Mabrur Itu Pembawa Surga
Moh. Soleh, seorang petugas haji 1444 H/2023 M, menegaskan bahwa (haji) mabrur itu pembawa surga
Tayang:
Penulis: Iklan Bangkapos | Editor: Ardhina Trisila Sakti
IAIN SAS Babel
Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil., M.Ag (Ketua PWNU Babel dan Wakil Rektor II IAIN SAS Kep. Bangka Belitung)
Oleh ; Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I, M. Ag., Wakil Rektor II IAIN SAS Kep. Babel
Moh. Soleh, seorang petugas haji 1444 H/2023 M, menegaskan bahwa (haji) mabrur itu pembawa surga. Inilah makna yang sederhana dan mudah dicerna umat di kalangan bawah. Sebab menjadi pembawa surga, berarti mengaktualisasikan pelbagai hal surgawiyah di hadapan Allah sekaligus sesama hamba.
Surga, tak bisa dimungkiri, merupakan "alam" atau "istana" kedamaian, kebahagiaan, keteduhan, kenikmatan, dan anugerah integral Allah, yang dirindukan tiap hamba sepanjang hidupnya. Tak ada satu hamba pun yang merindukan neraka, tempat penuh siksaan dan balasan Allah atas perilaku buruk tiap hamba. Sebaliknya, surga, adalah istana pahala dan kasih sayang Allah terhadap kebaikan kehambaan selama di dunia.
Untuk itu, surga diidentikkan dengan "alam" atau "istana" terang gemerlapan berbasis kenikmatan yang Allah janjikan. Berbeda dengan neraka, simbol kegelapan yang mencekam sarat siksaan bagi mereka pemintal keburukan, kemunafikan, kefasikan, dan keingkaran kepada Allah selama ini. Menjadi pembawa surga, tiada lain penabur, penanam, dan penyubur kebajikan. Itulah irisan kemabruran. Sebuah aktualisasi kejujuran berkehidupan.
Filosofi Surga
Seorang filosof terkemuka dari Persia, Iran, Mulla Shadra, menegaskan bahwa surga bukan "medium" dan "realitas" irasional. Surga itu rasional, terbuka, realistik, dan sangat konstruktif. Surga ada dalam diri setiap manusia. Sama halnya neraka, juga melekat pada manusia sendiri. "Al-naru fika wa al-Jannatu fika."
Manakala manusia tak pernah abai mewujudkan kebaikan di alam semesta, mereka sungguh telah mengonstruksi surganya. Namun, jika manusia menampakkan dan menularkan keburukan, kejahatan, kefasikan, jelas mereka menyulut neraka dalam konteks kehidupan. Maka surga dan neraka, bukan hal yang berada di luar diri. Itu realistik. Ketika kejahatan kita lakukan, neraka pasti didapatkan. Bilamana kebaikan yang ditransformasikan, nilai-nilai maupun aroma surgawi mengelilingi kita.
Surga, dengan demikian, napas "kehidupan." Neraka, bisa jadi adalah "kematian." Surga itu aktualisasi martabat kedigjayaan, kedamaian, kebahagiaan. Sebaliknya, neraka wujud dari siksaan dan kegelapan berkehidupan. Mabrur dalam konteks haji, tak bisa dimungkiri adalah penabur kemaslahatan. Penanam nilai-nilai dan perilaku sosial kemakhlukan yang agung. Sebagaimana keteladanan Rasulullah Saw.
Terkait eksistensi surga, seperti diajarkan Rasulullah, senantiasa bergantung seberapa komitmen aplikatif tiap diri memaafkan orang lain. Sikap luhur dalam rangka saling menyadari keterbatasan, kelemahan, dan membesarkan jiwa selaiknya hamba yang tak sempurna. Bahkan, perilaku memaafkan itu bagian dari kualitas ketakwaan. Itulah yang ditekankan Allah SWT dalam kitabNya (QS. Al-Imron : 134, Al-A'raf : 199).
Memabrurkan Diri
Memberi maaf atau memaafkan, sangat bernilai surgawi lantaran butuh keterbukaan batini. Bukan semata mengembalikan hak damai pada orang, tetapi "mengurangi" hak dan martabat diri. Ketika menjadi pemaaf yang dewasa, tentu kita dapat menemukan jalur kemabruran diri. Yakni, menjadi pembawa surga yang empatik-paradigmatik dan peka otokritik.
Memabrurkan diri juga berarti siaga menempatkan eksistensi kemakhlukan sebagai solusi sosial berkehambaan. Membuka diri seluas-luasnya terhadap gerak laju kemaslahatan berbasis religiusitas, spiritualitas, humanitas, dan superpradaban. Sehingga pada setiap altar sosial, yang ditancapkan benar-benar surganya Allah. Surga kebenaran, kejujuran, ketulusan, dan kehangatan untuk stabilitas semesta.
Memabrurkan diri, dilihat dari perspektif sufistik, sejatinya adalah meleburkan potensi, napas, jiwa, raga, tenaga dan militansi sepenuh hati untuk kehidupan lebih terang. Dalam istilah lain, menjauhkan diri dari krisis-krisis moralitas yang mendistorsi fitrah kehidupan. Ia bukan saja menghibahkan diri dari dan demi keharmonisan, melainkan mesti memabrurkan diri dari dan untuk keteladanan kekhalifahan di muka bumi (QS. Al-Baqoroh : 30).
Dari filosofi surga(wi) dan pemabruran diri ini, seusai menunaikan ibadah haji, kita mesti menghindari perilaku kebinatangan, kehewanan, dan perusakan saluran sosial kehambaan. Ini amanah primeri eksistensi Ismailistik maupun Muhammadinistik. Amanah yang akan menjadi pertaruhan kontiunitas semesta, bukan sekadar tampilan citra simbolik kehajian, semisal pakai kopiyah putih, gamis klimis, dan lain-lain. Sebab mabrur, sebagaimana kata Moh Soleh, ialah pembawa surga sepanjang hayat.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230121-masmuni-mahatma.jpg)