Tribunners
Pembenihan Sistem Soil Block Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Babel
Sistem perbenihan dengan sistem soil block ini bisa dilakukan dengan murah dan ramah lingkungan
Oleh: Indra Jaya, S.P. - Penyuluh Pertanian Ahli Muda Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mahasiswa Magister Ilmu Pertanian Universitas Bangka Belitung
PERTANIAN berkelanjutan atau dikenal dengan istilah sustainable agriculture merupakan sistem pertanian ramah lingkungan yang melibatkan semua aspek, dengan tujuan menghasilkan produk yang sehat dan menguntungkan. Kegiatan pertanian berkelanjutan dimulai dari proses awal kegiatan budi daya pertanian sampai pengolahan pascapanen, pemasaran sampai penjaminan produk yang sehat, mengurangi kerusakan lingkungan, mempertahankan produktivitas pertanian, dan meningkatkan pendapatan petani dengan sistem pertanian ramah lingkungan.
Sistem pertanian ramah lingkungan adalah sistem pengurangan dampak negatif kerusakan lingkungan melalui tindakan yang dilakukan dalam melakukan proses budi daya pertanian sehingga menghasilkan lingkungan yang baik dan produk yang sehat (Mulyani & Firmansyah, 2020).
Sistem pertanian terdahulu dengan penambahan bahan kimia yang berlebihan berupa pupuk kimia, pestisida, dan cara pengolahan tanah yang menyisakan residu kimia maupun sampah plastik, menyebabkan dampak yang besar terhadap perubahan lingkungan sekitar areal pertanian. Lahan pertanian menjadi tidak subur dan sulit untuk dilakukan kegiatan budi daya pertanian selanjutnya sehingga menyebabkan hasil produksi pertanian menurun dan tidak sehat (Sampeliling et al., 2012).
Bagi para petani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, saat ini melakukan budi daya tanaman tidak bisa hanya harus memperhatikan sistem yang ramah lingkungan, tentunya mereka mengharapkan hasil produksi yang maksimal sehingga pada akhirnya harus menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Inilah yang menjadi tantangan bagi para penyuluh pertanian lapangan dan petugas dinas pertanian terkait, serta para petani itu sendiri untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan.
Kenyataan di lapangan terkadang mengharuskan para petani untuk menggunakan sarana produksi pertanian dengan bahan kimia, dan menyisakan sampah plastik. Namun, penggunaan saprodi ini akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan dampak kesehatan bagi konsumen.
Pertanian berkelanjutan sangat cocok dikembangkan pada zaman pertanian modern saat ini, karena mendukung kebijakan pemerintah dalam upaya mewujudkan lingkungan sehat, mengurangi pencemaran lingkungan, mengoptimalkan hasil produksi, dan menghasilkan pangan sehat (Fadlina et al., 2013). Kesadaran untuk melakukan budi daya tanaman secara ramah lingkungan dan aman akan menghasilkan pangan yang sehat dan layak dikonsumsi.
Oleh sebab itu, dengan penerapan sistem pertanian berkelanjutan diharapkan akan menghasilkan lingkungan pertanian yang baik menghasilkan produksi pertanian yang optimal dan produk pangan sehat. Pelaksanaan penyuluhan dan sosialisasi tentang pertanian berkelanjutan, harus terus dilakukan agar dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap para petani dalam melaksanakan sistem budi daya pertanian untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan itu sendiri.
Dalam melakukan budi daya pertanian, banyak sekali proses yang harus dilakukan sampai menghasilkan suatu produk pertanian, mulai dari pembukaan lahan, pengolahan tanah, perbenihan, aspek budi daya, panen dan pascapanen, serta pengolahan produk pertanian sampai ke tangan konsumen. Apabila semua kegiatan budi daya pertanian ini bisa dilakukan dengan sistem ramah lingkungan, tentu akan menguntungkan semua pihak.
Dalam pengolahan lahan dan sistem budi daya, dampak lingkungan akan menguntungkan para pelaku utama yaitu para petani dan keluarganya serta masyarakat di sekitar kebun tempat melakukan budi daya tanaman tersebut. Karena akan menyebabkan dampak terhadap lingkungan sekitar, memengaruhi kesehatan air, tanah dan udara. Dalam pengolahan pascapanen yang aman akan menghasilkan produk pertanian yang aman untuk dikonsumsi.
Para petani khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dalam proses perbenihan biasanya menggunakan wadah plastik atau polybag kecil saat melakukan persemaian tanaman menggunakan biji. Dengan demikian, dengan sistem perbenihan seperti ini kerap kali meninggalkan banyak sampah plastik yang sering mengganggu karena berserakan di lahan perkebunan dan sangat sulit untuk terurai secara alami mengakibatkan tanah menjadi tercemar.
Solusi untuk mengatasi sampah plastik dalam proses perbenihan ini adalah dengan menggunakan sistem perbenihan soil block. Menurut Mardiana E. 2023, soil block merupakan media semai ramah lingkungan dengan pemanfaatan sumber daya yang kurang bernilai (Waste upscales). Soil block merupakan teknologi pemanfaatan limbah organik yang sangat berguna sekaligus tanpa merusak lingkungan kerja (Eco friendly). Dengan sistem plug and play soil block mampu mendorong tingkat efisiensi petani dalam masalah produksi.
Sistem perbenihan dengan sistem soil block ini bisa dilakukan dengan murah dan ramah lingkungan. Dalam aplikasinya, semua penyusun soil block ini merupakan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman, adapun bahan organik penyusun untuk mencetak soil block ini yaitu pupuk kandang, cocopeat, gambut, fosfat alam, dan kapur pertanian. Semua bahan ini digabungkan dan dicetak menggunakan cetakan khusus dengan pengerjaan yang lebih efektif dan efisien. Tanpa menggunakan plastik polybag atau plastik tray sehingga tidak meninggalkan sampah plastik.
Bahan organik penyusun soil block ini akan mendukung menyediakan makanan bagi seedling dan sebagai media tumbuh yang sesuai agar tanaman tumbuh dengan baik. Perakaran akan menjadi kuat dan pada saat memindahkan benih ke lokasi budi daya tanaman, benih yang tumbuh di media soil block ini tidak terganggu dan tidak mudah stres karena cadangan makanan sudah tersedia dalam soil block tersebut.
Mengapa dengan menggunakan perbenihan soil block akar benih tanaman menjadi lebih kuat, menurut Mardiana E. 2023, sistem perakaran terbuka yang tidak terputus sehingga tingkat pengikatan akar pada media tanam lebih kuat. Hal ini mengurangi kemungkinan stres tumbuhan saat pindah ke lahan. Sebagai media atau wadah dan media tumbuh untuk benih transplantasi, pot tanah atau soil block di antara pembatas adalah rongga udara bukan lapisan plastik dikarenakan semua dinding soil block tertekan ke segala arah dalam bentuk kubus yang menyebabkan akar tidak menyeberang ke dinding sebelah sampai batas usia tertentu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230926_Indra-Jaya-Penyuluh-Pertanian.jpg)