Breaking News:

Hakim Terheran-heran di Kasus Brigadir J: Luar Biasa, Laporan BAI Berdasarkan Pesanan Sambo

Saat saya datang ke Saguling, Pak Sambo menyampaikan bahwa ada beberapa keterangan yang di LPB itu tidak usah dimasukkan. Kemudian ya saat itu kita...

Tangkap layar kanal YouTube Kompas TV
Mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Ridwan Soplanit, memberikan keterangan dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan Brigadir J di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (29/11/2022). 

Saat saya datang ke Saguling, Pak Sambo menyampaikan bahwa ada beberapa keterangan yang di LPB itu tidak usah dimasukkan. Kemudian ya saat itu kita...

BANGKAPOS.COM -- Hakim kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat  atau Brigadir J soroti kesaksian dari saksi yang mengaku laporan berita acara interogasi ( BAI ) berdasarkan pesanan Ferdy Sambo.

Tak hanya itu, sang hakim juga sampi terheran-heran atas kesaksian dari saksi di sidang kasus kematian Brigadir J di PN Jakarta Selatan, Selasa (29/11/2022).

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan, Wahyu Iman Santosa menyoroti kesaksian Ridwan Soplanit saat di persidangan.

Majelis Hakim bahkan sampai terheran-heran, pasalnya Ridwan Soplanit mengatakan bahwa eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo bisa merubah keterangan di LPB.

Hal ini terungkap setelah Majelis Hakim mencecar Ridwan Soplanit dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

Baca juga: Heboh Suara Azan Berkumandang Tengah Malam Sebelum Subuh, Begini Ternyata Pendapat Ahli

Baca juga: Sosok Briptu Lasminto, Co-Pilot Helikopter Polri yang Jatuh di Belitung Timur, Baru 7 Bulan Menikah

Baca juga: UMP Babel 2023 Naik 7.15 Persen, Ditetapkan Sebesar Rp 3.498.479, Apindo Babel Tunggu Arahan DPN

"Luar biasa sekali ya ini. Perkara pembunuhan, laporan polisi berita acara interogasi dibuat berdasarkan pesanan kronologis pesanan," tegas Majelis Hakim Wahyu dikutip dari Kompas TV.

Dari kesaksian yang diberikan Ridwan Soplanit, Ferdy Sambo sendiri yang meminta beberapa keterangan dihapus.

Tersangka kasus pembunuhan berencana Brigadir J atau Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo dibawa petugas keluar Gedung Jampidum Kejaksaan Agung RI, Jakarta Selatan, Rabu (5/10/2022). Ferdy Sambo keluar dengan mengenakan rompi merah tahanan Kejagung. Sejumlah anggota Brimob Polri berbaju loreng dan bersenjata lengkap melakukan penjagaan secara ketat. TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Tersangka kasus pembunuhan berencana Brigadir J atau Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo dibawa petugas keluar Gedung Jampidum Kejaksaan Agung RI, Jakarta Selatan, Rabu (5/10/2022). Ferdy Sambo keluar dengan mengenakan rompi merah tahanan Kejagung. Sejumlah anggota Brimob Polri berbaju loreng dan bersenjata lengkap melakukan penjagaan secara ketat. TRIBUNNEWS/JEPRIMA (TRIBUNNEWS/JEPRIMA)

"Saat saya datang ke Saguling, Pak Sambo menyampaikan bahwa ada beberapa keterangan yang di LPB itu tidak usah dimasukkan."

"Kemudian ya saat itu kita kurangi, saya lupa (keterangan yang saya kurangi)."

"Kemudian kita sudah lihat bahwa laporannya dan saat itu sudah fix bahwa sesuai dengan apa yang disampaikan lewat kronologis (Putri Candrawathi)," jelas Ridwan Soplanit.

Adapun keterangan yang dikumpulkan Ridwan Soplanit adalah soal dugaan pelecehan yang dilakukan Brigadir J.

Menurut informasi dari Ferdy Sambo, Brigadir J tewas karena tembak-menembak dengan Bharada Richard Eliezer (Bharada E).

Tak hanya itu, lanjut Ridwan Soplanit,  Ferdy Sambo juga menyebut bahwa Brigadir J telah melecehkan Putri Candrawathi.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved