Rabu, 20 Mei 2026

Ramadhan 2023

Apa Itu Sidang Isbat, Sejarah dan Rangkaian Sidang Penetapan Awal Puasa Ramadhan 2023

Sidang isbat digelar setiap tahunnya sesuai Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah.

Tayang:
Editor: fitriadi
Rina Ayu/Tribunnews.com
Ilustrasi: Menteri Agama RI Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menggelar konferensi pers seusai Sidang Isbat penentuan awal Syawal 1440H, di Auditorium HM. Rasjidi, Gedung Kementerian Agama, MH.Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (3/6/2019). Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat penetapan 1 Ramadhan 1444 H/2023 pada Rabu (23/3/2023). 

Selanjutnya dalam rangkaian kedua, yaitu pelaksanaan Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1444 H.

"Sesi ini akan dilaksanakan secara luring setelah Salat Magrib dan tertutup untuk umum," ujarnya.

Selain data hisab, sidang isbat juga akan merujuk pada hasil rukyatul hilal yang akan dilaksanakan pada 123 lokasi di seluruh Indonesia.

"Sesi terakhir adalah telekonferensi pers hasil sidang isbat yang akan disiarkan secara langsung oleh TVRI dan media lainnya," jelas Adib.

Sidang isbat melibatkan Tim Unifikasi Kalender Hijriah Kementerian Agama, duta besar negara sahabat, perwakilan ormas Islam, perwakilan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta undangan lainnya.

Sejarah Sidang Isbat

Dikutip dari Kompas.com, sidang isbat untuk menentukan awal Ramadhan rutin digelar tidak lama setelah Kementerian Agama (dahulu Departemen Agama) didirikan pada 3 Januari 1946.

Tahun 1950 menjadi pertama kalinya Sidang Isbat digelar dengan menghadirkan para ulama untuk penentuan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Departemen Agama kemudian membentuk Badan Hisab Rukyat (BHR) pada 1972 dengan tujuan untuk menyeragamkan pelaksanaan hari raya Islam.

Pemerintah juga menggandeng pakar astronom untuk memberikan pandangan mereka dari sisi ilmu pengetahuan.

Lalu pada tahun 2013, Kemenag mulai mengundang sejumlah duta besar negara sahabat untuk mengikuti sidang isbat mulai 2013.

Di Indonesia, dua organisasi massa Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah seringkali berbeda dalam menentukan awal Ramadhan.

Perbedaan tersebut disebabkan oleh dua metode yang digunakan masing-masing lembaga.

Untuk NU, penentuan awal Ramadan mengacu kepada rukyatul hilal yaitu dengan pengamatan langsung hilal atau bulan baru.

Sementara Muhammadiyah memilih metode wujudul hilal yakni dengan menghitung posisi Bumi terhadap Matahari dan Bulan secara ilmu matematika dan astronomi.

Dalam menetapkan 1 Ramadhan, sidang isbat dilakukan secara musyawarah karena hasil dalam sidang itu merupakan kesepakatan antara masing-masing ormas Islam yang diwakili oleh utusan masing-masing.

Maka dari itu, NU dan Muhammadiyah tidak pernah memaksa masyarakat untuk mengikuti mereka dalam hal penetapan awal Ramadhan serta pada 1 Syawal atau saat Hari Raya Idulfitri. (Bangkapos.com/Fitriadi)

Sumber: bangkapos.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved