa depan. Maafkanlah segala masa lalu yang mungkin pernah menjadi penghalang kemurnian hati.
Kelima, menyelesaikan semua masalah dengan kepala dingin dan rasional yang baik sehingga kita bisa mengambil keputusan dengan tenang.
Langkah dasar tersebut merupakan ikhtiar awal yang dapat menjadi fondasi untuk mendampingi visi dasar hidup kita.
Setelah hati merasa mantap untuk melangkah, kita dapat menyusun beberapa strategi praktis dalam kehidupan sehari-hari, misalnya.
Pertama, manajemen waktu. Buatlah skala prioritas dari setiap kegiatan agar kita mengerjakan sesuatu secara proporsional sesuai dengan amanahnya.
Mengerjakan sesuatu secara berlebihan dapat membuat jadwal hidup tidak seimbang sehingga ada beberapa amanah yang akan terlupakan.
Kedua, banyak belajar hal baru. Pengetahuan terdiri dari bermacam-macam bidang sehingga kita jangan terpaku pada satu bidang saja.
Kita perlu mengembangkan kompetensi di beberapa bidang agar hard skill dan soft skill terasah dengan baik. Misalnya dengan menemukan teman belajar yang positif.
Lingkungan belajar perlu diatur untuk mendukung tujuan kita. Jangan ragu untuk melangkah dari beberapa hubungan yang sekiranya membawa dampak negatif dalam diri.
Kita perlu belajar mengatur kepedulian antara peduli pada diri sendiri dan peduli pada orang lain. Jangan lupa melakukan monitoring diri secara berkala.
Proses pengembangan diri perlu dijaga agar kita tidak berhenti di tengah jalan. Sempatkanlah waktu untuk memonitor kemajuan langkah kita.
Monitoring dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, misalnya membuat catatan harian atau berdiskusi dengan rekan sejawat dan keluarga.
Dasar ini setidaknya bisa menjadi pertimbangan bagi individu yang ingin mengembangkan dirinya.
Apalagi mereka yang cendrung aktif dibidang sosial kemasyarakatan tanpa menghilangkan potensi dalam dirinya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221022-nurdin.jpg)