Tribunners
Galur Tanaman Kopi di Babel Merujuk pada Daerah Sumbagsel
Diketahui bahwa pengembangan kawasan kopi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah dikembangkan kembali pada tahun 2016
Seduhan kopi robusta memiliki cita rasa seperti cokelat, rasa yang lebih pahit, memiliki aroma yang khas, dan warna bervariasi tergantung cara pengolahannya. Bubuk kopi robusta memiliki tekstur yang lebih kasar dibandingkan kopi arabika. Kandungan kafein pada biji mentah kopi robusta lebih tinggi dibandingkan biji mentah kopi arabika, kandungan kafein kopi robusta sekitar 2,2 persen (Prastowo dkk., 2010).
Berdasarkan laporan Statistik Indonesia 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kopi Indonesia mencapai 794,8 ribu ton pada 2022, meningkat sekitar 1,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Sejak tahun 2022, Sumatera Selatan menjadi provinsi penghasil kopi terbesar, yakni 212,4 ribu ton atau 26,72 persen dari total produksi kopi nasional. Selanjutnya Lampung dengan produksi kopi 124,5 ribu ton, Sumatera Utara 87 ribu ton, dan Aceh 75,3 ribu ton. Secara nasional produksi kopi sempat mengalami penurunan ke level terendah pada tahun 2015 sebesar 639,3 ribu ton, kemudian cenderung meningkat sejak tahun 2016-2021 hingga mencapai angka tertinggi pada tahun 2022.
Diketahui bahwa pengembangan kawasan kopi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah dikembangkan kembali pada tahun 2016, sejak secara nasional produksi kopi sempat mengalami penurunan ke level terendah pada tahun 2015. Sejak itu pengembangan kawasan kopi terus didorong termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, salah satunya melalui bantuan benih kopi secara langsung dan gratis kepada kelompok tani. Bantuan benih kopi jenis robusta tersebut berasal dari Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kepulauan Bangka Belitung dan beberapa Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Pulau Bangka.
Berdasarkan data Statistik Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, data luas lahan perkebunan kopi terjadi peningkatan. Pada tahun 2020 diketahui luas lahan komoditas kopi adalah 110,84 hektare, meningkat menjadi 157,34 hektare pada 2021, hingga 2022 menjadi 234,49 hektare. Diharapkan luas lahan tanaman kopi di Bangka Belitung makin meningkat seiring maraknya bisnis warung kopi dan menjamurnya kafe yang menyajikan produk kopi.
Eksplorasi jenis tanaman kopi yang dilakukan di Bangka berhasil menemukan 2 jenis kopi yaitu kopi robusta dan sedikit arabika, yang tersebar di Bangka sebanyak 11 desa, yakni Klaster 1 dari Pulau Besar, Permis, dan Pading, dan Klaster 2 terdiri dari Lampur, Munggu, Petaling, Paku, Puput, Kota Kapur, Melabun, dan Mengkubung (Zasari et al., 2023).
Hasil eksplorasi-karakterisasi mendapatkan sepuluh aksesi kopi robusta lokal Bangka, yaitu aksesi Melabun, Lampur, Munggu, Celuak, Puput, C1, Pading, Petaling Banjar, Mengkubung, dan Paku. Karakter morfologi sepuluh aksesi kopi robusta lokal Bangka tersebut cukup beragam. Karakter morfologi kuantitatif sepuluh aksesi kopi robusta lokal di Bangka memiliki variabilitas genetik dan fenotipe yang sempit. Klaster kopi robusta lokal Bangka terbagi dalam dua grup utama, yaitu Grup I terdiri atas aksesi Melabun, C1, Pading, dan Mengkubung, sementara Grup II terdiri atas aksesi Lampur, Munggu, Petaling Banjar, Paku, Celuak, dan Puput (Altin et al., 2023).
Dari hasil penelitian tersebut tanaman kopi yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, merujuk pada galur yang dikembangkan di Sumatera Bagian Selatan, khususnya dari daerah Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu. Pernyataan ini juga dikuatkan dengan sejarah asal kopi yang masuk ke Pulau Bangka dan Belitung, yaitu berasal dari benih tanaman kopi yang berasal dari wilayah tersebut. Kondisi geografis yang hampir sama juga menguatkan bahwa tanaman kopi robusta yang dikembangkan lebih adaptif terhadap kondisi iklim, dan karakteristik tanah sehingga mampu tumbuh dan berkembang dengan baik, serta lebih tahan serangan hama dan penyakit. Diharapkan pengembangan budi daya tanaman kopi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus ditingkatkan, dengan memanfaatkan aksesi tanaman kopi yang sudah mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan lokal. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230926_Indra-Jaya-Penyuluh-Pertanian.jpg)