Rabu, 20 Mei 2026

Tribunners

Menyoal Tinggalan Arkeologi Kota Kapur

Kota Kapur diperkirakan sudah menjadi pelabuhan penting di pesisir barat Sumatra sebelum berdirinya Sriwijaya

Tayang:
Editor: suhendri
Dok. Anton Kibar
Reruntuhan bangunan Situs Kota Kapur 

- Arca Wisnu III
Kelima; Arca ini berdiri dengan posisi kaki sejajar pada sebuah lapik bujur sangkar. Di bagian bawah lapik tampak menonjol. Agaknya arca ini ditempatkan dengan cara ditanam pada bangunan. Pakaiannya berupa kain panjang yang menutup mulai dari bagian pinggang hingga pergelangan kaki dan di bagian tengah depan terlihat lipitan (wiru).
Sebuah mahkota berbentuk silindris tampak menghiasi kepala arca dan di bagian tengkuk tampak rambut yang menjurai. Perhiasan yang dipakai hanya sepasang hiasan telinga yang berbentuk seperti cincin dalam ukuran besar.
Terlihat dari penggambaran mahkota dan gaya pakaian yang dikenakan dapat dikatakan bahwa arca Wisnu ini dipahat dalam gaya seperti arca-arca Wisnu di Kamboja pada masa seni pre-Angkor. Sesuai dengan periode seni tersebut, maka diduga arca Wisnu dari Kota Kapur ini berasal dari abad ke 6-7 Masehi. Arca berbahan granit dengan tinggi 106 cm disimpan di Balai Arkeologi Palembang.

Arca Wisnu III
Arca Wisnu III (Dok. Anton Kibar)

- Fragmen Kaki
Keenam; Fragmen Kaki berbahan batu dengan tinggi 27 cm. Dari fragmen tersebut tampak arca ini digambarkan berdiri di atas kepala kerbau yang memiliki tanduk. Kepala kerbau tersebut menghadap ke depan dan kedua telapak kaki arca berada di sisi kanan dan kiri kepala kerbau. Tidak ada ciri khusus dari fragmen arca ini yang dapat dijadikan sebagai penanda untuk mengetahui gaya dan pertanggalannya sehingga dalam upaya menempatkan arca pada pertanggalannya didasarkan pada tempat penemuan. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa fragmen tersebut dijumpai di situs yang sama dengan dengan arca Wisnu dari Kota Kapur, diduga fragmen kaki arca ini berasal dari periode yang sama pula, yaitu abad ke 6-7 Masehi.

20230404_Fragmen Kaki
Fragmen Kaki

- Runtuhan bangunan Situs Kota Kapur
Selain Arca Wisnu, ditemukan juga sebuah lingga yang bentuk puncak dan badannya bulat telur, dengan garis tengahnya berukuran sekitar 30 cm. Namun bagian bawah lingga sudah hilang (patah). Adanya lingga yang bentuknya bulat telur dan arca Wisnu dengan bentuk mahkota yang silindris menunjukkan kepada kita bahwa pada sekitar abad ke 5-6 Masehi di Kota Kapur telah ada sekelompok masyarakat yang beragama Hindu yang memuja Siwa atau lingga dan yang memuja Wisnu.

Runtuhan bangunan suci Situs Kota Kapur berdenah bujur sangkar dengan ukuran 560x560 cm dengan tangga naiknya terdapat di sisi utara. Tinggi bangunan yang masih tersisa sekitar 50 cm. Jika melihat bentuk runtuhan bangunannya, diduga bangunan ini merupakan sebuah mandapa, yaitu sebuah bangunan suci yang tidak mempunyai dinding seperti halnya bangunan candi yang ditemukan di Jawa Tengah. Atau, dapat juga bangunan ini berupa sebuah bangunan suci yang bagian atasnya dibuat dari bahan yang mudah rusak (kayu).

- Runtuhan bangunan Kota Kapur
Pada jarak sekitar 50 meter ke arah barat laut dari bangunan pertama, terdapat runtuhan bangunan lain yang ukurannya lebih kecil. Bangunan ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran 260x260 cm dan tinggi yang masih tersisa sekitar 20 cm. Sebagaimana halnya dengan bangunan pertama, bangunan ini juga dibuat dari bahan batu putih dan laterit. Di bagian tengahnya terdapat sebuah batu laterit warna merah yang bentuknya menyerupai sebuah bentuk lingga.

Menuju arah dinding utara dari batu tersebut terdapat susunan batu putih dengan indikator bekas saluran air yang berakhir pada tepi dinding utara. Di bagian bawah saluran ini terdapat sejumlah batu bulat pada tanah yang berlainan warna. Saluran ini difungsikan semacam soma sutra untuk mengalirkan air suci pada saat dilangsungkan upacara penyucian batu bulat tersebut.

Reruntuhan bangunan Situs Kota Kapur
Reruntuhan bangunan Situs Kota Kapur (Dok. Anton Kibar)

Bukti-bukti arkeologis yang telah dipaparkan tersebut merupakan petunjuk bahwa sekurang-kurangnya sejak abad ke 6-7 Masehi di salah satu tempat di Pulau Bangka tinggal sekelompok masyarakat yang telah mengenal pengaruh budaya India dengan indikatornya berupa arca-arca batu dan runtuhan bangunan suci. Secara logika, tidak mungkin tiba-tiba ada pengaruh budaya asing yang masuk ke tempat tersebut tanpa ada daya tariknya.

Data arkeologis yang ditemukan di Situs Kota Kapur dapat memberikan interpretasi bahwa pada sekitar abad ke 5-6 Masehi di Kota Kapur terdapat sebuah kompleks bangunan suci bagi masyarakat penganut ajaran Hindu aliran Waisnawa. Kompleks bangunan tersebut dikelilingi oleh tembok tanah yang panjangnya sekitar 2,5 km dengan ukuran lebar dan tinggi sekitar 4 meter. Tampaknya di beberapa tempat di lingkungan tembok tanah tersebut terdapat hunian kelompok masyarakat pendukung bangunan suci tersebut.

Perbedaan pertanggalan antara prasasti (28 April 686) dan arca (abad ke 5-6 Masehi) dapat dijelaskan bahwa jauh sebelum ditaklukkan oleh Sriwijaya, Kota Kapur telah dihuni kelompok masyarakat yang menganut ajaran Hindu. Mungkin karena tempat tersebut dipandang strategis di tepi Selat Bangka, maka Sriwijaya menaklukkannya terlebih dahulu sebelum menaklukkan tempat lain sebagaimana tersirat pada kalimat: "pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya". (*)

Sumber: bangkapos
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved