Sabtu, 11 April 2026

Tribunners

Galur Tanaman Kopi di Babel Merujuk pada Daerah Sumbagsel

Diketahui bahwa pengembangan kawasan kopi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah dikembangkan kembali pada tahun 2016

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Indra Jaya, S.P. - Penyuluh Pertanian Muda DPKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mahasiswa Magister Ilmu Pertanian Universitas Bangka Belitung 

Oleh: Indra Jaya, S.P. - Penyuluh Pertanian Ahli Muda DPKP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mahasiswa Magister Ilmu Pertanian Universitas Bangka Belitung

KEANEKARAGAMAN genetik kopi dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sehingga filogeografi populasi kopi yang terpisah secara geografis dapat dianalisis (Kinanti, 2018). Keragaman genetik tanaman dapat berubah berdasarkan jarak, waktu, dan ruang. Besarnya keanekaragaman tergantung populasi individu yang ada. Variasi dapat terjadi antara populasi-populasi maupun individu-individu dalam satu populasi atau geografis (Rao dan Hodgkin, 2002).

Kopi robusta salah satu contoh tanaman yang melakukan penyerbukan silang karena penyerbukannya bergantung pada tanaman yang tumbuh di sekitar tanaman kopi. Kopi robusta memiliki pola penyebaran genotip yang beragam dan memiliki berbagai macam karakteristik fenotip (Bambang et al., 2010).

Jenis-jenis kopi di dunia secara umum terbagi menjadi 4 jenis utama, yaitu arabika, robusta, liberica dan excelsa. Sementara itu, jenis-jenis kopi di Indonesia sering dibedakan berdasarkan hasil budi daya dari suatu daerah tertentu (single origin). Jenis-jenis kopi single origin di Indonesia, antara lain, Kopi Gayo, Lampung, Java Preanger, Mandailing, Bali Kintamani, Sidikalang, Papua Wamena, Toraja, Flores Bajawa.

Ada beberapa jenis kopi single origin dari Sumatera Selatan, yaitu Semendo, Dempo, Selangit, Besemah, dan Kisam. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga memiliki jenis kopi single origin seperti kopi asli petaling (Kapling), Belinyu, Jelutung, Lampur, Manggar, dan kopi lada, umumnya berasal dari tanaman kopi jenis robusta.

Menurut sejarah yang dikutip dalam buku perjalanan panjang secangkir kopi, bahwa tanaman kopi konon pertama kali ditemukan pada abad ke 5-6 zaman kerajaan Abisinia, namun perkembangannya begitu lambat. Kemudian dalam tulisan lain menyebutkan tanaman kopi berasal dari Benua Afrika tepatnya di negara Ethiopia. Konon pada abad ke-9, penggembala kambing bernama Kaldi, pertama kali menemukan buah kopi secara tidak sengaja saat sedang menggembala kambing. Kaldi menemukan kopi setelah dia memperhatikan bahwa setelah memakan buah dari pohon tertentu, kambingnya menjadi sangat energik. Berdasarkan kejadian itu kemudian Kaldi memakannya dan merasakan rasa pahit, seolah-olah mendapat tenaga tambahan serta detak jantung yang meningkat.

Sejarah lain mencatat bahwa kopi berasal dari Arab-Yaman pada zaman perdagangan Islam abad ke-15, dan dalam perkembangannya pertama kali tanaman kopi diolah kemudian dikonsumsi pada zaman tersebut. Yaman sejatinya memiliki peran dalam melakukan domestifikasi tanaman kopi. Hal ini dibuktikan dengan pelacakan genetika kopi di luar Yaman dan Ethiopia yang keseluruhannya merujuk pada galur yang dikembangkan di Yaman. Dengan demikian , permasalahan asal kopi dari Ethiopia masih menjadi hal yang patut diteliti dan dipecahkan lebih lanjut secara multidisiplin, yakni dari segi historis maupun ilmu genetika modern (Muh. Taqqiyuddin, et al., 2023).

Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan termasuk dalam komoditas perkebunan yang memiliki banyak fungsi dan nilai ekonomis tinggi sehingga banyak dicari oleh para penikmat dan pencinta kopi di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Kopi adalah minuman yang mengandung kafein dan dapat memberikan berbagai efek positif terhadap fungsi otak, di antaranya memberikan rasa tenang, membantu konsentrasi, meningkatkan kewaspadaan, menurunkan risiko depresi, hingga melawan rasa kantuk.

Berdasarkan beberapa tulisan dan jurnal kesehatan, ada berbagai macam manfaat minum kopi untuk kesehatan tubuh. Manfaat minum kopi bagi kesehatan adalah untuk menjaga kesehatan otak, menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2, menjaga kesehatan lever, mengurangi risiko penyakit parkinson, menjaga kesehatan jantung, menjaga berat badan ideal, dan mengurangi risiko kanker, dengan syarat disajikan secara sehat.

Dalam budaya masyarakat Negeri Serumpun Sebalai, kopi sangat dikenal sebagai minuman harian pelepas penat, minuman hangat saat beraktivitas, dan minuman silaturahmi menyambut tamu di setiap rumah serta minuman saat berkumpul di balai pertemuan. Menurut sejarahnya, tanaman kopi mulai masuk ke Pulau Bangka dan mulai dikembangkan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1851.

Pada saat itu Pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan uji coba penanaman kopi di wilayah kekuasaannya, termasuk di Pulau Bangka. Ternyata tanaman kopi mampu hidup dan produktif, namun hasil produksi kopi di Pulau Bangka masih kalah dengan kawasan Pemerintah Hindia Belanda dan Kerajaan Sriwijaya di wilayah Sumatra lainnya.

Beberapa jenis tanaman kopi sudah pernah ditanam saat itu, pertama kali Pemerintah Hindia Belanda menanam tanaman kopi jenis arabika, namun hasilnya tidak maksimal, kemudian diganti dengan jenis tanaman kopi liberica. Jenis tanaman kopi liberica ini pun masih belum baik perkembangannya sehingga diganti lagi dengan jenis robusta yang lebih cocok ditanam di dataran rendah dan lebih tahan terhadap hama penyakit.

Sejak tanaman kopi masuk ke Pulau Bangka dan Belitung, hingga saat ini tercatat masih ada dua jenis tanaman kopi yang tumbuh dan berkembang, yaitu tanaman kopi jenis robusta dan arabika. Jika dibandingkan kedua jenis tanaman tersebut, yang lebih dominan hingga saat ini adalah jenis robusta. Tanaman kopi jenis robusta masih banyak didudidayakan oleh petani, karena cocok dengan iklim dan lebih tahan hama penyakit. Para petani di Bangka Belitung sebelumnya memperoleh benih kopi secara mandiri dari kawasan Sumatra, yaitu dari Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung.

Menurut Sumardi pemilik Kapling (Kopi Asli Petaling), sejak tahun 2012 telah membudidayakan tanaman kopi jenis robusta yang asal benih diperoleh dari daerah Bengkulu. Benih kopi asal Bengkulu lebih mudah beradaptasi dikarenakan faktor cuaca (panas) di Bangka hampir sama dengan Bengkulu. Dengan membaca peluang bisnis ke depannya, Mardi Kapling mendirikan perkebunan kopi secara mandiri dengan belajar ke berbagai daerah seperti Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya. Sejak itu, Mardi Kapling mengembangkan kopi asal Bangka Belitung dengan belajar ke berbagai daerah dan mempelajari iklim dan tanah di Bangka sehingga menemukan jenis kopi robusta yang cocok dibudidayakan di Bangka.

Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre ex Froehner) adalah jenis kopi yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Kopi robusta memiliki pohon yang dapat tumbuh sampai 5 meter, sedangkan ruas cabangnnya pendek. Batang kopi robusta berkayu, keras, tegak dan memiliki warna putih keabu-abuan.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved